37. Kenapa?

1.5K 65 8
                                        

Miki menolak masuk ke dalam rumah, sewaktu kami berjalan di pekarangan dia malah belok ke samping lalu duduk di ayunan besi taman. Cowok itu sengaja duduk memunggungiku. Tau nggak sih, perasaan waktu kita bikin salah ke orang tua dan sadar bakal dimarahi, sekarang ini aku merasa begitu.

Akhirnya aku berjalan lemah menyusul Miki, duduk di depan cowok itu.

"Eka udah cerita ke gue, soal alasan sebenarnya lo bikin grup itu," ujarku soalnya Miki diam saja. "Katanya kalian berdua berantem ya ... uhm gara-gara gue. Tapi kan itu kata Eka, jadi kalau bisa gitu gue mau dengar dari lo langsung."

Miki--sialan emang--cuma menjawab singkat, "Lo udah tau alasannya."

"Enggak ya!" seruku sambil refleks berdiri menunjuk muka Miki, untungnya aku segera sadar dan duduk kembali. "Gue, gini, gue senang sih lo ternyata punya rencana bikin kejutan itu tapi ... yaa jujur aja gue masih nggak ngerti kenapa malam itu marah-marah ke gue. Maksud gue itu, ya lo kan beneran teriak benci gue. Kenapa?"

Miki diam sejenak lalu menoleh ke arah gerbang depan rumahku, entah melihat apa. "Itu," gumamnya, "lo malah mikirin itu ternyata."

"Yaa lo nggak bercanda kan waktu teriak-teriak bilang kalau gue sok ngatur, bossy, terus lo juga serius kan waktu bilang benci gue?" tanyaku. Jujur aja, rasanya masih sakit banget kalau mengingat itu. "Gue jadinya bingung sebenarnya lo sayang sama gue apa malah benci."

"Gue udah bilang kalau gue sayang sama lo, dan gue benci lo," jawab Miki. Mata kami bertemu, tapi rasanya tubuhku tersetrum kuat.

"Maksudnya? Gue nggak ngerti--"

"LO TAU KENAPA GUE BENCI LO FITZNINA!" seru Miki.

Seruan itu keras sekali sampai rasanya ada gema menakutkan di telingaku. Seketika aku terhenyak. Rasanya setengah nyawaku melayang.

Miki marah, pikirku, luar biasa marah.

Cowok itu sepertinya juga kaget karena emosi yang meledak tiba-tiba. Miki tetap menatap lurus padaku. "Kenapa lo nyebarin video itu, Fi?" tanya Miki. "Kenapa?"

Deg! Jantung seakan berhenti berdetak. Miki ... tau? Telingaku berdengung, panas.

"Ma-maksud lo video apa? Kan lo sendiri yang bilang kalau yang nyebarin video itu Nayula--"

"Kapan?" Miki bertanya balik.

"Iya! Malam itu lo bilang--"

"Fi, kenapa lo nyebarin video itu?" potong Miki.

Tubuhku terasa dingin, mati rasa. Sialan, harusnya aku nggak ngasih tau Yanda. Pasti Yanda ngasih tau Miki kan? Aku ... aku tau kok Miki bakal marah kalau akhirnya aku ketahuan, tapi ....

"Mi-ki gue minta maaf--"

Lagi-lagi Miki memotong ucapanku. "Gue nggak peduli soal itu, Fi. Gue pengen lo jujur kenapa lo repot-repot nyebarin video itu. Oke, fine, gue nebak sendiri. Pertama, lo cuma pengen semua orang tau kalau kita berbuat gitu. Lo cuma pengen semua orang tau kalau ada sesuatu di antara kita."

Bahuku lemas.

"Kalau video itu kesebar, Nayula dan Mama jadi tau hubungan kita, pertunangan gue otomatis batal. Ya, lo berhasil, praktis banget ya? Lo secara nggak langsung teriak ke semua orang kalau punya hubungan sama gue. Tapi Fi lo nggak perlu sampai ngelakuin itu kan?" Setelah semua kalimat itu terucap, Miki menarik napas dalam-dalam. "Video itu nggak perlu disebar, karena lo tau Mama bakal berubah pikiran seandainya tau kita saling cinta."

"Tapi ... tapi Tante Citra nggak akan ... ngerestui kita. Gue tau Tante Citra nggak akan ngizinin lo sama gue punya hubungan, Miki--"

"Kenapa lo bisa mikir gitu?"

"Karena Tante Citra nggak ngizinin gue pacaran sama lo! Itu alasan kenapa gue selama ini nggak pernah confess ke elo!"

"Fi," ucap Miki. Suara Miki berubah tenang. "Kita pernah pacaran."

Aku tertunduk, nyaliku seketika ciut. Aku nggak berani memandang Miki. Langit seakan berubah warna lagi, teraduk, seperti isi perutku.

"Gue udah bicara sama Mama. Sekarang gue ngerti kenapa lo nggak mau ketemu Mama. Waktu kita pertama kali jadian, Mama negur lo kan?"

Aku mengangguk lemah. Ingatan berusaha terputar kembali di kepalaku.

"Mama ketemu lo terus bilang kalau dia ngelarang kita pacaran, kan? Makanya waktu itu lo minta putus tapi nggak pernah bilang alasannya apa. Lo kira setelah itu Mama nggak akan pernah ngerestui kita?"

Aku nggak menjawab Miki.

"Fi, maksud Mama bukan gitu. Mama ngelarang kita pacaran sesederhana karena kita masih SMA, oke? Cuma itu alasannya, Fi. Bukan karena Mama nggak suka sama lo--"

"Tapi Tante Citra mau jodohin lo--"

"Gue udah jelasin kalau itu cuma rencana Mama!"

Langit di atas kepala kami berubah menjadi warna merah. Aku sontak berdiri dan menunjuk marah, kecewa pada Miki.

"Tapi lo bilang kalau lo nggak akan nolak rencana Tante Citra kan?! Nggak berani ngasih tau Tante Citra kalau sebenarnya lo nggak mau dijodohin! Lo nggak mau Tante Citra kepikiran dan malah nggak siap operasi jantung gara-gara itu! Tapi lo malah nyuruh gue!" seruku.

Aku jatuh terduduk ke kursi ayunan, cukup keras sampai besi-besinya berbunyi. Akibatnya ayunan itu bergerak pelan, mengayun ke depan dan belakang.

Kami berdua terdiam cukup lama. Seakan tengah menyimak bunyi besi ayunan berderit. Saat ayunan itu akhirnya berhenti, Miki baru bersuara lagi.

"Kenapa lo nyebarin video itu, Fi?"

"Biar Nayula dan Tante Citra tau soal kita," jawabku datar. Aku kembali menunduk, menatap ujung sepatu atau rumput yang ada di bawah pijakan ayunan.

"Bohong," sergah Miki. Rasanya ada ular kecil merambati punggungku. "Gue tau tujuan asli lo, Fi. Lo sengaja upload video itu karena Nayula ngancam bakal bawa masalah di taman kota itu ke jalur hukum. Lo nabrak Nayula, terekam CCTV, dan lo benar-benar nggak mau Mama atau orang tua lo tau soal itu."

Aku nggak membalas ucapan Miki. Mulutku terkunci. Mataku terbuka lebar menatap setitik karat di pijakan ayunan.

"Lo berhasil Fi, Nayula jadi nggak sempat mikir soal itu karena lo sengaja bikin beberapa cuitan di akun fake lain yang nuduh kemungkinan cewek di video itu adalah Nayula. Sebagian orang-orang yang nggak kenal kalian berdua jadi percaya kalau itu Nayula," sambung Miki.

Miki memajukan kaki hingga berada di kanan kiri kakiku, seperti mengurung. Lo nggak bisa lari, Fi.

"Selama lo nggak ada, Nayula sibuk jelasin di medsos dan orang-orang kampus kalau itu bukan dia. Tapi lo nggak berhenti sampai situ. Gue yakin lo sebenarnya lega waktu Nayula balas ngelukain lo cukup parah, Fi. Lo jadi bisa bikin cuitan lagi, buat memperburuk kesan orang-orang terhadap Nayula. Lo berhasil, Mama jadi nggak suka Nayula waktu tau dia ngelukain lo, tanpa tau kalau lo yang pertama ngelukain dia."

Miki tiba-tiba berdiri dan aku langsung tersentak mendongak. Cowok itu menjulang dan kepalanya hampir menyentuh langit-langit ayunan. Miki berekspresi datar, netral, nggak marah tapi juga nggak ada emosi lain.

"Lo nggak perlu ngelakuin semua hal serumit itu, Fi," kata Miki, suaranya tenang dan stabil.

Seandainya ini film yang dibuat Papa, akan ada instrumen pelan di latar belakang. Namun, aku nggak mendengar instrumen musik apa pun. Hanya suara derita ayunan berkarat.

"Gue harus ngelakuin itu," kataku ke Miki. Suaraku sama tenangnya, tapi rasanya aneh sekali. "Biar Mama Papa nggak tau soal gue nabrak Nayula," sambungku, "kalau mereka tau ... gue nggak bisa bayangin bakal dihukum berapa lama."

•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Wkwk sori kemarin Miki salah ketik malah ngomong pakai kamu

Hello, Fifi! 21+ [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang