Besoknya setelah sarapan mereka berkumpul di kolam renang melakukan kegiatan masing-masing. Beberapa sudah turun ke kolam bersenang-senang dengan bermain air. Hanya beberapa karena sebagian dari mereka memilih tetap kering, Jaemin misalnya. Dia lebih memilih duduk di kursi tepi kolam sambil bermain sosial media dengan ponselnya.
Ketenangannya terganggu saat beberapa tetes air mengenai badannya. Dia mendongak dan memberikan tatapan penuh peringatan pada Ryujin yang menurutnya adalah tersangka.
“Bukan aku!” protes gadis itu tidak terima lalu dia menunjuk Minjeong.
Minjeong terbelalak lalu tersenyum hambar, “Ayo turun, Jaemin-ah!”
“Aku tidak suka basah.”
Jeno yang kebetulan mendengar sontak tertawa pelan membuatnya mendapat tatapan bingung dari Minhyung.
“Kau benar-benar tidak seru! Ayo turun!” Minjeong kembali menyipratkan air tapi hanya mengenai kaki Jaemin. Dia takut kena amuk kalau membasahi Jaemin lebih dari itu.
Jaemin menurunkan kaki yang sedari tadi berselonjor nyaman karena kesal dengan air yang terus mengenai telapak kaki telanjangnya. Dia memperhatikan satu-persatu teman-temannya yang bermain basah-basahan sampai matanya melihat Jeno juga ada disana, bermain bola dengan Mark, Yangyang dan Yeji. Pemuda itu memakai baju hitam yang kini melekat ketat di badannya karena basah membuat apa yang ada di balik baju itu tercetak jelas.
Jaemin menutup mata karena lagi-lagi tubuhnya bereaksi dengan aneh. Dia bukannya tidak pernah melihat otot perut yang terbentuk seperti itu sebelumnya, semua teman laki-lakinya punya bahkan ia juga. Tapi kenapa melihat Jeno membuatnya bereaksi tidak biasa?
‘Aku tidak bisa melakukannya sampai kau jelas dengan perasaanmu.’
Kalimat Jeno semalam terngiang membuatnya kembali memikirkan sesuatu yang membuatnya terjaga hampir sepanjang malam.
Perasaan? Perasaan apa?
Mereka memutuskan untuk melakukan BBQ saat makan siang atas ide Minhyung -tapi karena yang memberi ide adalah kekasihnya maka Haechan maju menjadi pendukung utama. Dia mulai memerintahkan teman-temannya untuk mengangkut barang-barang yang diperlukan dari gudang.
“Jaemin-ah! Kau bawa meja itu bersama Mark Hyung!” titahnya. Kenapa dia berani menyuruh Jaemin? Jawabannya tentu karena selain Mark, Jaemin adalah yang paling bisa diandalkan dalam hal kekuatan fisik dalam kelompok mereka. Jaemin juga menyadari itu jadi dia sudah terbiasa melakukan ini itu. Lagipula mustahil Haechan menyuruh Yangyang dan Renjun, bukan karena mereka lemah atau semacamnya, tapi mereka pasti akan lebih banyak bicara daripada bekerja.
Jaemin dengan malas-malasan mengikuti perintah Haechan, tapi baru tangannya menyentuh tepian meja berlawanan dengan Mark, seseorang mendorongnya.
“Biar aku saja. Kau siapkan bahan-bahan saja bersama yang lain.”
Jaemin yang tidak ingin membantah dan berurusan dengan Jeno menyetujuinya begitu saja.
“Eh? Kenapa kau disini?” tanya Haechan heran. Dia menoleh dan melihat Jeno yang menggantikan tugas Jaemin.
“Karena akan bosan hanya menunggu tanpa melakukan apa-apa, bagaimana kalau kita bermain?” Haechan mengatakan itu saat mereka menunggu daging mereka selesai dipanggang oleh Yeji dan Jimin.
“Permainan apa?”
“Aku sudah menyiapkannya.” Haechan mengeluarkan beberapa kartu dari saku hoodienya, “Biar ku jelaskan aturan mainnya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Blackthorn (NoMin)
Fiksi PenggemarSeperti Dahlia Hitam yang kau lemparkan padaku, kuberikan Salvia Merah padanya. Dengan Yarrow di tangan, aku bertanya, "Apa arti Hyacinth kuning yang kau pegang?" Main Cast : - Lee Jeno, Na Jaemin of NCT Dream Other Cast : Member of NCT, Aespa, Str...
