Jaemin membuka matanya karena terganggu dengan suara yang entah berasal dari mana. Dia mencari sumber suara itu dengan gerakan terbatas karena tidak ingin membangunkan Jeno yang masih betah memeluknya sejak semalam. Sebenarnya bukannya dia tidak berusaha, dia sudah berulang kali menyingkirkan tangan itu tapi tidak butuh waktu lama sampai tubuhnya kembali di peluk, karena merasa usahanya sia-sia jadi dia pasrah saja.
Kembali pada sumber suara yang mengganggu tidurnya, setelah dia mencari selama beberapa saat, dia menemukan kalo suara itu berasal dari ponsel Jeno yang diletakkan di bawah bantal mereka. Ketika dia mematikan alarm itu dia terbelalak saat sadar jam berapa sekarang.
“Orang gila mana yang mengaktifkan alarm pagi buta begini? Apalagi saat akhir pekan.” gumamnya. Setelah mematikan semua alarm di ponsel Jeno, dia kembali melanjutkan tidur.
Saat Jaemin membuka mata untuk yang kedua kalinya pagi ini, Jeno masih betah terlelap. Dalam hati dia bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan pemuda itu sampai bisa tertidur selama itu sampai kemudian dia ingat kalau orang disampingnya itu sedang sakit. Tangannya reflek menyentuh kening Jeno untuk memastikan kondisi pemuda itu.
“Untunglah sudah tidak sepanas kemarin.” gumamnya. Tapi meski begitu dia tahu kondisi Jeno masih jauh dari kata baik. Masih terekam jelas di ingatannya bagaimana semalam Jeno tiba-tiba menggigil hebat dan tidak berhenti meski dia sudah merapatkan selimut sampai leher pemuda itu. Dia juga terus menggumam menyebut namanya dan dingin bergantian, hal ini membuat Jaemin mau tidak mau membalas pelukan Jeno demi mengurangi rasa dingin yang Jeno rasakan. Syukurlah apa yang dia lakukan membuahkan hasil karena Jeno berhenti menggigil tidak lama kemudian.
Sedikit yang Jeno tahu kalau saat itu terjadi Jaemin benar-benar dilanda kepanikan dan bingung. Dia belum pernah berada di posisi ini sebelumnya, ditambah Jeno sama sekali tidak mau diajak bekerja sama karena masih menolak saat ia menyarankan untuk menghubungi dokter. Jadi dia hanya melakukan apa saja yang ia bisa termasuk memeluk Jeno meski enggan. Beruntung pagi ini suhu tubuh Jeno sudah menurun meski tidak bisa dibilang normal, tapi kalau pemuda itu terus menolak untuk dirawat, bukan tidak mungkin kondisinya akan kembali memburuk.
“Jeno-ya, bisa bangun sebentar dan beritahu aku password ponselmu?” Jaemin menepuk tangan Jeno yang ada di perutnya berulang kali tapi Jeno hanya menggeliat dan mengeratkan pelukannya, “Hei, aku harus menghubungi seseorang untuk membantu membawakan sarapan dan obat. Kau tidak berpikir aku akan memasak untukmu, kan?”
Mendengar kata sarapan, Jeno menyadari sesuatu dan berbisik di telinga Jaemin.
“Huh?” Jeno mengulang apa yang ia katakan tepat di telinga Jaemin, “Itu password ponselmu?” Jeno mengangguk, “Bodoh sekali.”
Setelah berhasil membuka ponsel Jeno, dia menemukan masalah lain. Dia tidak tahu siapa yang harus dihubungi karena dia tidak mengenal satu pun teman Jeno.
“Apa tidak masalah kalau aku menghubungi Joohyun Noona?” gumamnya. Setelah berpikir selama beberapa saat, dia akhirnya memutuskan untuk menghubungi kakak Jeno itu.
“Halo, Jeno-ya. Ada apa? Tidak biasanya kau meneleponku sepagi ini.”
“Hmm.. Noona, sebenarnya ini aku, Jaemin.”
Jaemin bisa mendengar Joohyun yang kebingungan di seberang sana, “Jaemin? Kenapa kau bersama Jeno sepagi ini?”
“Ceritanya panjang, Noona. Hmm.. sebenarnya aku ingin meminta bantuan.”
“Aku mendengarkan.”
“Noona, sebenarnya Jeno sedang sakit dari semalam dan aku entah bagaimana ditahan di apartemennya. Masalahnya adalah Jeno melarangku menghubungi dokter jadi sampai sekarang dia sama sekali belum minum obat.” papar Jaemin sementara di seberang sana Joohyun masih mendengarkan penjelasan Jaemin, “Jadi bisakah aku minta tolong pada Noona untuk membawakan sarapan untuk Jeno sekaligus obat yang biasa diminum di kondisi seperti ini? Akan lebih bagus kalau Noona bisa membawa dokter kesini.”
“Sudah kuduga dia sedang tidak baik-baik saja.” ujar Joohyun, “Aku akan datang bersama Taesung Oppa nanti untuk membawakan sarapan dan obat. Tapi aku tidak yakin Jeno mau diperiksa oleh dokter jadi untuk yang itu aku tidak bisa melakukannya.”
“Tidak apa-apa, Noona.”
“Sampai kami datang bisakah kau tetap disana untuk menjaga Jeno?”
Mendengar permintaan Joohyun, Jaemin meringis dan melirik pemuda yang masih anteng di sebelahnya. Dalam hati dia berkata, ‘Asal Noona tahu kalau aku memang tidak bisa pergi dari sini meskipun aku sangat ingin.’
“Baik, Noona.”
“Sekarang bisa sebutkan alamat apartemen Jeno?”
Jaemin jelas terheran-heran mendengar pertanyaan itu, jadi dia bertanya untuk memastikan, “Noona bercanda, kan? Tidak mungkin Noona tidak tahu dimana apartemen Jeno.”
“Aku serius, Jaemin. Sejak Jeno datang ke Korea, aku hanya tahu dia tinggal di rumahku. Dia tidak pernah mengatakan apa-apa tentang apartemen miliknya.”
Tidak ingin memperpanjang obrolan dan menunda kedatangan Joohyun, Jaemin akhirnya mengiyakan dengan mengatakan akan mengirim lokasinya nanti lewat pesan setelah itu sambungan mereka terputus.
“Dasar menyusahkan!” gerutu Jaemin sambil lagi-lagi berusaha mengangkat tangan Jeno yang masih melingkar di perutnya, “Sampai kapan kau akan memelukku begini?” serunya tapi tidak mendapat respon yang berarti dari Jeno, “Aku tahu kau sudah bangun.”
“Lalu?” balas Jeno seolah apa yang dikatakan Jaemin tidak ada artinya.
“Lalu lepaskan aku! Apa kau tidak kepanasan?”
“Tidak.”
“Tapi aku iya! Lepas!”
“Bohong. AC menyala, Jaemin. Kau tidak mungkin kepanasan.”
“Bisa saja kalau kau terus menempeliku seperti ini!” Jaemin berhenti menarik tangan Jeno karena semakin dia melakukannya maka semakin erat pelukan Jeno, “Kenapa kau betah sekali memelukku?”
Jaemin merinding saat Jeno menjawab pertanyaannya begitu dekat, hingga hembusan nafasnya yang hangat menerpa lehernya, “Karena aku menyukainya. Kau sangat nyaman dipeluk, kau tahu?”
Setelah mendengar jawaban itu, Jaemin bukan hanya merasa merinding tapi juga sesuatu yang sulit ia deskripsikan. Sesuatu yang membuat jantungnya berdebar dan wajahnya memanas.
Jaemin menahan nafas saat mendengar kekehan pelan Jeno dekat dengan telinganya, “Jantungmu berdetak kencang, Jaemin-ah.”
Sudah cukup! Jaemin tidak bisa lagi membiarkan Jeno bicara atau tubuhnya akan bereaksi berlebihan lagi!
“Berhenti bicara dan lepaskan aku! Aku harus mandi.”
Berbeda dengan tadi, Jeno langsung melepas pelukannya tanpa Jaemin perlu menarik paksa tangannya. Tanpa banyak bicara lagi, Jaemin segera beranjak dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
“Dia menggemaskan sekali.” gumam Jeno melihat Jaemin yang terbirit-birit ke kamar mandi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blackthorn (NoMin)
FanfictionSeperti Dahlia Hitam yang kau lemparkan padaku, kuberikan Salvia Merah padanya. Dengan Yarrow di tangan, aku bertanya, "Apa arti Hyacinth kuning yang kau pegang?" Main Cast : - Lee Jeno, Na Jaemin of NCT Dream Other Cast : Member of NCT, Aespa, Str...
