Pertengahan 2023
Fayyadh tersenyum puas ke arah Raila setelah selesai menutup acara yang mereka adakan di rumah sakit selama seminggu bersama anak-anak yang dirawat. Acara tersebut mereka usung dengan tujuan untuk membuat anak-anak itu merasa bahagia dan merasa selalu punya kesempatan untuk hidup lebih lama. Tentu pendekatan yang Fayyadh rancang tidak lepas dari ilmu-ilmu keagamaan. Ia membuka kelas mengaji bersama, menperdengarkan cerita-cerita umat terdahulu, dan lain sebagainya.
Satu fakta yang Fayyadh ketahui dari acara yang mereka adakan tersebut, yakni Raila ternyata banyak tahu kisah-kisah terdahulu. Hal tersebut ia lihat dari kelihaian perempuan itu dalam menceritakannya kepada anak-anak, dan jujur, dirinya kagum akan kemampuan Raila itu. Namun, ada yang mengganjal di hati Fayyadh, kala senyumnya ia tujukan pada Raila tidak berbalas dengan sempurna.
"Ada apa?" tanyanya mengambil kursi di samping Raila
Raila menggelengkan kepalanya sembari memaksakan senyumnya. "Acaranya sukses, Kak, kata dokter, ini harus diadain lagi." Bukannya menjawab pertanyaan Fayyadh, Raila malah membahas hal lain.
Fayyadh paham, perempuan itu tidak ingin bercerita padanya, maka ia pun mengangguk. "Terima kasih yah, ini berkat kerja tim_"
"Berkat Allah, itu kan yang sering Kak Fayyadh bilang hehe," potong Raila tersenyum, dan hal itu membuat Fayyadh tertawa ringan.
Sungguh, Fayyadh merasa sangat bersyukur. Akhir-akhir ini, titik koma sudah banyak mengadakan acara yang disambut baik oleh berbagai pihak, termasuk acara psikoedukasi yang ia selenggarakan di tiga pesantren secara serempak dengan mengkampanyekan 'lawan kekerasan yang ada di lingkungan pesantren'. Awalnya memang psikoedukasi yang hendak Fayyadh laksanakan tidak menyinggung terkait kekerasan-kekerasan dalam pondok. Namun, melihat keadaan, ia merasa perlu. Jadinya, ia adakan kampanye itu, dan syukurnya, warga pesantren menyambut dengan senang hati, tanpa ada yang merasa dirugikan.
"Aku ke Alim yah?" Fayyadh meninggalkan Raila dan menghampiri Alim yang duduk tidak jauh dari tempat mereka.
"Acaranya sukses," kata Fayyadh menepuk bahu Alim. "Dan kamu berhasil memberikan inspirasi bagi ibu-ibu yang kehilangan anaknya."
Yah, selain acara mereka ditujukan ke anak-anak, juga ditujukan kepada orang tua yang telah kehilangan anaknya, salah satunya adalah ibunya Tias, dan pembawa materinya adalah Alim yang kehilangan ibunya dua bulan lalu. Laki-laki itu menceritakan bagaimana ia berada di posisi paling rendah dalam hidupnya kala itu, di mana ia harus kehilangan sosok ibunya dengan cara yang naas. Di samping itu, beasiswanya dicabut, sementara di rumah sakit ada neneknya yang juga dirawat.
"Aku merasa betul-betul buntu kala itu, betul-betul merasa ingin menyerah. Mengakhiri semuanya," tutur Alim di hadapan para orang tua yang telah kehilangan anaknya. "Aku berada di titik terendah aku. Bahkan dalam beberapa jam aku lupa bahwa aku ada Allah yang selalu bisa menolong hamba-Nya. Tiga hari kepergian ibu, muncul kesadaran dalam diri aku bahwa kalau aku menuruti kesedihanku, aku meratapi kehilanganku, maka aku kehilangan semuanya, bahkan mungkin diri aku sendiri. Bersyukur, ada teman-teman dari titik koma yang selalu mensupport aku."
Alim mengambil napas pelan, kemudian melanjutkan, "Ibu dan bapak, kehilangan orang yang kita cintai memang merupakan sebuah pukulan paling keras dalam hidup kita. Pedih rasanya, ngilu diratapi. Namun, apakah kepergian mereka juga merupakan akhir dari hidup kita?" Alim terdiam sejenak menunggu respon dari audience-nya. "Tidak. Kepergian mereka bukan akhir dari hidup kita pula." Ia menjawab sendiri saat yang ditanya hanya terdiam merenungi apa yang baru Alim utarakan di depannya.
"Kita harus ingat, masih banyak orang-orang yang bisa menjadi alasan kita untuk melanjutkan hidup. Yang pergi, biarkan ia pergi. Ia tidak pergi ke mana-mana, ia sedang pulang kepada pemilik-Nya. Kita pun sama, cepat atau lambat, kita akan menyusul. Kembali kepada pemilik kita, yaitu Allah. Soal rasa sedih, sakit, ngilu, tentu itu tidak bisa dihindari, tapi sampai kapan kita harus meratapi? Sekali lagi, hidup akan terus berjalan, meskipun kita tidak bergerak sama sekali."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Teen FictionDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
