part 14

2.7K 213 5
                                        

ARGALA NAVENDRA

"perpisahan datang terlalu cepat,"
tanpa membawa rindu yang mendera.

~Argala~

BUGG

BUKK

SRAKKK

Suara sepatu yang terseret aspal jalanan setelah sang empu mendapat tonjokan bertubi-tubi, sudut bibirnya robek dengan tulang pipi yang membiru, mengambarkan betapa sadis pukulan yang ia dapat dari argala.

Tak jauh dari Malvin, Argala juga mendapati sudut bibirnya mengelurkan darah segar. Ia menyeka darah itu dengan punggung tangannnya

"Mendingan lu pergi! Anak buah lo udah pada tepar, dan gue yakin lu juga gabakalan bisa ngalahin gue!" ucapnya.

Tatapan itu menyapu sekitar melihat sebagian besar musuhya telah terkapar lemas, sebelum atensinya kembali mengarah pada ketua mereka. Malvin mendekat menghimpit jarak diantara mereka disertai senyuman dingin.

"Ini belum selesai!"

Derum motor mengiringi kepulangan mereka, menyisakan ketegangan di lingkungan sekolah.

BRUKK

AKHHH

SAKITT!

Suara itu keluar dari bibir seorang gadis yang tengah mencoba berdiri, siapa sangka dorongan yang ia dapat membuatnya terjatuh menimpa pembatas jalan hingga meninggalkan bekas hitam kebiruan di lututnya. Belum lagi darah yang masih mengalir dari lehernya membuat suasana kembali riuh.

"Woiii!"

"Bantuin coyy!"

"Anak orang itu, mah di tontonin aja!"

"Gall, gendong sono anter Uks!" pinta David.

"OGAHH!"

"Kakinya gak buntung kan?" balasnya sebelum melengganng meninggalkan mereka semua.

"Gua gapapa kok Davv" ucap Zara walau hatinya mencelos mendengar penolakan Argala

"Thangks" Sambungnya sebelum kembali melangkah pergi.

Lima belas menit mereka mencari keberadaan Argala tapi tetap tidak menemukannya di lingkungan sekolah, nomornya tidak aktif sedari tadi. Membuat mereka bertanya-tanya akan keberadaannya. Bagaimana jika di luar sana Argala bertemu dengan mereka lagi, terlebih ia sendirian. Walaupun ia pandai dalam hal bela diri ia tetap saja akan kalah jika diserbu mereka secara bersamaan.
.
.
.
Sang jingga perlahan sayup didekap gelapnya awan pembawa rintik hujan yang menamba ketenangan. Perlahan luka itu luruh bersamaan dengan rintik air yang jatuh. Dalam bisu, ia berbisik mengenai jiwa yang terlunta terlempar jauh dari segala, helaan nafas menjadi akhir dari ratapan cerita.

Dia Argala, melewati jarak dengan waktu tempuh yang tidak sedikit itu kini telah terduduk di hamparan rumput danau yang tenang. Sekujur tubuhnya telah menyatu dengan basahnya hujan yang menimpa, barang sedikitpun ia enggan untuk pergi. Badannya menggigil dengan bibir yang perlahan membiru.

Dia rindu...Rindu keluarganya...
.
.
.
Langkah basah itu menciptakan genangan air di setiap langkah. Kepulangnnya menunjukkan tengah malam hampir berlalu, sepi...itu yang ia rasa, tanpa ia sadari sepasang mata menatapnya dari balik tembok.

Sebelum badan itu terjatuh lengan kekar terlebih dulu mengangkatnya menuju kamar yang bukan miliknya.

"Eghhh"

"Sakittt"

"Pusingg"

"Muall"

"Hikss...hiksss"

Rintihan terus terdengar pada malam itu, usap tangan kekar yang di kepalanya tak kunjung berhenti sedari tadi, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang mendera malaikatnya.

Ia yang awalnya berniat memarahi Argala, menjadi terpaku saat kedatangannya. Malaikatnya hampir limbung jika ia tidak menahannya, ada apa dengan adik kecilnya itu, bukankah tadi siang ia mendapat laporan mengenai kenakalan Argala? Lalu apa ini? Ia hanya melihat adik kecilnya lemas tak berdaya.










21.48
05-03-2025

ARGALA NAVENDRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang