"Apa ini?" kata Toneri, dengan wajah penasaran. Namun ia masih bisa tersenyum malu-malu di hadapan wanita itu. Bibirnya menahan kedutan yang terasa asing, itu senyum bahagia.
"Buka saja."
Dengan jantung yang berdebar Toneri mulai membuka kado berukuran kecil tersebut. Bibir tipisnya tersenyum teduh ketika ia bisa melihat isi kado pemberian wanita incarannya.
"Ini keren!" kata Toneri, setelah menutup kembali kotak kado. "Pasti ini mahal. Aku jadi tidak enak denganmu." katanya dengan tulus. Satu tangannya memegang tangan Naruto yang sengaja ia letakan di atas meja. "Terima kasih."
Dalam hati, rencana Naruto sukses besar. Ia mendapatkan perhatian Toneri sepenuhnya. "Sama-sama. Jangan lupa memakainya." Dan tawa keduanya pun mengiringi puncak makan malam itu.
Sudah hampir satu bulan kado terus berdatangan dari Toneri untuk Naruto. Ia hanya bergidik ngeri, segencar inikah Toneri untuk mendapatkan hatinya. Bahkan, ia harus beralasan ketika Sasuke selalu bertanya kenapa kado selalu datang silih berganti ke apartemen kekasihnya.
"Ini dari beberapa saudaraku. Katanya sebagai hadiah agar aku semangat dalam ujian kelulusan."
"Rajin sekali." cibir Sasuke, tidak suka. Ia membuang muka ke samping. Sasuke akan pastikan, setelah pulang dari sini ia akan membeli beberapa kado untuk kekasihnya, lebih banyak dari yang diterima Naruto saat ini.
"Kau kenapa, hm?" tanya Naruto, sembari duduk di sebelah kekasihnya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Sasuke yang sempat tegang.
Sasuke masih diam. Mungkin ia marah. "Ujian sebentar lagi, dan kita tidak bisa seperti ini terus Sasuke. Ada waktunya kau harus fokus untuk nilai kelulusanmu, masuk universitas favoritmu, dan bekerja di tempat di mana kau diterima bekerja." pancing Naruto.
Ia bisa mendengar Sasuke yang menghela napas dengan lelah. Sepertinya, ayahnya mencekoki dirinya lagi dengan belajar bisnis sejak dini. Naruto sering mendengar keluh-kesah Sasuke, yang setiap pulang sekolah ia harus sudah hafal setiap bab tentang bisnis. Fugaku akan mengetesnya secara langsung, dan kadang Sasuke akan diajak pergi ke perusahaan untuk memulai belajar bisnis dengan nyata dan serius.
"Setelah lulus, kau akan masuk universitas mana?" tanya Sasuke pada akhirnya. Ia mulai rileks dengan posisinya saat ini. "Ayah menyuruhku untuk masuk universitas luar negeri."
"Itu bagus bukan? Dengan semua ilmu yang kau dapatkan di sana, kau bisa memimpin perusahaanmu kelak." balas Naruto, mencoba memberi pikiran positif.
"Aku tau, tapi, bagaimana denganmu? Kau pasti sudah memiliki kekasih lain selama aku pergi, atau sudah menikah, mungkin." Wajahnya mulai kesal jika semua yang diutarakannya saat ini benar-benar terjadi.
Naruto tersentak. Ia duduk tegak, dan memutar bahu kekasihnya agar melihat dirinya. Kedua tangannya mengapit wajah si bungsu Uchiha. "Lihat aku Sasuke. Apa aku terlihat akan meninggalkanmu?" jawabnya dengan akting yang sempurna.
"Entah." jawabnya singkat. Sasuke melepas kedua tangan yang membingkai wajahnya dengan perasaan bersalah. "Aku pulang." pamitnya, tanpa menoleh pada gadis pirang itu. Sasuke beranjak pergi, meninggalkan apartemen Naruto. Ia harus menenangkan hatinya sebelum berpisah untuk waktu yang lama.
"Kenapa dia?" gumamnya heran. Kedua bahunya diangkat, tak mengerti. Naruto malas memikirkan pemuda berambut emo itu.
Acara kelulusan pun tiba. Naruto tak melihat batang hidung Sasuke sejak setelah ujian selesai hingga kelulusan usai. Naruto yang tak mau memikirkan hal beratpun, memilih menikmati pesta perayaan perpisahan itu dengan damai.
Sore ini, Naruto menikmati minumannya dengan sepiring cake di kafe pinggir jalan. Acara makan-makan dengan teman sekelasnya telah usai, siang tadi. Ia ingin menikmati momen ini, sebelum ia kembali pulang ke mansion Namikaze.
Sudah berapa bulan ia meninggalkan mansion tanpa pamit? Naruto tak ingat.
Pesan dari beberapa teman dan kenalannya enggan Naruto respon. Hari ini akan menjadi hari terakhir ia bebas, sebelum berperang lagi dengan Kurama.
Rasa malas itu hadir lagi. Kenapa ia harus bertemu lelaki gila itu lagi. Setelah membayar makanan, ia pergi ke pinggiran taman dengan pikiran yang tak fokus. Mungkin ia kelelahan karena acara kemarin terus berlanjut hingga siang tadi. Setelah sibuk persiapan, kelulusan dan ditutup acara makan bersama, cukup menguras energi Naruto saat ini.
Suasana yang mulai ramai mengisi taman yang tepat ada di pinggir jalan. Naruto berjalan dengan kepala tertunduk. Tudung jaket hoodienya menutup sempurna semua surai pirang panjangnya.
Pagi datang dengan begitu cepat. Naruto sudah berdiri di depan gerbang mansion tanpa ekspresi apapun. Pakaian yang ia kenakan masih sama dengan kemarin. Kantung mata itu terlihat jelas dan menunjukan jika dirinya tidak tidur semalaman.
Dengan langkah sedikit enggan, Naruto berjalan dan memasuki area pekarangan depan mansion. Seorang penjaga yang melihatnyapun langsung menelepon seseorang dan melaporkan hal tersebut.
Kedatangan Naruto pun langsung disambut Kurama yang terlihat habis berlari hanya untuk memastikan jika dirinya benar-benar pulang. Terlihat dari dasi kantornya yang belum terpasang sempurna. "Dari mana saja kau, huh!?" bentak Kurama ultimatum.
Langkahnya begitu lebar, mendekati sang adik. Tanpa aba-aba tangan besar itu melayang dengan cepat dan menghempas dengan begitu kuat. Tubuh ramping itu terhuyung dan terjatuh ke lantai jalan setapak taman mansion.
Tidak hanya tamparan, Kurama pun langsung menyengkram dagunya dengan kuat. "Wanita sialan! Baru sekarang, kau berani menunjukkan batang hidungmu setelah semua yang kau lakukan!?" Sekali lagi, ia menghempas tubuh itu ke tanah.
Tatapan itu masih datar. Naruto malas menjawab. Ia sudah menebak jika akan seperti ini saat ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Perkataan Kurama pun tak mampu ia dengar.
Yang ia tahu, tubuhnya sudah tersungkur ke tanah dan rasa sakit di sekujur tubuh mulai menghujani. Kurama terus menendang dirinya hingga kesadarannya hilang.
Sudah dua hari, Naruto tidak sadarkan diri. Tubuhnya penuh memar yang membiru keunguan. Di sampingnya, Kurama hanya bisa duduk terdiam menyesali perbuatannya. "Naruto," gumamnya, pelan.
Kurama pun beranjak pergi, meninggalkan Naruto sendirian di dalam kamarnya. Sedangkan Naruto sendiri, ia baru membuka kedua matanya setelah kakak tirinya itu benar-benar pergi.
Perasaan mati itu ada. Ia teringat perbuatan Kurama selama ia pergi ke sekolah. Naruko, sang adik, telah tiada. Anak kecil itu dinyatakan meninggal karena kecelakaan, padahal itu sudah direncanakan oleh kakaknya sendiri.
Dirinya mengetahui hal itu pun lewat beberapa para pelayan yang silih berganti merawat dirinya, yang tidak diketahui jika dirinya masih bisa mendengar obrolan mereka saat berpura-pura terus tertidur.
"Naruko."
Air mata itu menetes dengan sendirinya. Biarkan Naruto menangisi kelemahannya yang tidak bisa melindungi sang adik. Rasa bersalah itu semakin melahap dirinya hingga ke dasar jurang yang terdalam.
tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
CANDU
FanfictionNaruto yang dalam perebutan kekuasaan, mengharuskan dirinya turun tangan langsung memperebutkan tahta kekuasaan perusahaan Kaze dengan Kurama, sang kakak. Demi memuluskan rencananya, Naruto rela menyamar menjadi seorang siswi di KHS untuk mendekati...
