Bab 15 (Alim)

9 0 0
                                        

Fayyadh menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang melayang-layang. Kenapa ia kepikiran dengan Raila? kenapa ia berucap seperti tadi pada perempuan itu? Sadarkah Fayyadh tadi bahwa ia memberikan akses pada Raila untuk lebih dekat padanya? di tengah pikirannya itu, notifikasi pesan muncul di hpnya. Buru-buru ia melihat. Ah Raila.

Menurut Kak Fayyadh, hubungan dua orang yang hanya salah satu memperjuangkannya, bagaimana?

Fayyadh bangkit dari baringnya kala membaca pesan Raila barusan. Apa perempuan itu terlibat dalam hubungan yang tidak sehat? Segera ia membalasnya.

Sudahi.

Singkat dan tegas jawaban Fayyadh. Tidak lama ada balasan dari Raila.

Hanya itu jalannya?

Dalam hati Fayyadh, memang apa lagi jalannya jika perempuan dan laki-laki bersama tanpa ikatan pernikahan selain pisah? Yah kecuali mereka mau meresmikan pernikahan itu.

Jika yang berada pada posisi memperjuangkan itu merasa capek karena berjuang sendiri, untuk apa bertahan? menyiksa diri bukan? jika pun mempertahankannya sendiri adalah kesenangannya, yah itu pilihannya bertahan atau sudahi, tapi jika boleh aku kasih pandangan dari kacamata agama, mending sudahi, jika tidak ingin menikah.

Setelah mengirimkan pesan itu, Fayyadh baru mempertimbangkan kalimatnya. Pas tidak yah? namun, sudah terlanjur Raila membacanya. Lima menit perempuan itu tidak membalasnya membuat Fayyadh kepikiran. Buru-buru ia mengetikkan pesan susulan.

Itu pendapatku. Soal hubungan, pilihannya kembali pada yang menjalani.

Pesannya langsung centang biru, artinya Raila tidak keluar dari room chat mereka. Terlihat perempuan itu sedang mengetikkan pesan balasan.

Aku berada di posisi itu, Kak.

Fayyadh tidak tahu, ia harus membalas apa? kenapa Raila seterus terang itu padanya?

Besok aku bawain buku yah ke sekret?

Setelah mengirim pesannya itu, Fayyadh menyimpan hpnya di atas nakas. Kenapa ada yang mengganjal di hatinya? Ah Raila.

***

Sorenya di sekret, Raila bertemu dengan Fayyadh. Laki-laki itu memberinya buku yang ia janjikan lewat chat. Di luar dugaan Raila, ternyata buku yang Fayyadh maksud adalah buku yang ia tulis sendiri. Judulnya, Al-Isra':32.

"Seru yah, Kak, udah bisa nerbitin buku sendiri," komentar Raila sembari membolak-balikkan buku yang berwarna navy itu.

"Alhamdulillah," sahut Fayyadh.

"Itu kado terindah Fayyadh, Rai, waktu wisuda. Dia tuh gak seantusias itu nyambut hari wisudanya, tapi nyambut bukunya terbit haha," Ujar Alfian yang juga ada di tempat itu.

"Keren-keren, Kak, aku pasti baca nih nanti," kata Raila lagi.

Buku dengan judul yang diambil dari ayat tentang larangan mendekati zina itu merupakan buku yang Fayyadh tulis berdasarkan apa yang selalu ia serukan waktu di rohis dulu, yakni batasan-batasan terhadap lawan jenis.

"Oh iya, Rai, aku mau tanya soal yang di RS waktu malam itu." Fayyadh duduk tidak jauh dari tempat Raila. Mereka kini berada di teras, sementara Alfian sudah masuk di dalam sekret, ada Ivy dan Naimah juga.

Raila menoleh sembari mengangkat keningnya. "Oh itu ... kenapa, Kak?"

"Kok bisa kamu sering datang?"

"Hmmm aku dulu punya adik yang dirawat bareng mereka, tiga tahun lalu dia pergi, tapi udah jadi kebiasaanku datang ke sana. Jadi, keterusan dan anak-anak juga udah kenal aku, aku dekat dengan mereka. Perawat dan dokter-dokter mereka mempercayakan mereka sama aku. Ibu-ibu mereka juga udah kenal baik sama aku, termasuk ibunya Tias, ibu-ibu yang Kak Fayyadh lihat waktu malam itu."

Rambu; (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang