Bab 3 (Soal Tanggung Jawab)

10 2 0
                                        

"Jadi, kamu menolaknya?" Suara Ridwan – Ayah Fayyadh memecah keheningan di meja makan kala mereka tengah makan malam bersama.

Sebelumnya, Fayyadh sudah menjelaskan bahwa ia mendaftar beasiswa dan ia diterima, tetapi kemudian menolak beasisnya itu. "Iya, Yah, dengan berbagai pertimbangan yang aku sampaikan."

"Kalau ibu sih, ibu setuju dengan sikap yang kamu ambil," kata Ratih – Sang Ibu – sambil menambahkan nasi ke piring sang suami.

Ridwan tidak menghiraukan kalimat istrinya. "Bukannya kamu sangat ingin ke Turki?"

"Prinsipku lebih penting, Yah, pun tanggung jawabku. Komunitas titik koma baru beberapa bulan kami aktifkan setelah dua tahun hanya melalui media sosial pergerakannya, dan aku masih memegang amanah sebagai ketua, tanggung jawabku besar, Yah," ujar Fayyadh.

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepala. "Sama seperti ibumu, ayah setuju dengan keputusanmu. Kamu sebagai ketua titik koma memang harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu pimpin, tidak meninggalkannya begitu saja demi mimpi kamu yang ada di depan mata, apalagi posisi komunitas kamu itu yang baru beberapa bulan memulai aktif, pasti berat. Kalau kamu tinggalkan di saat seperti itu, apa itu yang dikatakan bertanggung jawab?"

Fayyadh mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, Yah, aku mengerti maksud ayah."

"Dan ayah bangga sama keputusan kamu." Ridwan tersenyum-senyum tipis melihat putranya itu. Dari kecil, Fayyadh memang selalu diajarkan rasa tanggung jawab oleh kedua orang tuanya, terutamanya sang ayah. "Soal mimpi kamu, insyaa Allah nanti ada saja jalannya. Percayalah."

Ibunya ikut tersenyum. "Insyaa Allah kalau rezekimu kuliah di Turki nanti juga akan ada lagi kesempatan buat kamu, yang datangnya di waktu yang tepat, dan kamu sudah siap."

Begitulah bersahajanya potret keluarga Fayyadh. Ayahnya bekerja sebagai jurnalis di salah satu kantor koran swasta yang ada di Jogja. Sedangkan ibunya, ia bekerja sebagai pekerja sosial di panti jompo. Ia memiliki dua adik perempuan yang sedang bermukim di pesantren. Satu sudah kelas 2 Aliah, sementara satunya lagi yang paling bungsu kelas 1 Tsnawiyah.

***

Awal 2023

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

Semua yang ada di ruangan menoleh saat suara Fayyadh terdengar. Serempak menjawab, "Wa'alaikummussalam warahmatullahi wabarakatuh."

"Gimana? udah aman semuanya?" Fayyadh duduk di antara teman-teman komunitas mereka yang sedang berkumpul.

Ririn yang sebelumnya diberikan tugas untuk membuat pamflet menyerahkan satu pamflet yang sudah diprint. "Aman, Kak."

Fayyadh membaca dan memperhatikan dengan teliti selebaran kertas itu. "Oke. Jadi, besok kita nyebar yah?"

"Ini beneran kuotanya dibatasi, Kak, dua puluh aja?" tanya Alim yang sedang sibuk menghabiskan keripik pisang yang tadi Ivy bawa dari rumahnya.

"Menurut kalian gimana? kita batasi atau kita terima sesuai jumlah yang mendaftar?" Fayyadh kembali mempertimbangkan kebijakan yang ia tetapkan. Ia ingin mendengarkan suara dari anggotanya.

"Kalau aku sih gak usah dibatasi, Kak," sahut Ririn.

"Kalau aku ... menurut kamu aja baiknya gimana." Azriel tidak memberikan pendapatnya, melainkan ia kembali menyerahkan keputusan pada Fayyadh.

Alfian ikut memberikan pendapatnya. "Kalau aku boleh aja sih dibatasi, tapi gak perlu seleksi-seleksian gitu."

"Maksudnya?" kejar Fayyadh.

"Ini loh syaratnya sehat mental, hmmm ... aku kayak kurang gimana yah?" Alfian tampak berpikir. Ia memperhatikan pamflet yang juga ada di tangannya, yang berisi aturan-aturan serta syarat-syarat gabung di komunitas.

Ivy mengangguk mendengar kalimat Alfian. "Yap. Syarat itu gimana yah? hmm siapa yang menjamin sih mental orang sesehat itu? pastilah semua orang punya titik lemah terhadap mental mereka."

"Iya, Yadh, ini dihapus aja kali," kata Azriel.

Syakir ikut menyetujui. "Yang penting waras hahaha."

Fayyadh yang tadinya berpikir pun akhirnya menganggukkan kepala. "Ya udah, ini dihapus, tapi kuota dibatasi." Finalnya. "Bagusnya berapa?"

"Empat puluh?" suara Alim.

"Lima puluh lah." Suara Ririn.

"Tiga lima?" Suara Ivy.

"Tiga puluh?" Suara Alfian.

Fayyadh menatap Azriel dan Syakir yang belum bersuara.

Syakir pun berucap, "dua puluh aja."

"Dua lima?" Fayyadh kembali memberikan opsi.

Alfian mengangguk. "Ya udah, segitu aja."

"Aku setuju," sambung Ivy, dan semuanya ikut menyetujui.

Begitulah cara Fayyadh memimpin, ia selalu memberi kesempatan kepada teman-temannya untuk bersuara dan ia menghargai setiap pendapat yang keluar. Namun, keputusan final tetap ada pada dirinya setelah mempertimbangkan baik-baik apa yang teman-temannya inginkan. Adapun, soal pembatasan kuota peserta ia terapkan tidak lain hanya karena tingginya rasa tanggung jawabnya terhadap setiap anggotanya. Ia tidak ingin merekrut anggota dengan jumlah banyak, tetapi ia tidak bisa menjamin hak-hak mereka dalam komunitas dengan baik. Sifat Fayyadh tersebut sudah Alfian, Azriel, dan Syakir hafal.

Kata Alfian suatu hari, "hak apanya sih mereka yang mau dipenuhi? maksud aku yah mereka masuk komunitas, yaudah masuk aja. Komunitas gak wajib menghidupi mereka atau memberikan apa gitu."

Fayyadh tidak langsung menjawab tuturan Alfian, ia malah menarik napas pelan. Setelahnya, barulah ia berujar, "sekilas memang jika hendak dipikir ... memang seperti itu. Betul bahwa komunitas gak ada kewajiban untuk menghidupi mereka atau memberikan apapun itu, tapi bagi aku, ketika seseorang itu sudah menyatakan kesediaannya dan udah bergabung di komunitas yang aku pimpin, aku ingin mereka mendapat nilai sendiri juga, bukan hanya nilai komunitas."

"Maksudnya?" sela Syakir yang kurang paham.

"Aku tau, semua orang punya rana pribadi, kehidupan yang gak bisa dicampuri oleh orang lain, tapi aku mau sesama anggota komunitas, kita gak Cuma hadir untuk menyelesain masalah yang menyangkut komunitas. Namun, juga permasalahan anggota. Itu jika konteksnya kita bisa membantu, contoh kecilnya, jika ada yang ekonominya sulit."

Rasa tanggung jawab yang tinggi pada teman-temannya membuat Fayyadh disenangi jika berada dalam posisi memimpin, semisal ketua panitia, atau ketua rombongan belajar. Pernah satu hari, salah satu teman kelasnya terlambat masuk kelas karena salah gedung. Fayyadh pun meminta maaf karena ia merasa tidak detail menyampaikan informasi. Kronologinya, salah satu mata kuliah pada saat pertemuan ke-3, oleh dosen pengampu dipindahkan ruang kelas pembelajarannya di gedung sebelah. Fayyadh pun menyampaikannya di grup. Pertemua ke-3, mahasiswa yang terlambat itu tidak hadir, berlanjut pertemuan 4, 5, sampai 6 barulah ia hadir. Di pertemuan 6 ini, Fayyadh hanya menyampaikan bahwa dosen mereka akan masuk tanpa menyampaikan kembali ruang kelasnya di mana, sebab teman-temannya yang lain juga sudah mengetahui bahwa kelas mereka satu semester di gedung sebelah itu. Tidak kembali lagi ke ruang kelas awal, seperti yang dosen mereka sampaikan di pertemuan ke-3.

Rasa tanggung jawab yang besar, yang dimiliki oleh Fayyadh tidak lepas dari terinspirasinya pada kisah—kisah pemimpin terdahulu yang tiap malam ayahnya hidangkan untuknya. Salah satu yang menjadi teladannya dalam hal memimpin adalah kisah Umar bin Khattab kala menjadi khalifah. Kata Umar, "jika ada seekor bagal yang tersandung, saya bertanggung jawab karena tidak memperbaiki jalanan." Pertanyaannya, masihkah ada Umar-Umar yang lain di masa kini?

________________________

Rambu; (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang