Candu : 18

59 8 0
                                        

Sumpah lupa alur ˃ 𖥦 ˂

Bab 18

Bau obat dan pandangan mengabur adalah hal utama yang Naruto rasakan. Kepalanya terasa sedikit pusing. Ia mengangkat salah satu tangannya, dan terdapat selang infus di sana.

Pandangannya bergulir ke arah samping. Ia menemukan sosok Kurama yang duduk di atas sofa tunggu dan sibuk dengan laptop yang menyala. Mungkin ia mengerjakan tugas kantor yang tertunda.

Kurama yang merasa sedang dipandangi pun menoleh. "Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" tanyanya langsung, datang menghampiri. "Apa ada yang sakit? Aku akan memanggil dokter." lanjutnya.

Matanya tertutup, dahinya mengernyit menahan rasa sakit yang menghantam di kepala. Rasa nyeri itu datang kembali. Kedua matanya terbuka. Ia bisa melihat ekspresi Kurama yang terlihat khawatir. Dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana dia bisa menemukan Naruto?

"Kenapa kau menolongku? Kenapa kau tidak membunuhku saat aku lengah, seperti saat kau membunuh 'dia'?" dorong Naruto, mengutarakan kalimat yang di luar ekspektasi Kurama.

Kedua telapak tangan Kurama mengepal, wajahnya sempat mengeras dalam sedetik. Namun, ia mencoba menenangkan diri dengan cara menghela napas.
"Kenapa kau bertanya begitu?"

Naruto membuang muka. Ia memiringkan tubuhnya ke arah samping, membelakangi Kurama. "Harusnya kau membunuhku. Dan kau bisa menjadi pewaris tunggal dengan mudah."

Netra birunya bergetar. Dia merasakan kedua tangannya bergetar hebat. Kedua tangannya saling bertaut, berusaha menguatkan diri. Kurama bisa saja semaunya untuk membunuh dirinya agar tak perlu repot-repot berebut kekuasaan seperti ini. Kenapa lelaki yang menjelma sebagai seorang kakak itu masih membiarkannya hidup.

Bayang-bayang kematian itu terus menghantui Naruto di sela-sela jam tidur malamnya. Ia berusaha menghilangkan ketakutan itu dengan hal-hal lain agar ia tidak semakin terpuruk dengan keadaan.

Kurama mengangkat satu tangannya, namun ia urungan kembali. Ekspresinya berubah menjadi dingin. Wajah khawatir itu dalam sekejap berubah. "Jadilah wanitaku. Dan kau bisa memiliki perusahaan itu."

Suara langkah kaki yang mulai menjauh, menandakan Kurama sudah beranjak pergi. Meninggalkan Naruto yang menatap dinding kamar rawat dengan nanar.

Lelaki itu tetap keukeuh dengan pendiriannya; memiliki Naruto seutuhnya. Ia dibuat bimbang dan takut sekaligus bersamaan. Jika ia memilih menikah dengan Kurama, maka ia bisa menguasai perusahaan. Namun, jika ia menolak Kurama, sampai akhir pun Kurama akan tetap mengejarnya, bahkan lelaki itu akan melenyapkan siapapun itu yang berurusan dengan Naruto.

Pikirannya dibuat melayang. Bagaimana jika Kurama sudah mengetahui hubungannya dengan Toneri, Sasuke, Shikamaru dan yang lainnya. Apa mereka akan baik-baik saja? Pikirnya, di dalam hati.

.

.

.

Naruto memandang langit-langit kantor. Sudah satu bulan ia menghindar dari semua orang yang akrab dengan dirinya, termasuk Toneri. Banyak pesan dan panggilan tak ia balas. Ia memastikan jika semua orang yang tidak ada hubungannya dengan perebutan ini tidak mengalami dampaknya.

Dengan pikiran yang masih berkecamuk, Naruto membuka aplikasi sosial media lewat laptopnya. Dari semua akun milik kenalannya, mereka dalam keadaan baik dan sehat. Naruto mengklik akun media sosial resmi milik Toneri. Semua kegiatannya berjalan lancar. Toneri juga terlihat baik-baik saja dengan pengawalan ketat.

Dering telepon mengalihkan perhatian Naruto sejenak. Masih dengan pikiran yang tidak fokus, dengan gampangnya dia mengangkat panggilan nomer tak dikenal itu.

"Hm?" jawabnya dengan malas.

"Bagaimana kabarmu?"

Detak jantungnya sempat terhenti. Napasnya sejenak tercekat di tenggorokan. Suara baritone yang hampir ia lupakan itu kembali terdengar di indera pendengarannya. Sudah berapa lama ia tidak mendengar suara orang ini?

Naruto, setelah tersadar kembali. Ia berusaha menormalkan deru napas dan detak jantungnya yang tak karuan. Tangannya bergetar hebat. Ia pikir itu telfon dari sekretarisnya, ternyata bukan.

Dengan masih bergetar, ia meletakan kembali telepon yang masih tersambung dengan panggilan. Pikirannya mendadak kacau dan perutnya terasa mual.

Kakinya berusaha melangkah untuk keluar dari ruang kerjanya. Ia butuh seseorang untuk menolongnya yang sedang mengalami syok. Perutnya semakin mual. Naruto menutupi mulutnya dengan satu tangan. Satu tangannya berusaha mencari pegangan.

Ia membuka pintu dengan tangan bergetar. Kepalanya terasa berputar-putar. Sekretaris yang memang standby di meja kerja luar ruangan reflek berusaha menolong.

"Naruto-sama!"

Naruto menoleh. Namun, ia tak bisa merespon dengan jelas. Ia langsung terduduk karena lemas. Pandangannya mengosong dan tak sadarkan diri.



Tbc.

Gaes tahu gak kalo chapter 5 aku ada 2 versi. Wkwkwk tapi gak aku publish 😁

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CANDU Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang