"Emang kamu terakhir pacaran kapan, Yadh?"
Cerita mereka di teras masjid tadi masih berlanjut di warung mie ayam. Sehabis salat, mereka sepakat untuk mampir makan terlebih dahulu sebelum tiba di rumah.
Fayyadh mengangkat kepalanya dan menunjuk dirinya. "Aku?" tanyanya.
Alfian menoyor pelan bahu Azriel. "Lah kan Fayyadh gak pernah pacaran, masih nanyain juga terakhirnya kapan."
"Iya, kan Fayyadh kayak aku, jomblo high quality hahaha." Syakir tertawa sambil mengarahkan tangannya ke Fayyadh yang langsung disambut laki-laki itu untuk ber-tos. "Kamu sendiri kapan terakhir, Riel, pacarannya?"
"Pasti itu waktu kamu disidang istimewa di rohis waktu kita kelas satu kan?" Tebak Alfian.
Fayyadh menahawan ketawanya. "Kamu lupa, waktu maba dia pernah kedapatan chat-nya?"
Sontak mengingat kejadian itu membuat mereka tertawa. "Ah iya, itu sidang istimewanya langsung sama camer hahaha." Alfian terlihat puas sekali menertawakan temannya.
"Koreksi, camer gagal. Siapa suruh sih pacarin anak pimpinan pondok hahaha." Syakir tidak kalah bahagia kelihatannya mengingat kejadian di mana Azriel diminta menghadap oleh pimpinan pondok dan diperlihatkan chat-nya bersama Anita – putri pimpinan pondok yang dimaksud – yang isinya, Azriel dan Anita saling mengingatkan untuk salat lima waktu, tadarrus, hingga membangunkan salat tahajud.
Azriel menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu meneguk air putih yang ada di gelasnya. "Kapok aku, terakhir itu aku pacaran," katanya setelah menelan airnya.
Setelah menghabiskan suapan terakhirnya, Fayyadh berujar, "lagian Anita juga, mau-mau aja deket sama kamu."
"Yah mau gimana lagi, Yadh, orang karismaku gak bisa ditolak."
Sontak kalimat Azriel barusan membuat Alfian refleks melemparinya bekas tissu yang habis digunakan melap mulutnya.
"Maksudku tuh gini, dia kan yaah pastilah lebih ngerti batasan-batasan ama lawan jenis dibanding kita. Yah, orang dia tumbuh dan besar di lingkungan pesantren," tutur Fayyadh.
"Lingkungan pesantren kan gak bisa menjamin seseorang, Yadh," timpal Syakir.
Fayyadh mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya juga sih," katanya, lalu menghembuskan napasnya berat. Pikirannya serasa penuh tiba-tiba.
Ketiga temannya hafal betul apa yang ada di pikiran Fayyadh kala mengeluarkan hembusan napas berat seperti itu. Ada keresahan yang timbul dalam dirinya terhadap suatu keadaan yang ada.
***
Dalam hidup, apa yang telah diberikan untuk kehidupan? telah bergunakah kita? bermanfaat? ataukah sejauh kaki ini melangkah, kita hanya menjadi penghuni dan pejalan saja di muka bumi?
Telinga ini telah mendengar bahwa seorang pemimpin yang baik adalah dia yang dapat merubah orang-orang yang dipimpinnya menjadi lebih baik. Sudahkah diri ini menjadi demikian?
-Zafran
Fayyadh teringat akan pemimpin-pemimpin yang pernah ada di masa kejayaan Islam, yang seharusnya menjadi contoh bagi pemimpin-pemimpin yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim. Bukan. Fayyadh bukan memaksa untuk mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintahan Islam. Bukan itu. Hanya saja, maksud Fayyadh, pemimpin-pemimpin yang agamanya Islam, sepatutnya mencontoh sifat-sifat dan kepribadian pemimpin terdahulu, semisal ketaatannya pada Tuhan, amanahnya dalam mengembang tugas, adilnya bagi seluruh warga, jujurnya, tanggung jawabnya terhadap setiap pekerjaan, serta keputusannya yang harus selalu ia ambil berdasarkan kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi ataupun golongan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Teen FictionDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
