18.

206 16 15
                                        

I never know the Rose will turn into Yellow Hyacinth in a such a short time..."



















Blackthorn















Chapter 18

















































“Kau terlihat sibuk.” sindir Renjun pada Haechan yang sejak tadi bermain dengan ponselnya sambil sesekali terkekeh kecil.

“Hm? Aku hanya bertukar pesan dengan Jeno.”

Mendengar nama itu disebut, semua orang di meja itu mendadak heboh. Termasuk seseorang yang duduk di paling ujung. Meski tidak heboh seperti teman-temannya, nama itu membuatnya berhenti memainkan makanan di piringnya.

“Kau bisa menghubungi Jeno?!” seru Ryujin yang membuatnya mendapat pukulan dari Yeji, “Apa?!”

Yeji tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memberi isyarat untuk tutup mulut dan lirikan mata ke arah Jaemin. Sebuah isyarat yang langsung dimengerti Ryujin. Dia lantas menutup mulut dan meminta maaf.

“Sudah,” jawab Haechan pelan sambil melihat reaksi Jaemin. Dia sudah kembali pada kegiatan awalnya, memainkan makanan dengan raut datar, “Apa aku belum memberitahu kalian?”

Teman-temannya kompak menggelengkan kepala.

Haechan meringis, “Maaf. Jadi intinya Jeno baik-baik saja. Bibi, maksudku ibunya meminta dia untuk ikut ke pertemuan bisnis di Swiss selama dua minggu, setelah itu dia akan kembali kuliah seperti biasa.” paparnya mematahkan asumsi Hyunjin tentang Jeno yang mungkin pindah universitas.

“Lalu tentang masalah ‘itu’?” bisik Renjun.

Ekspresi Haechan berubah masam, “Sayangnya dia tidak pernah merespon setiap kali aku bertanya tentang itu.”

“Setiap kali? Kau sering tertukar pesan dengannya?”

Haechan mendengus, “Aku sedang berusaha mencari jawaban untuk kalian, jangan melihatku rendah seperti itu, dong!”

“Kali ini langsung laporkan kalau kau dapat sesuatu!” suruh Renjun tegas.

Roger!” jawab Haechan sambil memasang pose hormat, “ Tapi lebih dari itu, Jaemin-ah, jangan hanya dimainkan, makan makananmu!”

Jaemin hanya meliriknya sekilas lalu beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa.

“Apa menurutmu dia mendengar apa yang kita bicarakan?”

Aeri tersenyum palsu, “Dua orang di pojok sana juga pasti akan dengar siapa yang kita bicarakan mengingat teriakan seseorang tadi.”

Ryujin meringis lalu meminta maaf sekali lagi.















































...















































“Jaemin-ah, kami berencana pergi makan sushi, kau mau ikut?” ajak Aeri sore itu setelah kelas mereka selesai.

Jaemin menggelengkan kepala sambil tetap merapikan buku-bukunya.

Blackthorn (NoMin)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang