Bab 9 (Prinsip & Kerjaan)

11 0 0
                                        

Raila Nazwa Aprilia merupakan mahasiswa Sastra Indonesia di UGM yang sudah berada di semester akhir. Alasannya ikut di komunitas titik koma karena ia senang dengan ilmu-ilmu terkait kesehatan mental, dan juga yang paling penting ia merasa butuh dengan komunitas itu.

Di saat ia sedang berada di fase-fase capeknya dengan keadaan, ia menemukan selebaran pamflet komunitas kesehatan mental bernuansa islami yang dibagikan oleh tiga orang laki-laki. Titik koma, komunitas itu sudah tidak asing lagi di telinga Raila, dan ia memang sudah menunggu-nunggu pendaftarannya dibuka. Olehnya, ia langsung memberitahu seseorang bahwa ia akan mendaftarkan diri di komunitas tersebut. Seseorang yang tidak meresponnya sampai ia mengisi link pendaftaran. Baru ia membalasnya dengan kata 'iya' sehari setelah Raila mendaftarkan diri, dan pada saat itu Raila sudah tidak membutuhkan jawabannya.

Notifikasi pesan terdengar dari hp Raila yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Ia yang habis membuat coklat panas di dapur meraih benda pipihnya itu kemudian mengecek siapa yang mengiriminya pesan. Maya – satu teman dekatnya yang tersisa.

Maya : Jadi ikut komunitas itu?

Raila : Titik koma? Jadilah.

Maya : Arkam ngizinin?

Raila : Gak ngizinin pun aku berhak nentuin mau atau nggak.

Maya : Jadi, Arkam gak ngizinin?

Raila : Aku gak bilang Arkam gak ngizinin, Maya.

Maya : Jadi, Arkam ngizinin?

Raila : Arkam kan, 'asal aku bahagia'.

Belum sempat Raila menaruh hp-nya di atas nakas, balasan pesan Maya kembali muncul di notifikasinya.

Maya : Iya juga sih wkwwk.

Raila sudah malas membalas pesan Maya itu. Ia memilih mengambil buku bacaannya yang belum tamat. Judulnya, "Belajar dari Negeri Para Nabi" karya Edgar Hamas. Saat sedang asyik memaknai tiap kata yang ia baca, tiba-tiba Raila teringat kejadian di indomaret. Kok bisa sekebetulan itu ia bertemu dengan Fayyadh? Ketua titik koma? Ah senyumnya tanpa sadar terbit.

Buku yang tadi dibacanya, ia tutup lalu mengganti fokusnya pada ponsel. Ia tiba-tiba penasaran ingin mencari instagram ketua titik koma itu. Tidak sulit, cukup masuk di instagram komunitas, lalu melihat akun yang menyukai postingannya. Ada akun _Zaffayyadh. "Pasti dia," pikir Raila. Ia segera membuka akun itu. Untung tidak diprivasi. Segera Raila membaca apa-apa yang Fayyadh posting.

Teruntuk apa-apa yang dimulai karena-Nya, pastilah akan menemukan hasil paling indah nantinya, dan Dia akan selalu memberi jalan untuk menuju hasil itu.

-Zafran

Feed instagram Fayyadh terlihat rapi, sama seperti penampilannya yang selalu rapi dengan topi hitam di kepalanya. Setiap quotes yang diposting ditulis dengan latar putih dan di pojok kanan bawah tertulis: -Zafran.

Tidak ada yang abadi, semuanya fana, kecuali Dia.

-Zafran

Hati-hati sekali Raila menscroll instagram Fayyadh, takutnya tangannya terpeleset memencet tombol love. Kan tidak lucu.

Kenalilah dirimu dengan baik, jangan tergesa memilih. Insyaa Allah, nanti akan datang cerminan dirimu, maka wahai diri, berbenahlah selalu menjadi lebih baik.

_Zafran

Lagi, Raila menscroll quotes yang diposting oleh Fayyadh.

Perempuan. Ia telah diistimewakan oleh agama. Rambutnya adalah mahkota, yang tidak sembarang laki-laki berhak menikmati keindahannya. Hanya saja, kadang perempuan melupakan keistimewaannya itu.

Rambu; (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang