11.

129 14 13
                                        

















  “Kenapa melihatku begitu?”

“Supaya kau tahu kalau aku cemburu.” jawab Jeno lugas.

“Jangan kekanakan! Minjeong temanku, wajar kalau aku tidak ingin dia sakit hati.” Jaemin memutar bola mata jengah karena Jeno masih melihatnya dengan cara yang sama terlepas dari alasan yang ia kemukakan, “Terus tatap aku seperti itu, ku batalkan rencana kita jalan-jalan besok!”

Seketika Jeno merubah ekspresinya, berganti menunjukkan senyum sabit favorit Jaemin. Dia sudah susah payah membujuk Jaemin agar mau pergi kencan dengannya, jadi dia tidak mau usahanya berakhir sia-sia.

“Kalian mau pergi kencan? Kami ikut!”

“Tidak!” Tolak Jeno langsung singkat dan padat.

Minhyung terbahak sementara Haechan merengut. Tapi ekspresi Haechan berubah cerah karena berbeda dengan Jeno yang menolak dengan alasan tak ingin kencannya terganggu, Jaemin justru punya pemikiran lain.

“Tapi itu ide bagus. Akan lebih aman kalau kita pergi berempat daripada hanya berdua, Jeno-ya. Kita akan lebih mudah memberi alasan kalau kebetulan kita bertemu dengan teman-temanku.”

“Jaemin benar, Jeno-ya. Aku bisa membantu kalau kemungkinan terburuk terjadi.”

“Tapi..”

“Aku akan menginap di apartemenmu kalau kau setuju dengan ini.”

“Oke!” Jeno langsung setuju tanpa pikir panjang.

Minhyung tersenyum miring, “Kau baru saja mengundang dirimu masuk ke kandang singa, Jaemin-ah.”

“Jadi hubungan kalian sudah sejauh itu? Padahal kalian terhitung masih pasangan baru.” Haechan memasang ekspresi horor yang jelas dibuat-buat.

“Kau yang berpikir terlalu jauh!” sentak Jaemin, “Kami hanya belajar bersama atau nonton film sesekali.”

“Jadi kau sudah sering bermalam di apartemen Jeno?” 

Jaemin pikir Haechan bereaksi seperti itu karena dia benar-benar kaget tapi Jaemin lupa kalau yang bicara dengannya sekarang adalah Haechan. Jadi apa yang keluar dari mulut Haechan selanjutnya membuatnya tak bisa berkata-kata selama beberapa saat.

“Kenapa kau tidak mengajakku? Aku juga mau bermalam disana…”

Sedetik kemudian dia langsung mendapat hadiah dorongan kepala dari Minhyung, “Jangan bertingkah! Aku masih disini!”

Haechan merengut sambil mengusap dahinya.

“Aku, kan, hanya bercanda. Tapi kalau diundang aku tidak akan menolak.”

“Lee Haechan!” tegur Minhyung.

“Iya, iya.”

Pria keturunan Kanada itu mendengus, “Sebelum anak ini lebih menggila lagi, lebih baik kita bahas saja besok akan kemana.”

“Aku dan Jaemin belum memutuskan, kalian ada ide?”

“Sebenarnya aku ada ide tapi sebelum itu aku harus menanyakan ini dulu, Jaemin-ah, kau suka mengambil foto, kan?”

Jaemin mengangguk.

“Kalau begitu bagaimana kalau kita pergi ke taman? Kebetulan aku tahu taman yang bagus untuk berburu foto.”

Jaemin langsung terlihat bersemangat, “Ide bagus, Hyung! Jeno, kita kesana, ya!”

Jeno mana mungkin bisa menolak kalau Jaemin meminta dengan wajah seperti itu. Jadi dia hanya mengangguk setuju tanpa tahu kalau keputusannya itu akan membuatnya menyesal di keesokan harinya.
















Blackthorn (NoMin)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang