Sehabis salat asar, Raila menjemput Ririn di sekret. Mereka janjian untuk berangkat bersama menuju tempat yang diinformasikan oleh Fayyadh sebagai tempat janjian mereka dengan Pak Halim. Lebih tepatnya sih Ririn yang meminta Raila menjemputnya karena motornya sedang bermasalah.
Sampainya di sekret, ternyata Ririn belum salat. Jadilah Raila menunggu di ruang tengah – tempat mereka biasa mengadakan rapat dan lain-lainnya – sembari Ririn salat di kamar. Raila memperhatikan ruangan yang ia tempati kini. Sederhana, tapi rapi penataannya. Ada satu meja lesehan yang ukurannya panjang, di atasnya terdapat berkas-berkas yang tersusun rapi. Di meja itu pula ada satu vas bunga dan bingkai 10R yang isinya gambar hagia sophia. Di dinding samping meja itu, terdapat gambar titik koma (dalam bentuk tanda baca) dengan ukuran yang besar. Di bawahnya ada tulisan: mental yang sehat sejatinya mengokohkan iman. Di sisi dinding yang lain, terdapat beberapa bingkai yang ukurannya berbeda-beda, ada foto-foto kegiatan, baik itu aksi sosial, ataupun seminar. Ada juga beberapa bingkai yang berisi sertifikat sebagai pemateri, ada nama Rizki, Ivy, Azriel, dan juga Fayyadh yang paling banyak sertifikatnya.
Raila baru sempat membaca aturan yang tertempel di dekat tanda titik koma (;) yang besar itu. Aturan pertama: taat pada rambu agama; aturan ke-2: apabila berada di sekret pada waktu salat, wajib salat berjamaah (bagi perempuan) dan laki-laki ke masjid; aturan ke-3: Jaga interaksi antara lawan jenis. Sampai aturan ke-3, Raila tersenyum sendiri membacanya. Pikirnya, ajaib, seperti komunitas keislaman saja, tapi ia kagum pada siapapun yang mencetuskan aturan itu. Ia baca-baca lagi ke bawah aturannya, hingga ia sampai pada aturan: perempuan wajib pakai jilbab. Refleks, Raila memegang rambutnya yang saat itu ia ikat satu.
"Itu aturan lama, Kak, Kak Fayyadh dan kawan-kawan yang bikin. Kak Ivy udah revisi aturannya, tapi belum sempat aja itu diganti." Ririn muncul sembari memperbaiki jilbabnya.
Raila menoleh. Ia menunjuk aturan terkait kewajiban menggunakan jilbab. "Jadi, ini gimana? aku gak pakai jilbab, dan beberapa anggota baru lainnya juga ada yang nggak pakai."
Ririn mendekat ke arah cermin yang menggantung di sisi dinding lain. "Kan tadi aku bilang, Kak, itu aturan baru. Udah direvisi sama Kak Ivy. Aturan wajib jilbab itu udah gak ada. Gitulah kalau yang diriin komunitas mantan ketua rohis."
"Emang yang diriin siapa?" tanya Raila penasaran, meski ia sudah bisa menebak siapa yang dimaksud oleh Ririn.
"Kak Fayyadh bareng sahabat-sahabatnya itu; Kak Alfian, Kak Syakir, sama Kak Azriel, tapi aku salut sih, Kak, sama mereka. Di tengah para cowok yang masa bodoh sama aturan agamanya, mereka selalu saja mengedepankan tuh aturan agama. Rambu-rambu agama kalau istilah mereka," tutur Ririn.
Raila tersenyum mendengarnya. Ia bersyukur, akan masih adanya pemuda-pemuda yang peduli terhadap agamanya. "Maa syaa Allah yah mereka."
Ririn yang sudah siap dengan tas selempangnya menoleh. "Maa syaa Allah banget, Kak. Maa syaa Allah-nya lagi kalau salah satunya jadi suami aku hehehehe."
Tawa ringan Raila terdengar saat mendengar kalimat terakhir lawan bicaranya barusan. "Aku aamiinin."
Ririn nyengir mendengar aamiin dari Raila. "Ya udah, Kak, yuk kita berangkat. Takutnya Pak Halim udah datang duluan. Kak Fayyadh kayaknya udah nungguin, udah nelpon tiga kali nih, tapi gak aku angkat hehehe."
***
Sehabis salat isya, Fayyadh dan ketiga sahabatnya mengikuti kajian di masjid dekat sekret mereka. Ada Rizki juga yang katanya ingin coba-coba ikut. Sedangkan Alim, anak itu berjanji akan datang, tapi entah kenapa sampai selesai acara ia belum juga muncul.
"Gimana, Ki? nagih nggak ikut kajian?" tanya Alfian kala mereka sudah berada di teras masjid. Kebiasaan mereka habis kajian nongkrong dulu di masjid baru pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Teen FictionDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
