Kaito kini sudah berada di dalam kereta untuk berpergian menuju Osaka,
sejujurnya lebih cepat untuk menaiki pesawat, hanya saja dokter yang menanganinya sewaktu di rumah sakit. menyarankan untuk menaiki kereta agar tidak memperburuk konidisi tubuh.
dokter mengatakan, antisipasi dari racun yang kemungkinan masih tersisa ditubuh, lebih baik di bandingkan mengobati.
dan Jii-san yang pertama semangat menyetujui saran dari dokter.
"Harusnya dua jam lalu kita sudah sampai di Osaka," Kaito cemberut, sepanjang jalan ia hanya bisa melihat perkotaan lalu berganti dengan lahan hijau dan diganti lagi dengan sungai bebatuan di bawah jembatan.
rasa bosan selalu cepat membuatnya tidak nyaman untuk berada di satu tempat dalam waktu yang lama,
"untuk kali ini, sebaiknya Kaito-sama mendengarkan apa yang dokter sarankan. itu baik untuk kondisi anda saat ini,"
Kaito enggan menjawab, hatinya masih terasa kesal.
"Chikage-san memberi kabar, setelah mengunjungi pameran di Tokyo. beliau akan kembali ke Paris untuk bertemu dengan teman lamanya,"
Kaito yang mendengarnya tertawa pelan, "huh! aku sudah menduga jika kaa-san memang hanya ingin melihat pameran, peluncuran produk terbaru dari brand ternama!"
Jii-san mengulas senyum tipis sambil menggeleng kecil,
"Ugh.. aku tau kok, aku tau.." kata Kaito setelah lima menit mentertawai tebakannya, "aku sudah membuatnya cemas sampai terbang ke Jepang. padahalkan selama ini aku baik-baik saja,"
"bagaimanapun, beliau tetap ibu anda. beliau pasti mencemaskan setiap kali tindakan anda yang nekat, dan beliau takut anda akan melewati batas"
kalimat Jii-san kali ini, mengingatkannya tentang ayahnya yang tiba-tiba menghilang di tengah pertunjukkan dan dinyatakan mati- korban atas pertunjukkannya sendiri.
meski akhir-akhir ini, Kaito mendapat informasi baru setelah mencarinya sejak lama.
ayahnya masih hidup, Kaito mempercayainya sepenuh hati. baik kemampuan ataupun bakat, Kaito yakin jika ayahnya tidak mungkin melakukan kesalahan dalam pertunjukkannya sendiri.
terlebih, ayahnya merupakan idola yang di kagumi banyak orang. termasuk dirinya sendiri.
meski, Kaito tidak yakin pasti. dimana keberadaan tepat ayahnya saat ini.
"Kaito-sama," Jii-san memanggil, sadar jika tuan muda yang dilayaninya. hanya melamun dan tenggelam dengan pikirannya sendiri.
Jii-san menebak, jika Kaito kembali teringat dengan kenangan bersama ayahnya lagi.
"Aku baru kepikiran soal permata kali ini," Kaito memandang serius kearah Jii-san kali ini, "namanya moonlight bukan?" "aku dengar, maknanya berbeda dengan saudara kembar yang kita curi sebelumnya,"
Jii-san mengangguk kecil,
"Jika undermoon memiliki makna mendalam suatu hubungan yang harus dipisahkan karna keadaan status, makan saudara kembarnya moonlight. memiliki akhir cinta yang lebih tragis,"
"obsesi dan psikopat, kabarnya permata kali ini pembawa kutukan dan akan menjadi kesialan siapapun yang memilikinya." "mungkin menjawab pertanyaan banyak orang, mengapa keluarga dari pemiliknya tidak langsung mencari permata tersebut,"
"beritanya German memang menjaga tentang permata dengan alasan agar keaslian tidak di buat tiruan karna merupakan salah satu barang sejarah, tapi aslinya Belanda tidak mau menyimpan permata ini." "mereka pasti percaya dengan benda kutukan yang bisa membawa kesialan,"
"meski aku masih tidak paham kenapa permata secantik itu dikatakan, benda terkutuk pembawa sial,"
Kaito menghela napas, semakin dipikirkan. semakin membuat kepalanya sakit, kalau soal ini ia tidak terlalu mengerti.
setidaknya dia paham, jika permata kali ini. memiliki nilai tinggi kemurniannya. tentu saja, jika di jual akan menghasilkan ratusan juta yen yang sangat banyak!
"Buruk sekali... ya?" Jii-san memberikan komentar, "lalu kenapa anda mengincarnya?"
Kaito terkekeh pelan, "kabarnya, permata itu bisa menghisap cahaya bulan! bahkan menelan jiwa manusia jahat!" "sudah pasti menarikkan? lagi pula, jika kali ini memang permata yang kita cari, aku bisa lebih cepat bersama dengan shin-chan~"
Jii-san menggeleng kecil sebagai tanggapan, bagaimanapun jiwa tuan mudanya selalu terlihat seperti anak remaja sekalipun usianya sudah dewasa.
"Cerita kisah cinta yang berakhir tragis, saya tidak menyangka jika anda mengetahui sejarah permata itu,"
Kaito terkekeh, "kisahnya sempat terkenal di kalangan kaum lansia.. beberapa sempat menceritakannya padaku, bahkan mereka sampai mengulang kisah itu setiap kali aku berkunjung. tentu saja aku mengingatnya!"
Kaito ingat, betapa muak dan bosannya dia. setiap kali berkunjung ke suatu desa untuk singgah sementara. para lansia yang merupakan penduduk setempat, akan menceritakan kisah yang sama. sebelum akhirnya berkomentar sedih-
meski kepala desa, akan mengumpat dan memaki kedua peran utama dan kisah itu berulang kali.
"pasukan Jepang dan nona bangsawan Belanda, seharusnya itu menjadi kisah remaja yang begitu romantis. jika saja pasukan Jepang tidak berselingkuh dan menepati janjinya," "janji mereka dibawah bulan, setelah pasukan Jepang mengungkat cantiknya bulan di mata itu untuk mengungkapkan rasa cinta,"
"Harus memeprlihatkan, pasukan Jepang yang sedang berselingkuh dengan mencumbu seorang gadis asal Indonesia dibawah bulan purnama. miris bukan?" "seorang laki-laki yang berjanji untuk bersama, tapi mengingkari janjinya,"
"Tidak terima di khianati kekasihnya, nona bangsawan Belanda ini menangkap kekasihnya dan memanjarakannya di salah satu penjara yang biasa digunakan untuk menahan para budak,"
"setiap harinya, nona bangsawan belanda ini. hanya akan memberinya roti busuk dan sup basi. atau bahkan, berminggu-minggu nona bangsawan Belanda ini tidak akan memberinya makan ataupun minum."
"Sambil terus membisikkan kata-kata cinta, dan mengingatkan berulang janji kekasihnya untuk bersama." "pernah sewaktu kekasihnya berhasil melarikan diri, nona bangsawan Belanda ini, memotong kedua kakinya,"
"Lalu saat, mata kekasihnya mencoba memandang kearah orang lain sekalipun penjaga penjara. maka nona bangsawan Belanda ini akan mengambil kedua bola matanya. begitupun dengan kedua tangan dan lidahnya, kekasihnya kehilangan semua kehidupannya,"
"Tapi ia masih hidup, dan mendengar setiap kali nona bangsawan Belanda ini mengucap kata-kata cinta berulang kali dan mengulang janji untuk hidup bersama. akhirnya sang kekasih mati dan nona bangsawan Belanda ini bunuh diri,"
"Katanya, nona ini mengutuk. siapapun yang terlibat hubungan sepasang kekasih, akan terkutuk dan mendapatkan akhir yang buruk,"
"Kabarnya saat itu, mereka percaya dan memutuskan hubungan. meski semua berhasil di kontrol oleh pemerintah, dan mengatakan jika kutukan itu tidak nyata,"
Kaito menghela napas, "dan permata itu menjadi salah satu perantaranya." "ugh.. aku merinding saat mengulang ceritanya. padahal saat mendengarnya aku merasa bosan,"
//FYI aku juga merinding karna nulisnya jam segini :)
"Bagaimanapun kedua permata kembar ini, seperti yin dan yang. meski yang satu memiliki nasib buruk, yang satu memiliki nasib baik,"
Jii-san memperhatikan jelas bagaimana kedua manik Kaito berubah menjadi pandangan lurus tidak seekspresif seperti sebelumnya,
"Namun tetap saja, nasib permata kembar ini memiliki akhir yang sama. kedua sepasang kekasih itu sama-sama tidak memiliki nasib baik dengan berakhir bersama seperti happy ending. mereka sama-sama berpisah,"
(Maaf jika terjadi kesalahan kata/typo dalam penulisan cerita)
RamaLina
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight
FanfictionAfter Story The Magician Love Kaito berterimakasih, kalimat Chikage berhasil membuatnya kembali menginjakkan dirinya di negara Jepang. 3 tahun berniat melupakan, menyibukkan diri dalam dunia Entertainment. tapi takdir senang bercanda dengannya.
