November, 2022
Merasakan teduh di bawah langit yang pernah menaungi derap langkah kaki sebaik-baik pasukan dan panglima adalah hal yang diimpikan oleh Fayyadh. Besar keinginannya untuk melihat secara langsung gerbang konstantinopel yang dibuka oleh Alfatih dan pasukannya pada tanggal 29 Mei 1453. Gigih tekadnya untuk suatu hari dapat memasuki dan melakukan ibadah di Hagia Sophia. Kakinya terasa rindu untuk melangkah, menyusuri jejak-jejak sejarah di negeri yang salah satu julukannya adalah Bumi Bisyarah Nabi Muhammad.
Sejarah telah mencatat bahwa melalui lisan laki-laki paling mulia dijanjikan terbukanya kota Konstantinopel, dan setelah beratus-ratus tahun terbuktilah ucapan itu. Sultan Mehmed II atau yang dikenal dengan Muhammad Alfatih berhasil meraih gelar sebaik-baik panglima dan pasukannya menjadi sebaik-baik pasukan yang dijanjikan.
"Jadi, gimana? kalau aku sih terserah kamu, Yadh."
Tatapan Fayyadh masih fokus ke layar laptop di depannya yang menampilkan pengumuman kelulusanya di salah satu universitar di Turki. Sebenarnya, bukan dia yang mendaftarkan diri untuk program magister di Turki, melainkan dosen pembimbingnya. Pada saat itu ia sempat menolak, tapi dosen pembimbingnya meyakinkan untuk sekadar mencoba terlebih dahulu, dan akan membantu segala urusan pendaftarannya. Fayyadh pun mengiyakan, pikirnya ia juga tidak mungkin lulus, ada banyak orang yang ditemaninya bersaing untuk merebut kuota beasiswa yang terbatas itu. Namun, nyatanya setelah melewati beberapa tahap yang dia tidak serius-serius amat melaluinya ia menjadi salah satu peserta yang lulus.
Alfian kembali melanjutkan kalimatnya, "yang lain juga pasti support kamu. Kami semua tau, betapa kamu rindunya menginjakkan kaki di Turki sana."
Helaan napas berat terdengar dari mulut Fayyadh. Ia belum merespon ucapan Alfian saat laki-laki itu kembali menambahkan kalimatnya, "kalau soal titik koma yang memberatkan kamu untuk berangkat, kamu tenang aja. Aku gak bisa janji, tapi kamu pasti tau kalau kami akan mengusahakan yang terbaik."
Berat memang di hati Fayyadh jika ia harus meninggalkan komunitasnya yang baru beberapa bulan aktif secara offline itu setelah 2 tahun hanya bergelut lewat online. Namun, bukan itu yang menjadi satu-satunya penyebab kebimbangannya. "Bukan cuma soal itu, Fian." Fayyadh akhirnya angkat suara. "Kamu tau, aku tidak terlalu suka dengan beasiswa."
Alfian menggelengkan kepalanya. "Aneh sih kamu memang. Di saat yang lain ngejar beasiswa, kamu malah justru mau melepasnya, tapi kamu harus pertimbangin baik-baik, Yadh. Ini Turki loh. Salah satu negeri impian kamu."
Senyum miring tercetak di sudut bibir Fayyadh. "dan aku bukan orang yang mau menggadaikan prinsip aku demi impian aku, Fian, kamu tahu itu. Mimpi bisa aku raih dengan banyak cara, tapi prinsip. Dia adalah satu pegangan yang membuat aku merasa berharga."
Ah sifat Fayydh ini sudah sangat Alfian dan yang lain hafal, dan itu yang membuat mereka kagum pada sahabatnya yang satu ini. Namun, dalam beberapa hal juga kadang ia kesal sendiri dengan keteguhan laki-laki itu memegang prinsipnya. Seperti sekarang ini.
"Kalo sudah bicara prinsip kamu, aku tau aku gak bisa lunakin kamu, tapi ayoklah, Yadh." Alfian masih berusaha meyakinkan Fayyadh untuk menerima beasiswa itu, meski ia sadar bahwa usahanya tidak mungkin berhasil juga. "Andai saja bisa tukar posisi, Yadh, sini aku aja yang gantiin kamu. Kapan lagi dapat beasiswa, Turki pula hahaha."
"Gini yah, Fian." Fayyadh memperbaiki posisi duduknya. "Aku dari semasa masuk sekolah diajarkan sama kakek. Katanya, jangan terlalu mengejar beasiswa, kalau perlu nggak usah. Kenapa? kata kakek, mendapat beasiswa itu tanggung jawabnya berat. Siapapun yang memberikan kita beasiswa, secara tidak langsung ia mengikat kita, membuat kita berutang budi, sekalipun itu negara, dan memang harusnya begitu. Kata salah satu dosenku juga, seseorang yang mendapat beasiswa dari negara harusnya lebih banyak berkontribusi untuk negeri dibanding yang tidak mendapatkan. Aku setuju soal itu. Dan aku yang gak mau nerima beasiswa bukan berarti gak mau berkontribusi untuk negeri, tapi aku gak mau terikat. Aku juga gak bisa menjamin beasiswa yang kudapat sepenuhnya kugunakan untuk keperluan pendidikanku, bukan hal lain, sekalipun itu untuk memenuhi keinginanku membeli permen di kantin kampus."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Fiksi RemajaDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
