Haaah!
"Apa kau tidak bisa mematikan ponselmu, agar mereka tidak bisa mengganggumu di hari liburmu. Kau sudah bekerja selama enam hari dengan waktu hampir dua puluh empat jam. Mereka selalu meneleponmu, meski jam sudah malam. Kau tahu?" gerutunya, dengan wajah kesal.
Toneri hanya tersenyum simpul. Kekasihnya selalu penuh perhatian. Ia melihat gadis itu mengantarkan minuman dan kudapan ringan untuk dirinya. Pakaian santainya terlihat pas melekat pada tubuh kecilnya. Yah, ia akui, Naruto tetap terlihat cantik meski hanya mengenakan kaos polos dan celana jeans pendek sepaha.
Ia tak berhenti tersenyum, saat Naruto duduk di sebelahnya dengan bibir mengerucut lucu. "Kenapa begitu?" tanyanya, dengan bibir yang tertahan untuk tidak tersenyum lebar.
Naruto menoleh dengan kesal. Tangannya bersidekap dada. "Mulai lagi!" gerutunya dengan kesal.
Karena gemas, Toneri menarik wajah kekasihnya itu untuk mendekat, dan memberinya ciuman singkat di bibir. Dan Naruto pun dibuat tersenyum olehnya. Suasana yang semakin panas dan intens itu, membuat Toneri dan Naruto melanjutkan acara kencan mereka berdua.
Seperti waktu yang berjalan, Naruto enggan menunggu kembalinya Sasuke. Ia hanya butuh seorang pengganti untuk menjadi penyokongnya dalam mempertahankan posisinya di perusahaan. Dengan hadirnya Toneri, lelaki itu mampu menggeser posisi Sasuke dari hati Naruto.
Perut yang terasa lapar mengingatkan Naruto untuk segera bangun. Ia melihat kekasihnya yang masih tertidur di sebelahnya dengan tangan yang memeluk tubuhnya begitu erat.
Waktu sudah berganti sore. Kencan panasnya dengan Toneri membuat ia dan kekasihnya kelelahan dan tertidur. Dengan tubuh polos tanpa malu, Naruto bergerak bangkit untuk memunguti pakaiannya yang tercecer di atas lantai.
Mandi akan membuatnya segar, pikirnya. Ia pun masuk ke dalam ruang kamar mandi. Naruto melempar pakaian kotornya ke dalam keranjang kotor. Dia memutar kran shower, air turun membasahi seluruh tubuhnya.
Pelukan ringan itu membuat Naruto tersentak kaget. "Kenapa tidak membangunkanku?" kata Toneri dengan suara berat. Tubuh rampingnya dipeluk dari arah belakang. Sentuhan ringan dan menggoda, membuat Naruto mendesah kelepasan.
Kecupan ringan di tengkuk dengan guyuran air shower, membuat sensasi aneh pada tubuhnya. Tangan kekar itu terus bergerilya menjamah setiap inci bagian yang terasa candu. Sore itu, di bawah guyuran air shower, mereka melakukan keintiman mereka lagi untuk kesekian kalinya.
.
.
.
Kurama membanting ponsel itu dengan keras ke atas lantai. Laporan yang baru saja diterimanya, seketika membuat emosinya langsung meledak saat itu juga. Bawahannya baru saja mengirim pesan foto lewat email pribadinya. Dimana ada foto Toneri dan Naruto yang terlihat seperti sedang menjalin hubungan yang serius.
"Ini tidak bisa kubiarkan!" tukasnya pada diri sendiri. "Tidak boleh ada satupun orang di dunia ini yang berhak memilikinya!" lanjutnya tanpa sadar. Obesesi itu semakin menjadi, tanpa ia pahami dengan akal sehat.
Tapi, mengingat tabiat Naruto yang semakin sulit untuk didekati membuat Kurama juga frustasi. Sudah satu tahun anak itu menolak untuk pulang, bahkan saat acara perkumpulan antara kolega dia juga enggan untuk ikut bergabung.
"Aargh!!" surai jingganya ia acak-acak dengan kesal. Telinganya memerah, menahan rasa kesal.
Nuansa kamar yang elegan dan mewah tak membuat emosinya mereda. Untuk apa semua kemewahan ini jika Naruto sama sekali tidak menganggap dirinya. Apa yang harus ia lakukan. "Sialan!"
.
.
.
