"They said we must dive into thousand thorns to get the prettiest rose."
Blackthorn
Chapter 21
Dosen mata kuliah Etika Bisnis dan Kepemimpinan sedang menjelaskan materi dengan lantang di depan kelas menggunakan pendekatan terbaik menurut beliau, tapi sayangnya saat itu fokus Jeno berada di tempat lain. Tepatnya pada seorang pemuda yang duduk beberapa baris di depannya. Terlihat fokus dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.
Bibirnya menyunggingkan senyum getir. Kalau bukan karena kebodohannya, dia tidak akan terjebak dalam situasi macam ini.
Seharusnya sejak awal dia tidak pernah setuju untuk membuat kesepakatan dengan Tuan Na.
Semua berawal dari sebuah pesan dari nomor tak dikenal yang diterima Jeno tak lama setelah hubungannya dengan Jaemin diketahui publik. Sebuah pesan yang berisi permintaan untuk bertemu di tempat yang sudah disiapkan. Awalnya Jeno mengabaikan pesan itu karena menganggap itu hanya pesan dari orang random yang entah tahu nomornya dari mana tapi anggapannya berubah setelah pesan kedua dari nomor yang sama ia terima. Berbeda dengan yang pertama, kali ini pesan itu juga menyertai alamat tempat pertemuan sekaligus identitas pengirim dan orang yang mengundangnya.
Yu Haneul, atas suruhan dari Na Junhyuk, Ayah Jaemin.
Mengetahui fakta itu, Jeno lantas membalas dan setuju untuk bertemu. Tapi bukan berarti Jeno langsung percaya pesan itu asli, bukan dari orang yang sengaja menggunakan nama Tuan Na untuk memancingnya bertemu. Keputusan itu ia ambil dengan pertimbangan resiko yang mungkin ia terima. Jika itu benar ayah Jaemin, maka dia berhasil menyelamatkan wajahnya di depan orang yang ia semogakan untuk menjadi mertuanya, sementara jika itu hanya orang iseng atau reporter yang kehabisan berita, dia bisa langsung pergi dari sana setelah melihat wajah orang itu.
Sekarang yang perlu ia pikirkan adalah skenario apa saja yang mungkin terjadi di pertemuan itu jika orang itu benar-benar ayah Jaemin.
Lalu saat hari pertemuan itu tiba,
“Akhiri hubunganmu dengan putraku!”
Jeno tertegun sesaat. Bukan berarti dia tidak menduga skenario itu sebelumnya, dia bahkan sudah tahu bagaimana menghadapinya, tapi mendengarnya langsung tentu berbeda daripada hanya sekedar membayangkan, karena itu reaksi pertamanya tetap terkejut.
“Jeno-ssi, aku tidak punya banyak waktu untuk sekedar menunggu jawabanmu.”
“Maaf, saya hanya terkejut dengan permintaan tiba-tiba anda,” tanggap Jeno sopan, “Tapi sayangnya saya harus menolak permintaan itu.”
Tuan Na menaikkan sebelah alisnya lalu menyesap kopinya pelan, “Kenapa? Bukankah bersama anakku lebih banyak membawa kerugian padamu?”
Jeno tersenyum tipis lalu ikut menyesap kopinya, mencoba untuk terlihat tidak terpengaruh dengan provokasi dari Tuan Na, “Ku harap anda punya cukup waktu untuk menjelaskan alasan dibalik pendapat anda itu, karena saya punya satu hari untuk mendengarkan.”
Melihat Jeno yang menanggapi dengan santai dan tidak menunjukkan sikap inferior di depannya sedikit banyak membuat Tuan Na terkesan, “Sayang sekali aku tidak memiliki anak perempuan, kalau tidak aku cukup senang untuk menerimamu sebagai menantuku.”
“Terima kasih, tapi sayangnya saya tidak mau menjadi menantu anda kecuali melalui Jaemin.”
Sambil tersenyum remeh Tuan Na merubah posisinya, tangannya kini bertaut di atas meja, “Sikap gigih mu tak pelak membuatku terkesan. Akan sangat bagus kalau kegigihan itu digunakan untuk alasan yang tepat.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Blackthorn (NoMin)
FanfictionSeperti Dahlia Hitam yang kau lemparkan padaku, kuberikan Salvia Merah padanya. Dengan Yarrow di tangan, aku bertanya, "Apa arti Hyacinth kuning yang kau pegang?" Main Cast : - Lee Jeno, Na Jaemin of NCT Dream Other Cast : Member of NCT, Aespa, Str...
