Setelah makan malam dengan Shikamaru, Naruto memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang ingin ia kunjungi. Ia turun dari mobil, dan segera masuk ke dalam kafe Coffee Shop. Naruto memesan satu gelas kopi americano untuk menemaninya nanti saat mengerjakan laporan dan beberapa dokumen.
"Ramai sekali," gumamnya, pelan. Ia pun ikut antre ke dalam barisan. Setelah beberapa saat, ia bisa mendapatkan kopi yang diinginkannya.
Seorang pelayan yang kewalahan, sedikit tergesa-gesa mengantarkan pesanan kopi ke para setiap pelanggan. Malam ini begitu ramai pengunjung, membuat semua karyawan harus bekerja ekstra. Karena tergesa-gesa, seorang karyawan tidak sengaja tersandung kakinya sendiri dan hampir menabrak Naruto.
Gadis itu tidak tahu jika ada kecelakaan kerja di sebelahnya, yang Naruto tahu ia merasakan tarikan di tangannya untuk menghindar. Tumpahan kopi yang panas itu mengenai kaki Naruto begitu cepat. Ia merasakan sedikit sakit dan rasa terbakar sekaligus panas secara bersamaan.
Keadaan sekeliling begitu kacau, menarik semua perhatian pengunjung kafe. Pemilik kafe datang dan meminta maaf. Ia memarahi karyawan itu langsung, dan sekali lagi meminta maaf. Dan seseorang yang menariknya tadi juga sibuk berdebat dengan karyawan itu juga pemilik kafe.
Semuanya tak Naruto hiraukan, ia hanya fokus dengan luka bakar yang mengenai kakinya. Naruto juga hanya menurut ketika orang asing itu mengajaknya untuk berobat ke klinik terdekat yang buka dua puluh empat jam.
"Apa lukanya akan membekas?"
"Tidak Tuan. Luka itu akan segera memudar setelah diobati dengan salep itu secara rutin."
"Terima kasih."
"Sama-sama, Tuan."
Obrolan sekilas yang ia dengar sempat Naruto hiraukan. Omong-omong siapa lelaki yang membantunya membawanya hingga ke klinik ini. Pikiran itu berkecamuk, dan Naruto masih bertanya-tanya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya lelaki itu, yang berdiri menjulang di depannya.
Naruto yang terduduk di kursi tunggu mendongak. Kedua matanya berkedip, memproses apa yang terjadi. "Ah, iya. Terima kasih." katanya, setelah mendapatkan kesadarannya. Ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, dan mengecek kaki kanannya yang terlihat memerah.
Pria itu berjongkok, dan menatap Naruto fokus. "Lukanya akan sembuh, jika kau rajin mengolesinya salep obat dari dokter." tuturnya, dengan suara berat.
"Iya." jawab Naruto singkat. Untuk Naruto sendiri, ia tidak terlalu terpana dengan sosok asing itu. Kebetulan pikirannya juga sedang campur aduk. Hampir saja ia tidak bisa fokus.
"Aku akan mengantarmu." tawarnya dengan gentleman. Dan Naruto mengiyakan begitu saja. Lagi pula ia tidak bisa berjalan terlalu lama, dan hari juga semakin malam.
.
.
.
Kurama menyender pada punggung kursi. Ia baru saja mendapat email dari Naruto jika ia tidak bisa masuk kerja dan mengambil cuti untuk beberapa hari karena urusan penting, yang entah apa Kurama tidak bisa tahu.
"Apa lagi yang dia lakukan?" gemasnya. Ia tidak tahu alasan apa lagi yang Naruto buat untuk menghindarinya.
Sedangkan di tempat Naruto, apartemen yang di tempatinya. Naruto masih belum bangun, pagi ini. Ia sudah mengirim email untuk sekretarisnya jika ia tidak akan pergi ke kantor dan memberikan tugasnya pada sekretarisnya tersebut, sejak tadi malam.
Setelah sempat terbangun pagi-pagi buta, Naruto hanya mengoleskan salep ke lukanya yang masih saja terasa panas, lalu melanjutkan acara tidurnya hingga matahari sudah merangkak ke atas. Waktu menunjukkan pukul satu lebih tiga puluh lima menit, siang ini dan Naruto baru bisa membuka matanya.
Rasa panas itu datang lagi. Naruto bergerak bangkit untuk mengecek kakinya. Sebagian kulit kakinya mulai melepuh dan masih memerah. Ia memutuskan untuk mandi, namun pelan-pelan untuk menghindari bagian yang terluka terkena air.
Naruto mengecek ponsel, setelah selesai mandi dan mengoleskan obat luka. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari tiga orang, dan pesan sekaligus dari ketiganya.
Memilih mengabaikan pesan. Naruto menyibukan diri membuat menu sarapannya yang terlambat. Ia hanya mengolesi roti dengan selai stroberi yang ia simpan di lemari pendingin. Naruto lupa, jika ia belum berbelanja sama sekali.
Setelah sarapan, ia meminum obat resep dari dokter yang mengobati dirinya semalam. Itu obat pereda nyeri, waktu Naruto mengingatnya. Rasa kantuk efek dari obat itu mulai terasa. Namun, ia enggan untuk tidur.
Gadis itu mengecek laptopnya. Ia duduk di atas sofa dengan pandangan mencoba fokus ke arah layar monitor. "Kenapa aku tidak bisa fokus?" gumamnya, pelan. Kedua manik sapphirenya terasa melayang entah kemana saat ia mencoba untuk fokus. Isi kepalanya pun terasa tak bisa tenang, dan tak bisa berfokus pada beberapa kata.
Memilih menyerah, Naruto mulai menidurkan diri ke atas sofa dengan laptop yang masih menyala. Terlalu lelap, membuatnya tidak sadar jika hari sudah menjadi malam.
Naruto merasa haus, malam ini. Ia terbangun pada dini hari. Saat membuka mata, ia mendapati dirinya sudah ada di ranjang dengan selimut tebal. Dia menoleh dan mendapati Toneri yang terlelap di atas sofa dekat ranjang.
Pria itu masih mengenakan kemeja dengan dasi kantor yang longgar. Lelaki itu tertidur dengan posisi duduk dan kedua tangan bersedekap dada. Kepalanya menunduk.
Naruto sempat berpikir. Jika lekaki itu datang ke apartemennya setelah pulang kerja, dan langsung merawatnya. Betapa bahagianya dirinya yang begitu disayang oleh Toneri.
Tapi, tujuan Naruto belum ia capai. Sasuke yang ia targetkan juga belum kembali dari belajarnya. Sampai kapan ia harus menunggu. Memutuskan untuk tidur kembali karena pusing, Naruto kembali telelap. Ia bahkan lupa jika sedang haus.
.
.
.
Sudah tiga hari Naruto tidak masuk kerja. Hanya Toneri yang setia merawat dirinya di sela waktu sibuknya bekerja. Di waktu senggang ini, ia memilih membuka beberapa album foto lama.
Kenangan tidak menyenangkan itu kembali hadir. Naruko. Adik kecilnya yang malang. Gadis kecil itu mati di tangan Kurama. Apa yang harus Naruto lakukan untuk membalas kakak tirinya. Kurama harus merasakan rasa sakit yang ia alami. Emosi itu sempat muncul ke permukaan.
Naruto melirik ke arah jam dinding. "Sudah siang." gumamnya, pelan. Ia membuka ponsel, dan mengirim pesan suara pada seseorang. "Aku akan keluar sebentar membeli sayuran," pamitnya, pada Toneri.
Ia menutup album foto. Naruto akan pergi ke supermarket terdekat untuk menyiapkan menu makan siang. Ia mengenakan tantop berwarna putih dipadukan kemeja berwarna hijau sage sebagai outernya dan satu set dengan rok pendeknya.
Lukanya mulai sembuh namun masih terdapat bekas. Ia memilih alas kaki yang nyaman, dan pilihannya jatuh pada flatshoes. Setidaknya, dia tidak harus repot-repot mengenakan sepatu atau high heels.
Tidak terlalu jauh dari apartemen, Naruto merasakan pusing yang sangat hebat. Cuaca yang lumayan panas menambah rasa pusing yang ia alami. Naruto berusaha menjaga kesadarannya untuk tetap ada. Namun, kegelapan itu lebih dulu menguasainya. Naruto pingsan.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
CANDU
FanfictionNaruto yang dalam perebutan kekuasaan, mengharuskan dirinya turun tangan langsung memperebutkan tahta kekuasaan perusahaan Kaze dengan Kurama, sang kakak. Demi memuluskan rencananya, Naruto rela menyamar menjadi seorang siswi di KHS untuk mendekati...
