Candu : 15

131 17 1
                                        

Naruto terbangun pada dini hari. Ia bergerak menuju kamar mandi dengan pandangan kosong. Kran air dingin itu diputar, hingga memenuhi bak mandi. Kakinya mulai masuk ke dalam bak mandi, ia menenggelamkan tubuhnya hingga sebatas dagu.

Rasa air dingin itu menusuk kulit pucatnya. Kepalanya mulai tenggelam secara perlahan. Naruto memandang langit-langit kamar mandi dalam diam. Gelembung udara bergerak ke atas, seirima bibir itu terbuka.

Karena pasokan udara yang mulai menipis, Naruto kembali ke permukaan air. Ia menyandarkan tengkuk lehernya ke pinggiran bak mandi. Kegelapan perlahan menguasainya kembali.


Seorang pelayan berlari tergopoh-gopoh turun ke lantai bawah. Ia berteriak kata "Tolong?" dengan suara keras. Kurama yang menyantap sarapun mulai terganggu. Ia sudah bersiap membuka mulut dan melontarkan kata-kata pedasnya.

Wajah panik dan khawatir itu mulai terlihat jelas di pandangan Kurama. Pelayan itu dengan cepat mengatakan hal genting itu. "Tuan, Nona Naruto tidak sadarkan diri di kamar mandi! Tubuhnya-"

Penjelasan pelayan itu kalah cepat dengan gerakan Kurama yang langsung melesat menuju ke lantai atas. Dia berlari dan memasuki kamar sang adik, lalu menuju pintu kamar mandi dan ia mendapati tubuh Naruto tanpa kesadaran, berendam dalam bak mandi dengan waktu yang cukup lama.

Kekhawatiran itu semakin meningkat. Tanpa kata dan dengan gerakan gesit, Kurama mengeluarkan tubuh yang membiru itu dari bak mandi. Ia dengan cepat meletakkannya ke atas kasur Naruto dan segera menyelimutnya, kemudian ia membawanya pergi ke rumah sakit.



Kurama menunggu dengan gelisah di kursi tunggu ruang UGD. Kepalanya menunduk, menyesali perbuatannya. Seorang dokter keluar dari dalam ruangan menarik perhatian Kurama.

"Bagaimana keadaannya?" Tanyanya cepat. Wajah khawatirnya terlihat jelas.

"Sebaiknya Tuan ikut Saya." Kata dokter yang menangani Naruto.








Kurama menatap kota Konoha dari balik jendela besar ruang kantornya. Pikirannya melayang jauh. Dokter menyarankan adiknya untuk melakukan kemoterapi. Dia juga menyadari, jika semua hal yang dialami Naruto itu disebabkan dirinya juga.

Dering panggilan telepon menyadarkannya. Kurama mengangkat panggilan di ponselnya. "Hallo?"

"Dengan wali Nona Namikaze Naruto?"

"Benar. Ada apa?" Ekspresi Kurama sedikit bingung. Ia hanya memberitahu jika ada hal penting, perawat pribadi Naruto bisa menghubunginya. Apa ada hal gawat?

"Nona Namikaze kabur!"

Mendengar hal itu. Kurama langsung bergegas ke rumah sakit. Setelah tiba, ia langsung pergi ke ruang inap dimana adiknya dirawat.

"Apa yang terjadi?"

"Nona Namikaze tidak ada di tempat, saat Kami ingin memeriksanya."

Kurama langsung mengecek ponsel, menelepon seseorang yang ada di seberang sana. Namun, tiba-tiba ada panggilan masuk dengan nomor yang tidak dikenal. Dia memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut.

"Hallo?"

"Aku ingin sendiri. Jangan mencariku."

Sambungan pun terputus. Dia mencoba menelepon nomor itu kembali, namun sudah tidak aktif. "Argh! Sial!" Ia mengacak surai jingganya kasar.





Di lain tempat. Naruto mematikan ponsel yang baru saja digunakannya untuk menelepon Kurama. Ia menatap langit-langit kamar. Sudah satu minggu ia tidak berada di apartement murahannya ini. Saat ingin menutup mata, bunyi bel terdengar.

"Iya. Sebentar!" Dengan langkah berat, dan sedikit lemas Naruto berusaha membuka pintu. "Sia-" Wajahnya yang pucat sedikit syok dengan tamu tak undang ini. "-pa."

"Sasuke," gumamnya, pelan. Napasnya yang sedikit berat, mempersilahkan Sasuke itu masuk ke dalam apartemen."Masuklah," tukasnya dengan nada lemas.

"Kau baik-baik saja?" Tanyanya khawatir. Ia langsung menangkap tubuh Naruto yang hampir terjatuh. "Ada apa denganmu? Kau sakit?" Ia memapah kekasihnya itu ke ranjang tidur.

Napas Naruto terasa berat dan memburu. Kepalanya terasa berputar. Kegelapan itupun menguasainya.

"Hei Naruto! Apa yang terjadi?"

"Ck!" Sasuke pun memanggil seorang dokter pribadinya lewat ponsel untuk segera datang ke lokasi.




"Saya akan menyiapkan infus sebagai ganti cairan. Nona Naruto harus memperbanyak istirahat." Terang dokter pribadinya.

"Aku mengerti."

Setelah dokter itu pergi. Sasuke mendapatkan telepon dadakan. Ia pun harus segera pergi.

Pria muda itu menatap Naruto yang tertidur lelap. "Apa yang sudah terjadi selama aku tidak ada. Kau berhutang banyak cerita padaku, Naruto." Sasuke pun mengecup kening kekasihnya lama. Kemudian, ia beranjak pergi dan hanya meninggalkan sepucuk surat yang ia letakan di atas meja nakas.



Keesokan harinya.

Naruto terbangun dengan tubuh yang sedikit mulai membaik. Ia bisa melihat seorang dokter yang sedang mengganti cairan infus yang sudah habis.

"Bagaimana perasaan Anda? Apa ada yang sakit?" Tanya dokter itu dengan ramah. "Saya dokter pribadi Uchiha-sama. Saya diberi perintah untuk merawat Anda hingga pulih. Mohon kerjasamanya. Nona bisa menghubungi Saya jika ada hal darurat. Saya permisi." Dokter itu membungkuk, dan segera undur diri.

Gadis itu menatap langit-langit kamar dengan pikiran ringan. Semua terasa ringan tanpa beban. Apa seperti ini jika ia sedang merasakan sakit. Hanya tidur, istirahat, dan tidur. Kepalanya menoleh ke meja nakas. Ia menemukan sepucuk surat di atas meja kecil itu. Setelah kepergian dokter itu, Naruto membaca surat dari Sasuke. Dia memberitahu jika dirinya tidak bisa menemani Naruto lagi karena ia harus belajar bisnis di luar negeri. Sasuke juga berjanji akan kembali lagi padanya.

.
.
.

Satu tahun kemudian.

Naruto mandi di dalam bathup dengan banyak busa. Rambutnya yang pendek ia jepit rambut dengan asal, menyisakan beberapa helai di tengkuk. Aroma terapi dari lilin membuatnya rileks, menikmati suasana tenang hari minggu.

Sudah beberapa bulan ia pindah ke apartemen barunya yang lebih luas dan mewah. Begitu pun ia yang juga mulai kembali masuk kerja dan tak pernah bertegur sapa pada Kurama. Setelah ia kabur beberapa saat setelah insiden traumanya yang kambuh, ia memutuskan untuk tetap bertahan di perusahaan untuk sementara waktu.

Naruto enggan untuk memaafkan Kurama, begitu ia bertemu dengan pria itu, ia akan memilih jalan lain atau putar balik. Ia masih belum bisa memaafkan Kurama atas kematiannya Naruko.

Setelah merasa cukup, ia keluar dari bathup dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Tubuhnya ia balut dengan jubah handuk. Naruto mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang sebagian basah.

Riasan tipis yang ia kenakan membuatnya terlihat cantik. Bunyi bel di pintu menarik perhatian. Langkah kakinya membawa ke ruangan depan untuk melihat siapa gerangan yang datang ke apartemennya pada hari minggu.

Pintu terbuka, dan sosok itu langsung memeluk dirinya. "Ada apa?" tanyanya bingung. Ia membalas pelukan itu singkat, dan mengajaknya untuk masuk ke dalam. "Masuklah."

"Hm." sahut lelaki itu, dan segera melepas pelukan.

Naruto sibuk membuat minuman di counter dapur, sedangkan lelaki itu sibuk duduk di atas sofa dengan kedua tangan sibuk bermain ponselnya, lagi.

"Apa mereka selalu meneleponmu di hari minggu?" tanya, Naruto.

"Ya. Ini sudah tugasku. Aku tidak bisa sesantai seperti karyawan biasa." jawabnya, dengan senyuman.


Tbc.

CANDU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang