"Kak Raila."
Panggilan di luar kamar membuat Raila mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya. "Iya, Zein? ada apa?"
"Aku mau bicara, Kak," jawab laki-laki yang bernama Zein itu. Adik Raila yang sudah menduduki semester 4 di kampus swasta.
"Apa, Zein?" Sebenarnya, Raila agak malas meladeni adiknya. Tumben-tumbenan juga Zein memintanya bicara seperti itu. Biasanya juga anak itu langsung masuk dan nyerocos apa yang hendak ia sampaikan.
"Aku masuk yah, Kak?" tanpa menunggu respon dari sang kakak, laki-laki yang berambut sebahu itu membuka pintu kamar Raila.
"Ada apa, Zein?" Raila menatap adiknya dengan tatapan malasnya.
Zein duduk di atas tempat tidur sang kakak sambil menyampingkan rambutnya.
"Itu rambutnya kapan sih mau dipotong?" Soal penampilan Zein, dari dulu memang Raila paling cerewet. Waktu masih sekolah, laki-laki itu masih mendengar, tapi setelah kuliah, ia hanya mendengar omelan Raila sebagai angin lalu.
Zein memutar bola matanya. Tanpa menghiraukan kalimat sang kakak, ia memulai pembicaraannya, "Kak, aku mau nolongin teman."
"Tolongin aja," sahut Raila.
"Aku gak ada duit."
Kening Raila mengerut. "Maksudnya?"
"Gini, tadi pagi ada temen SMA aku yang nelpon, dia butuh pinjeman duit buat bayar uang kuliahnya, soalnya beasiswanya dicabut."
Raila yang tadi tidak terlalu memperhatikan apa yang disampaikan oleh sang adik pun memutar tubuhnya untuk menghadap pada Zein dengan sempurna. "Temen SMA?"
Zein mengangguk.
Raila mengibaskan tangannya. "Halah, Zein, kamu percaya? itu temen SMA kamu, seberapa deket kamu sama dia?"
"Dulu waktu sekolah deket, Kak, dia baik orangnya, tapi emang waktu kuliah kita jarang kontek-kontekan, tapi bukan berarti kita putus kontak gitu."
"Lalu sekarang dia muncul buat pinjem duit gitu? Kamu percaya?"
"Dia orangnya terpercaya," kata Zein dengan nada melemasnya. Susah juga membujuk kakaknya. "Kasian tau dia, Kak, ayahnya tuh udah gak ada. Mokapnya kerja di tempat laundry, dan dia punya kakak yang bisanya cuma ngabisin duit."
Raila menyipitkan matanya. "Kuliah di mana dia?"
"Kampus kakak."
"Lalu kamu mau pinjemin uang dari mana?" Tampaknya Raila sudah mulai luluh. "Gak mungkin sama aku, Zein, kamu tau sendiri kakak masih kuliah. Belum kerja."
"Sama ayah?"
Raila bangkit dari duduknya. Ia berpindah tempat ke samping sang adik. "Kamu tau kan keuangan keluarga kita saat ini gimana?"
Zein menelan ludahnya, ia tahu keadaan orang tuanya. Sebulan lalu, ayahnya mendapat PHK dari kantor dan sekarang belum juga mendapatkan kerjaan. Sementara butik bundanya sekarang juga tidak bisa diandalkan karena penghasilannya yang menurun.
"Sama kakek, Kak?"
Hembusan napas terdengar dari mulut Raila. "Jangan sampai ayah denger. Aku tau niat kamu baik membantu teman, tapi kamu juga harus ingat keadaan kita. Ayah belum dapat kerja, butik bunda juga semakin menurun penghasilannya. Belum biaya kamu, kakak juga masih minta sama ayah dan bunda."
Zein menunduk. Raila sangat kenal dengan adiknya itu. Jiwa sosialnya tinggi, ia selalu berusaha menjadi garda terdepan untuk teman-temannya. "Dan kakek, kamu tau kan dia gimana? ayah gimana sama dia?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rambu; (SELESAI)
Teen FictionDi Bentala yang luas ini, kita hidup tidak sekadar hidup, ada tujuan yang hendak kita capai, melalui rambu-rambu yang mesti kita taati dan patuhi. Bagi Fayyadh, hidup adalah permainan yang hanya memberikan satu kali kesempatan, maka ia harus memenan...
