Sehabis membersihkan badannya, Fayyadh membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamarnya mengingat obrolannya bersama orang tuanya di meja makan kemarin malam.
Fayadh bergabung bersama ibu dan ayahnya di meja makan sekembalinya dari salat isya di masjid. Ia duduk tepat di depan ibunya yang sedang menyendokkan nasi ke piring sang ayah. Dulu ia pernah berdoa pada Allah agar kelak istrinya lembut dan penyagang seperti ibunya, dan bisa memperlakukannya seperti sang ibu memperlakukan ayahnya.
"Jadi melamar kerja, Nak?" Tanya Ridwan – sang ayah yang sudah memulai makannya.
Fayyadh menjawab sambil mengisi piringnya dengan lauk. "Insyaa Allah besok wawancaranya, Yah. Doain keterima."
"Insyaa Allah doa ibu selalu yang terbaik buat kamu, Yadh, dan adik-adikmu," tutur Ratih sembari mengisi piringnya lauk pauk.
"Insyaa Allah. S2-mu bagaimana? tidak jadi?" Ridwan menatap anaknya di sela-sela seriusnya mengunyah makanannya.
Fayyadh membalas tatapan ayahnya. "Aku masih usahain kok, Yah, Insyaa Allah."
"Bagus. Ayah nggak nyekolahin kamu buat kerja, tapi untuk mendapatkan ilmu. Jadi, selagi ayah mampu membiayaimu, lanjutkan pendidikanmu."
Betapa beruntungnya Fayyadh memiliki ayah yang sangat peduli pada pendidikannya. "Insyaa Allah, Yah, tapi untuk saat ini, izinin aku kerja ya? aku tau, ayah masih mampu membiayaiku, tapi nggak ada salahnya juga kan kalau aku usaha juga?"
Ridwan tersenyum pada putranya itu. Ia merasa bangga dengan pemikiran-pemikiran yang tertanam dalam diri Fayyadh. "Tentu." Memang itulah yang ingin ia dengar dari putranya. Ia ingin melihat sudah sejauh apa kedewasaan Fayyadh. Laki-laki yang selalu ia doakan untuk menjadi kebanggaan keluarga, bangsa, dan terlebih untuk umat. Tidak terasa, mata Ridwan berembun, ia buru-buru menunduk dan fokus pada makanan di piringnya. Begitulah kiranya sang ayah, terlihat tegas, tetapi sangat lembut dan penuh harap terhadap anak-anaknya.
"Apa kamu belum ada keinginan untuk menikah, Fayyadh?"
Pertanyaan Ratih sontak membuat Fayyadh terbatuk-batuk dan Ridwan mendongakkan kembali kepalanya. Sebagai seorang ayah, ia juga punya pertanyaan yang sama sebenarnya untuk Fayyadh. Namun, ia tidak pernah berkeinginan untuk menanyakannya langsung. Baginya, untuk urusan menikah, biarkan anaknya sendiri yang mengajukan pembicaraan itu jika memang sudah ada keinginan dalam dirinya.
"Maksud ibu, kamu bisa kan lanjut S2 setelah nikah? umurmu sekarang sudah ideal-idealnya menikah. Muhammad Al-Fatih yang kamu suka kisahnya itu menikah di umur tujuh belas tahun," lanjut Ratih.
Sebelum menyahut, Fayyad terlebih dahulu membasahi tenggorokannya dengan meminum air putih. "Kepikiran sih, Bu." Sedikit Fayyadh meringis akan kalimat yang barusan ia ucapkan, buru-buru ia menambahi, "tapi belum sekarang, Bu."
"Ibu boleh nanya lagi?"
Fayyadh mengerutkan keningnya sambil mengangguk ragu. Tumben-tumbenan ibunya meminta izin seperti ini untuk bertanya, tadi juga bertanya langsung.
"Itu juga udah nanya loh, Bu, hehehe." Ridwan sedikit bercanda. Sementara Fayyadh dengan penasaran menunggu pertanyaan sang ibu.
"Fayyadh ada dekat sama perempuan?"
Untuk kedua kalinya Fayyadh terbatuk mendengar pertanyaan ibunya. Sementara sang ayah langsung menyahut, "ibu nanya apa sih? kita kan tau Fayyadh gimana, kita mendidik dia dengan pengajaran menjaga interaksi dengan lawan jenis."
"Ibu kan cuma nanya." Ratih kembali menyuap nasinya yang tadi sempat dianggurkan.
Fayyadh tersenyum. "Alhamdulillah nggak ada, Bu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Teen FictionDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