Mall besar itu berdiri dengan mewah di tengah-tengah kota Konoha. Di salah satu bagian toko ponsel, Shikamaru datang untuk berkunjung bersama sekretarisnya. Ia sekarang sudah menjadi wakil direktur di perusahaan milik sang ayah, dan mall ini adalah wujud hasil kerja keras Shikamaru selama satu tahun ini. Selain bekerja, ia juga mengambil jam kuliah pada pagi hari.
Malam minggu, menjadikan Nara Mall semakin ramai pengunjung. Di lantai bawah yang berfungi sebagai restoran cepat saji juga begitu ramai para pengunjung, entah itu hanya kencan, makan bersama keluarga atau pertemuan penting antar kolega perusahaan.
Di lantai dua, Shikamaru memantau keadaan lantai satu dengan serius. Dia berdiri di pinggir pembatas gedung lantai dua, memastikan tak melewatkan satupun yang harus ia pastikan dengan mata kepalanya sendiri. Netra gelapnya tak sengaja melihat siluet yang baru saja masuk ke dalam mall.
Bibir tipisnya terangkat sedikit. Ia memusatkan pandangannya lurus ke arah sosok itu. Lelaki muda itu menoleh ke arah sekretaris. "Kau boleh pergi. Aku ada urusan sebentar." tukasnya.
Sekretaris itu membungkuk, memberi hormat dan undur diri. Setelah kepergian sekretarisnya, Shikamaru langsung pergi mengikuti sosok itu dari jarak yang cukup jauh. Ia hanya penasaran. Yeah, hanya penasaran.
Kakinya membawanya masuk ke dalam toko pakaian kantor. Naruto dengan cermat memilih dan menilik beberapa jas kantor yang cocok dengan kriterianya. Wajahnya yang terlihat lelah itu sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Omong-omong, Naruto baru saja pulang kerja dan memutuskan untuk mampir sebentar ke tempat ini. Ia juga sudah muak dengan omelan Toneri yang selalu menyuruhnya untuk belanja menggunakan kartu debit pribadi milik pria itu.
Oh, iya. Hubungan dia dengan Toneri bisa dibilang cukup rahasia, mengingat pekerjaan lelaki itu tak cukup biasa untuk menerima skandal aneh yang bisa merusak citranya sebagai wakil presiden sebuah negara. Jadi, untuk hubungan ini mereka sepakat untuk menyembunyikannya dari permukaan.
Setelah menemukan jas yang cocok, Naruto berniat untuk membayarnya. Ia berjalan ke arah kasir. "Berapa totalnya?" tanya Naruto sembari mengeluarkan dompet.
Seorang kasir itu mentotal jumlah belanjaan Naruto, lalu memasukannya ke dalam paper bag. "Terima kasih, sudah berbelanja di toko kami." kata kasir itu dengan ramah.
Kedua matanya berkedip. "Aku belum membayarnya," sanggah Naruto cepat.
Kasir itu hanya tersenyum. "Khusus untuk Anda, barang di sini semua gratis." Kasir itu menunjuk Nara Shikamaru dengan sopan, di ujung pintu masuk toko.
Naruto reflek menoleh dan mendapati Shikamaru yang hanya tersenyum. Ia berdecak dengan kesal, lalu tersenyum. "Terima kasih," balasnya pada sang kasir.
Shikamaru mengantongi kembali ponselnya ke dalam saku jas, setelah selesai menelepon kasir toko yang didatangi Naruto. Ia mengatakan pada kasir toko untuk tak menerima bayaran dari wanita itu, karena dia orang penting Shikamaru.
Naruto berjalan dengan kesal, lalu mencubit pinggang Shikamaru cepat. "Kenapa kau melakukan itu?" kesalnya, meminta penjelasan.
Lelaki itu mengaduh. Ia mengelus pinggangnya yang berdenyut sakit, bekas cubitan sayang dari wanita itu. "Aku hanya mentraktirmu. Apa tidak boleh?"
Netra biru itu mendelik. "Tapikan tidak setiap aku belanja ke mall ini!" sungutnya. "Tapi terima kasih," imbuhnya dan membuang muka.
Dengan santai, Shikamaru merangkul pinggang wanita itu mesra. "Ayo, kau pasti belum makan." ajaknya. Tanpa penolakan, Naruto tetap membiarkan rangkulan di pinggangnya untuk Shika.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
CANDU
FanfictionNaruto yang dalam perebutan kekuasaan, mengharuskan dirinya turun tangan langsung memperebutkan tahta kekuasaan perusahaan Kaze dengan Kurama, sang kakak. Demi memuluskan rencananya, Naruto rela menyamar menjadi seorang siswi di KHS untuk mendekati...
