;
Apa yang ada di pikiranmu jika melihat tanda di atas? titik koma. Sebuah tanda baca? tanda untuk melanjutkan sebuah kalimat? atau ... titik koma lebih dari sekadar tanda baca. Ia punya makna sendiri. Ia punya hari khusus yang diperingati. 16 April adalah hari diperingatinya simbol titik koma. Word semicolon day, begitu orang-orang menyebutnya. Hari titik koma sedunia. Hari yang bukan sembarang hari. Namun, menjadi simbol harapan, kemampuan, dan kekuatan untuk orang-orang dalam menghadapi kesehatan mentalnya.
Kepeduliannya terhadap isu kesehatan mental membuat Fayyadh dan ketiga temannya mendirikan komunitas titik koma yang bergerak di bidang kesehatan mental semenjak kuliah. Komunitas tersebut berdiri sejak tahun 2020, di mana mental orang-orang betul-betul diuji dengan munculnya virus korona yang membuat jalanan tetiba lengang, tempat-tempat keramaian mendadak sepi, dan orang-orang dipaksa berdiam diri di rumah.
Namun, meski berdiri di tahun 2020, komunitas yang Fayyadh dan kawan-kawan dirikan tersebut kembali aktif pada tahun 2022, di mana orang-orang kembali memulai adaptasi mereka pada dunia pasca covid. Semenjak 2022 tersebut, titik koma sudah dikenal oleh banyak orang karena kegiatan-kegiatan sosial yang sering kali dilakukan oleh anggotanya dan seminar-seminar terkait kesehatan mental tidak jarang mereka adakan. Seminar-seminar yang biasa diisi oleh anggota titik koma sendiri menjadi daya tarik bagi mahasiswa untuk gabung di titik koma. Katanya, pembawa materinya keren-keren.
Fayyadh dan ketiga temannyalah: Alfian, Syakir, dan Azriel yang biasa membawakan materi, juga Ivy yang merupakan sepupu Fayyadh.
Awal 2023
Titik koma kembali membuka pendaftaran. Mengingat anggotanya yang sudah banyak, maka Fayyadh yang merupakan ketua komunitas membuat kebijakan untuk membatasi kuota pendaftaran. Hanya 20 orang. Laki-laki itu mengatakan, "kita seleksi dengan baik. Kita butuh kualitas, bukan kuantitas. Kita bergerak di bidang kesehatan mental. Olehnya, pilih orang-orang yang memang mentalnya aman."
"Ini aturannya gak mau diubah?" Ivy yang merupakan bendahara komunitas membaca formulir yang baru saja linknya Fayyadh bagikan di grup.
Fayyadh yang sibuk di depan laptop menoleh. "Kenapa? ada yang perlu diubah?"
"Cewek yang harus pake jilbab."
Fayyadh tampak berpikir kemudian berujar, "Cewek 'kan emang wajib pake jilbab." Laki-laki itu menatap Ivy dan 2 cewek lainnya yang ada di antara mereka. Namanya Ririn dan Eka.
Ivy tidak langsung menyahut, ia diam sejenak, kemudian berujar, "Iya. Aku tau, tapi gimana yah, Yadh? Ini bukan komunitas keagamaan kan yang kita dirikan?"
Fayyadh mengangguk. "Intinya?" Ia menuntut inti yang hendak Ivy sampaikan.
Azriel yang ada di antara mereka ikut nimbrung. "Aku paham maksud Ivy, dan aku setuju sih. Menurut aku gak seharusnya yang diwajibkan dalam agama diwajibkan juga dalam titik koma." Ia menatap satu persatu temannya dengan kacamata yang membingkai kedua penglihatannya itu.
Mendengar pendapat Azriel membuat Ivy menjentikkan jarinya. "Nah, itu maksud aku."
Kerutan di kening Fayyadh tampak terlihat. Ia menghela napasnya pelan. "Kalau non Islam, aku gak mempermasalahkannya. Kalau Islam, aku mewajibkannya pake jilbab, setidaknya ketika ia berada di kegiatan titik koma," tegas Fayyadh.
"Kak, bukannya tiap orang punya hak mau pake jilbab apa nggak di tempat mana pun?" Tanya Alim – salah satu anggota yang baru bergabung di tahun 2022.
"Menggunakan jilbab itu bukan soal hak mau atau tidak, tapi kewajiban," timpal Fayyadh, "bagi yang beragama Islam," sambungnya.
"Kemarin banyak loh mau daftar, tapi gak jadi karena aturan itu, Yad." Alfian yang sedari tadi diam ikut nimbrung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Teen FictionDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
