DuaPuluh

179 23 1
                                        

Mereka berjalan mengendap, menempel pada dinding tanpa mengeluarkan suara. beberapa kali saat ada anak yang tidak sengaja mengeluarkan suara maka anak yang lain memberi kode untuk tetap diam. meletakkan telunjuk di bibir, dan membuat ekspresi serius.

Shinichi tertawa tanpa suara melihatnya, belum lagi saat melihat Kaito bersama dengan perempuan yang terus menempel dengan alasan tubuh lemah dan mengalami luka.
kedua matanya memutar bosan, merasa jengah. 
dalam hati merutuki, dia tidak bisa bedain mana akting pura-pura dan beneran?!

5 menit kemudian, Shinichi menghela napas. merasa terlalu sensitif dan bodoh sendiri. tangannya menepuk jidat lalu mengusap wajahnya kasar, "ugh.." geramnya kesal, tidak mau mengakui, ia tidak tahan dengan sikap perempuan yang terus menempel pada Kaito.

sampai sepasang mata menatapnya, menunjukkan ekspresi heran dengan kepala yang sedikit dimiringkan.
Shinichi tertawa canggung, dengan nada pelan. tangannya mengusap belakang lehernya gugup " ahahaha.. gelap ya?" tanyanya asal,

anak yang melihatnya tadi kini abai, dan kembali memperhatikan depan. sosok perempuan yang menjadi wali kelas mereka, guru perempuan idolanya,

Shinichi menghela napas berat melihatnya, tangannya kini meraba dinding, lalu kaca dan berakhir lemari. semua tataan penyimpanan barang. sesuai dengan dekskripsi yang dilihat dari museum lain yang dia datangi biasanya.

denah tempatnya memang berbeda, tapi tata letak penyimpanannya sama persis. ini biasanya di tunjukkan untuk pengunjung agar tidak tersesat atau bisa mengenali tempat dengan mudah-

Shinichi terdiam, itu berarti kedua maniknya memandang cahaya yang menyorot kearah mereka yang tengah berjalan tanpa suara. "Kai!" suaranya tidak sampai pada waktunya, 

suara tembakan yang mengarah pada anak yang terkejut karna teriakan teman lainnya, berbalik mengenai Kaito yang menjadikan tubuh sebagai tameng agar anak itu tidak terluka.

"nii-chan.." panggilnya dengan terisak dan wajah yang sudah memerah karna menahan tangisan.

Shinichi mengepalkan kedua tangannya kuat, merasa kesal karna berulang kali telat memprediksi dalam keadaan gelap seperti ini.

tubuhnya bersembunyi kini dengan satu anak yang ia tarik bersama untuk bersembunyi dari peluru yang terus ditembakkan berulang kali.

museum punya tombol alarm saat dalam keadaan darurat! kenapa polisi lama sekali untuk turun dan menangkap mereka! Shinichi menghela napas berat, mencoba kembali tenang dan mengarahkan jamnya pada ruang yang tak terlihat.

Shinichi berulang kali memprediksi tempat tepatnya musuh dari asal peluru yang kini mengenai lemari dan kaca.

sampai matanya tertuju pada satu titik, cahaya merah yang berkedip seperkian detik, lalu mati dan dalam lima menit kembali menyala lagi.

kali ini Shinichi tidak ingin lagi kehilangan kesempatan, saat jam tangannya berhasil menargetkan dan mengunci sasaran. jarum miliknya mengenai tangan musuh, 

musuh yang hendak menembakkan kembali kearah anak-anak TK yang sedang ketakutan, kini sudah menjatuhkan revolver miliknya.
takut, dan tidak ingin tertangkap, terlebih saat suara ramai sepatu polisi mulai terdengar. wajahnya mulai pucat dan kini berkeringat dingin, panik dan melihat kesekeliling untuk mencari jalan keluar.

tangannya merogoh dalam saku celana miliknya, sebuah permata cantik berkilau saat lampu senter polisi mengenainya. memantulkan cahaya yang bersinar dan mengenai setiap dinding, dia tertawa saat merasa ini memang permata yang ia cari.

"Hahahahaha! mundur kalian! aku memiliki permata terkutuk ini!" teriaknya lantang, tangannya menunjukkan permata yang bersinar dan mengarah pada lampu senter yang menyorot dan akan mengenai inti dalam permata, "khekhekhe... tamatlah riwayat kalian.."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 22, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MoonlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang