Undangan-undangan mengisi seminar Fayyadh terima bukan hanya atas nama pribadi, tetapi juga kadang kala ia membawa nama titik koma, guna komunitasnya itu bisa lebih dikenal lagi oleh banyak kalangan. Jika membawa nama komunitas, Fayyadh kadang meminta satu anggota turut membersamai membawakan materi, seperti Ivy, Rizki, dan Azriel. Mereka yang mengundang juga kian beragam, bukan hanya dari komunitas ataupun sekolah-sekolah, tetapi juga di lembaga-lembaga seperti di lapas. Fayyadh pernah mengisi materi satu kali di tempat penjara itu, dan di rumah sakit beberapa kali.
Kembali Fayyadh mengisi materi di rumah sakit yang konsepnya lebih ke kajian yang dibawakan di mushallah sehabis salat magrib. Tujuan pihak rumah sakit mengadakan semacam pembawaan materi tersebut guna untuk menguatkan keluarga pasien dalam mendampingi keluarganya yang sakit. Sehabis materi, mereka dipersilakan untuk bertanya ataupun bercerita terkait apa yang mereka rasakan. Beragam pertanyaan dan beragam cerita sudah Fayyadh dengar. Semuanya memberikan pelajaran tersendiri baginya.
Sehabis membawakan materi, waktu isya belum tiba. Nanggung bagi Fayyadh jika ia harus pulang ke rumah sebelum salat isya. Olehnya, sambil menunggu waktu isya, ia memilih menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang terdapat beberapa orang tengah terduduk lesuh. Pasti mereka menunggui keluarganya yang tengah dirawat di ruangan. Langkah Fayyadh terhenti kala melihat sebuah tempat yang seperti lapangan di depannya. Namun, terlalu kecil jika tempat itu disebut sebagai lapangan. Mungkin tempat bermain anak cocoknya? Apalagi karena tempat itu memang dipenuhi oleh mainan anak, seperti prosotan, ayunan, trampolin, dan lain sebagainya.
Fayyadh mendekat, dilihatnya satu wanita berada di sudut tempat itu tengah menatap langit yang menaunginya. Keningnya mengerut kala melihat apa yang dipeluk oleh wanita itu, sebuah boneka kecil yang berambut lusuh. Tanpa sadar, langkah Fayyadh bergerak ke arah wanita itu.
"Kak Fayyadh?"
Suara seseorang memanggil namanya membuat Fayyadh menoleh dengan kaget. Raila? Tidak salah lihatkah ia? Perempuan itu nyata berdiri di depannya dengan cardigan hitam melekat di tubuhnya. Ah Fayyadh merasa dejavu.
"Ada keluarga yang sakit, Kak?" suara Raila kembali memecah lamunan Fayyadh.
Buru-buru Fayyadh menggelengkan kepalanya. "Nggak ada."
Mata Raila menyipit. "Lalu?"
"Oh itu, aku bawain materi di masjid tadi. Kamu sendiri, ada keluarga yang sakit?"
Raila menggelengkan kepalanya. "Nggak, tapi aku emang sering ke sini."
"Buat?" Fayyadh mengerutkan keningnya bingung.
"Kalau sekarang, aku mau nemuin ibu itu." Raila menunjuk ibu-ibu yang Fayyadh lihat tadi sedang memeluk boneka. "Sudah hampir dua bulan keadaannya seperti itu. Sejak kematian anaknya." Raila memilih menjelaskan tanpa Fayyadh minta karena bagaimana pun juga, tatapan laki-laki itu sudah mengandung tanya besar. "Tepatnya waktu penerimaan anggota titik koma. Masih ingat kan, Kak, waktu aku bilang nggak bisa datang karena ada kerabat yang meninggal? Nah, yang aku maksud itu anaknya."
"Kerabat kamu?"
"Sudah aku anggap," ucap Raila tersenyum. "Dan guru laki-laki yang ngajak aku bicara waktu seminar bersama Pak Halim itu suaminya."
Fayyadh mangguk-mangguk. Ia ingat, waktu tiba di sekolah, seorang guru laki-laki menghampiri Raila dan mengajak perempuan itu bicara. Mereka terlihat akrab.
"Tempat ini tempat anak-anak bermain, Kak."
Tanpa Raila beritahu pun, Fayyadh sudah mengetahui dari tampilan tempat yang sedang mereka tempati kini.
"Anak-anak yang menderita penyakit. Di sini mereka bermain, mendapatkan tawa satu sama lain, bercanda, dan menikmati usianya yang_ beberapa di antara mereka ada yang sudah divonis sisa umur mereka, tapi_" Raila mengedikkan bahunya. "Vonis dokter hanya hipotesis kan? terbukti tidaknya itu ada di tangan Tuhan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Teen FictionDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
