Setelah lama tidak kumpul berempat karena disibukkan oleh kegiatan komunitas dan kerjaan masing-masing, akhirnya mereka berempat meluangkan waktu untuk kumpul di warung mie langganan mereka setelah mengikuti kajian. "Gimana pendaftaran S2 kamu, Yadh?" tanya Azriel.
"Lagi diurus sekarang," jawab Fayyadh. Mereka masih menunggu pesanan.
"Semoga dimudahkan," kata Syakir. "Oh iya, ini nanti aku yang traktir yah ... gaji pertamaku sebagai jurnalis hehehe."
Syakir memang sebulan ini sedang bekerja di kantor koran swasta sebagai jurnalis. Jangan heran kenapa ia yang dari jurusan sejarah peradaban Islam bisa tembus ke dunia jurnalis karena memang Syakir sejak SMA rajin mengirimkan karya-karya tulisannya yang berupa opini di berbagai media, sehingga tulisannya cukup dikenal di kalangan jurnalis, terutamanya kantor tempatnya bekerja. Itulah kenapa, saat ia mengajukan CV, ia langsung diterima.
"Widih ... aku suka nih yang begini-begini," kata Alfian semangat.
"Selamat, Kir, betah kerjanya," sambung Fayyadh.
"Biar sering-sering traktir kita," lanjut Azriel.
"Gantian dong, kita semua kan udah kerja," sahut Syakir.
Alfian langsung menimpali, "Aku kan udah."
"Udah semua kali, tapi tenang aja, insyaa Allah abis seminar aku besok lusa, kalian aku traktir," tutur Fayyadh.
"Ketuaku nih," sambut Alfian.
"Ustaznya aku hahaha," tambah Azriel.
Setelah pesanan mereka datang, mereka langsung menyantap mie masing-masing sambil bercanda satu sama lain, membicarakan komunitas, pekerjaan, hingga sampai pada pernikahan.
"Umur kita udah waktunya sih emang menikah," ujar Azriel. Soal ini, entah sudah berapa kali menjadi bahan obrolan mereka, tapi tetap saja, tidak ada bosan-bosannya selagi mereka masih pada menjomblo.
"Maharku belum cukup sih." Alfian masih saja menambahkan kecap dan saus lombok di mangkuknya yang kuah mienya tersisa sedikit.
"Jangankan mahar, calonnya aja aku belum dapat," timpal Syakir.
Azriel yang sudah selesai dengan mienya memesan kopi panas dan pisang goreng. Sepertinya laki-laki itu berniat untuk menghabiskan waktunya lebih lama di warung mie ini.
"Oh ya, Yadh, Raila gimana?"
Pertanyaan Alfian tidak hanya mengundang perhatian orang yang ditanya, tetapi juga Syakir dan Azriel. "Kenapa Raila?" balas Fayyadh.
Alfian megibaskan tangannya di depan wajah. "Aku denger kemarin di sekret obrolan kalian."
"Emang obrolannya apa?" tanya Azriel kepo.
Fayyadh meringis. Ternyata Alfian mendengar obrolannya dengan Raila. Meskipun tidak ada pembahasan apa-apa, tapi sepenuhnya Fayyadh sadar dalam obrolannya bersama Raila kemarin itu ada hal yang samar-samar melampaui obrolan biasa.
Melihat Fayyadh yang tidak juga angkat suara membuat Syakir terkekeh. "Fayyadh, kita udah sahabatan lama. Mungkin kamu gak sadar karena kamu pemerannya, tapi kami sebagai sahabat yang udah kenal kamu luar dalamnya, mengamati dari luar sadar betul, kalau antara kamu dan Raila itu ada sesuatu yang tidak kasat oleh mata."
Azriel dan Alfian tertawa kompak mendengar tuturan Syakir barusan. "Tidak kasat oleh mata, bahasamu, Kir, hahaha," komentar Azriel.
Sementara Fayyadh, ia menatap ketiga sahabatnya dengan jengah. "Aku sadar kok," ucapnya.
"Masa emang gak sadar, udah segede itu," timpal Alfian.
"Jadi, mau nikahin nih?" to the point banget Azriel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Teen FictionDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
