Masih di awal 2023
Pamflet dengan tanda baca titik koma yang mencolok di sisi terdepan kembali tersebar di berbagai kampus. Mahasiswa-mahasiswa sudah membicarakannya, sebagian dari mereka mengaku kenal salah satu anggota komunitas titik koma, sebagian lagi mengaku pernah mengikuti seminar yang diadakan komunitas tersebut.
Namun, tidak bagi perempuan yang duduk di ujung koridor Fakultas Ilmu Budaya . Ia punya alasan sendiri mengapa tertarik dengan komunitas titik koma. Ia amati baik-baik pamflet yang ada di tangannya – yang baru beberapa menit diberikan oleh seorang laki-laki beserta dua temannya.
Titik koma. Sebuah komunitas kesehatan mental yang tujuannya bukan hanya memulihkan mental, tapi juga iman. Hmmm, menarik. Ditambah tulisan di pojok kiri pamflet, "mental yang sehat sejatinya mengokohkan iman."
Mengingat ia sudah berada di semester akhir, tidak ada lagi mata kuliah, sisa skripsi yang baru ia mulai pengerjaannya, tidak ada salahnya jika ia bergabung bukan? sekadar mengisi waktu luang saat penat dengan skripsi? tidak mungkin juga waktunya sepanjang hari ia habiskan dengan per-skripsi-an, bisa gila nanti dia.
Ah tapi bukan itu alasannya tertarik untuk bergabung, bukan sekadar mengisi waktu luang, tapi entahlah, rasanya hatinya terpanggil. Ia pun segera mengeluarkan ponsel yang ada di dalam tasnya, lalu mengambil gambar pamflet titik koma, kemudian mengirimkannya ke seseorang dengan pesan susulan.
"Aku mau gabung di sini yah?"
***
Hanya ada Alim di sekret saat Fayyadh, Syakir, dan Jihad – angkatan Alim – tiba sehabis membagikan pamflet di kampus-kampus. "Rizki mana, Lim? motornya ada di depan." Rizki merupakan salah satu anggota mereka yang seumuran dengan Fayyadh, dkk. Ia bergabung di komunitas bersamaan dengan Alim, Ririn, dan Jihad. Ada satu lagi, namanya Naimah. Kalau kata Azriel, Naimah ini adalah Ivy mini.
"Ada di dapur, Kak. Lagi masak mi instan. Pamfletnya kok masih ada?" Alim mengambil selebaran pamflet yang barusan Fayyadh letakkan di dekatnya.
"Udah banyak kok kebagi. Insyaa Allah lewat sebaran online juga mendukung," tutur Fayyadh.
"Mental yang sehat sejatinya mengokohkan iman." Alim membaca tulisan di pojok pamflet yang menjadi jargon komunitas mereka. "Ini nih, jargon ini yang buat aku tertarik masuk di titik koma. Cetusan siapa nih?"
"Siapa lagi kalau bukan Pak Ketua, alias Ustaz Zafran." Syakir menepuk-nepuk bahu Fayyadh yaang ada di sampingnya. Jika mereka memanggil Fayyadh dengan sebutan ustaz, maka mereka menggunakan nama depan laki-laki itu. Awalnya itu hanya berlaku pada ketiga sahabat Fayyadh. Namun, lama kelamaan semua anggota komunitas ikut-ikutan.
Jihad yang sedari masuk tadi membaringkan tubuhnya menyahut, "jadi, emang di sini ceritanya titik koma mau ngembangin psikologi Islam gitu yah dari awal?"
"Yap. Lebih tepatnya, di sini kita mau nekanin bahwa apapun permasalahan dalam hidup kita yang kadang buat kita down yah solusinya kembali sama Allah, bergantungnya sama Allah. Tentunya dibarengi ikhtiar," jelas Fayyadh.
"Ar-Ra'd ayat dua delapan, ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram," sambung Syakir.
Rizki datang dengan mangkuknya yang berisi mie – yang baunya menyerbak ke semua hidung yang ada di ruangan. "Emang yah related banget sama kehidupan?"
"Apa?" sahut Syakir.
"Itu ayat yang tadi kamu sebut." Rizki meletakkan mangkuk mienya tepat di samping Jihad. "Dan emang sih terbukti juga dari penelitian-penelitian orang, kalau kesejahteraan psikologis seseorang itu erat kaitannya sama keimanan mereka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Novela JuvenilDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
