Dalam hening, Fayyadh mendirikan salat malam. Ia mengaduh pada Tuhannya terkait perasaannya yang sulit ia tebak, ia juga mengutuki dirinya, kenapa bisa ia tiba-tiba memuji Raila seperti tadi? Fayyadh tidak meminta siapa-siapa dalam doanya, ia hanya meminta untuk diberi kemudahan dalam mengontrol perasaannya. Jika ditanya apakah Fayyadh sudah siap menikah? Fayyadh juga belum menemukan jawaban itu, sebab sekarang ia tengah mengurus lanjutan pendidikannya, dan juga ia belum mempunyai penghasilan tetap.
Namun, di sisi lain, ia merasakan perasaan yang sulit terbendung pada seorang perempuan. Haruskan ia meminta perempuan itu untuk menunggunya? Tapi untuk apa? untuk perempuan itu mengetahui perasaan Fayyadh? bukankah itu hanya akan menimbulkan hal-hal yang lebih di luar kendali lagi? Sungguh, benarlah bahwa jatuh cinta sebelum menikah akan membuat seseorang menjadi lemah, sedangkan jatuh cinta setelah menikah akan membuat seseorang menjadi kuat.
***
Akhir 2023
Fayyadh keluar dari kamar mandi segera saat mendengar panggilan masuk dari ponselnya berbunyi dari tadi. Ternyata Rizki, segera ia menggeser tombol hijau. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ki, ada apa?"
"Wa'alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh, ini soal beasiswa Alim."
Mendengar topik yang akan Rizki bicarakan membuat Fayyadh duduk di ujung tempat tidurnya sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. "Gimana? berhasil nggak?"
"Dipersulit, Yadh."
"Kok bisa?" Fayyadh mengerutkan keningnya.
"Katanya beasiswa untuk Alim itu memang sudah dicabut dari pusat, dan akan kembali jika di pemilihan caleg nanti Alim dan dua orang keluarganya bersedia memilih partai tertentu."
Fayyadh tambah bingung mendengar penjelasan Rizki. "Kok bisa begitu?"
"Yah, tau sendirilah gimana cara main negeri kamu, Yadh, hahaha."
"Kenapa sih? Ini beasiswa masalah pendidikan loh, kenapa dicampuradukkan sama politik-politik kotor gitu?" Fayyadh jengah menyaksikan cara main para caleg-caleg itu. Beberapa hari yang lalu juga ia mendapatkan tawaran di titik koma dari sebuah partai, ia ditawari untuk dibuatkan seminar besar-besaran dengan catatan, yaitu Fayyadh dan anggota titik koma yang lain turut mengkampanyekan partainya. Tentu tanpa pikir panjang hal itu ditolak langsung oleh Fayyadh.
Terdengar embusan napas Rizki di seberang. "Emang sekarang masanya lagi gitu, Yadh. Bukan Cuma Alim, tapi aku juga denger banyak mahasiswa yang beasiswanya terancam dicabut kalau milih calon lain."
"Jadi gimana solusinya? Mana Alim juga udah tau kalau beasiswanya akan beres secepatnya. Ini aja udah molor banget." Fayyadh pusing memikirkan nasib Alim.
"Aku coba cari temen yang bisa bantu."
"Jangan pakai orang dalam jugalah, Ki." Fayyadh mengingatkan, ia sangat takut memanfaatkan jabatan seseorang.
"Aman-aman, aku cuma mau dibantu soal teknisnya gimana, biar tuh pengurus-pengurusnya gak pada rusuh suruh coblos ini itu dulu baru mau dikasih. Udah tau Alim tinggal berdua aja sama neneknya, udah gak ada yang biayain, eh malah masih dipersulit," Omel Rizki di seberang.
"Iya, iya ... untuk hari ini kamu ngurus sama Azriel dulu yah? kayaknya juga dia ada kenalan yang bisa bantu, aku ada urusan," ujar Fayyadh.
***
Fayyadh tidak tahu kenapa Selli – bosnya di kafe tempat dia bekerja kemarin tiba-tiba memintanya ketemu di taman dekat kafenya. "Ada apa, Selli?" tanya Fayyadh langsung pada intinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Novela JuvenilDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
