"Kaito-sama, beliau adalah Fujimoto Ayame-san. direktur penanggung jawab Galeri yang ada di German." Jii-san mengenalkan, "kali ini beliau memiliki kesempatan untuk mengawasi Galeri cabang yang berada di Osaka,"
sesuai dengan perkataan Jii-san sebelumnya, jika akan ada orang penting yang datang ke salah satu teater untuk melihat sebuah opera sebagai bentuk liburan sebelum akhirnya pergi ke German untuk kembali bertugas.
"Senang bisa berkenalan dengan anda, Fujimoto-san" Kaito tersenyum ramah, menjabat tangan. lalu berlaih kearah seorang anak perempuan yang tengah bersembunyi di balik celana Fujimoto.
"Tentu, senang bisa berkenalan dengan anda, Kuroba-san. saya sudah mengenal bakat anda, televisi dan media sosial sangat sibuk tentang berita kembalinya anda ke industri hiburan," Fujimoto mengusap surai cucu perempuannya lembut, sebelum akhirnya mendorong pelan tubuh anak itu hingga maju ke depan,
"Ini adalah cucu perempuan saya, Akari Ayame. dia adalah cucu termuda saya, dia cukup mengagumi anda sebagai idolanya. sepanjang perjalanan menuju teater dia selalu menceritakan betapa bahagianya dia bisa bertemu dengan idola yang hanya bisa ia lihat di layar televisi selama ini,"
Akari menatap kearah Kaito malu-malu, sebelum akhirnya tersenyum gugup. "Akari.. Ayame, desu," salamnya gugup, dengan wajah yang memerah malu.
belum pernah terbayang dalam hidupnya, ia bisa bertemu dengan idola yang selama ini ia kagumi lewat layar televisi.
mengingat dirinya kesulitan untuk keluar rumah, dan hanya televisi hiburan satu-satunya. Akari melihat Kaito layaknya pangeran berkuda putih di salah satu acara sulap, dimana Kaito mengenakan setelan berwarna putih.
"konba.. Akari-chan, gomen.. nii-chan jadi menunjukkan hal yang tidak keren.." Kaito tersenyum lembut,
"A-ah... ti-tidak... i-itu sangat keren!" Akari berkata spontan, kedua maniknya berbinar semangat saat mengingat pertunjukkan opera untuk pertama kalinya, "maksudku... penampilan Kaito-sama sanagt tampan seperti seorang pangeran!"
Akari menutup mulutnya cepat, ia menyuarakan perasaan dalam hatinya tanpa sadar. wajahnya yang memerah malu, kian memerah hingga ketelinga, "gomen.."
di sisi lain, Fujimoto memperhatikan cucu perempuannya bersama dengan Jii-san.
memberi ruang untuk cucu perempuannya bertemu dengan idola yang selama ini hanya bisa di lihat lewat televisi, untuk sekedar meminta tanda tangan atau bertukar sapa.
"Maaf telah mengganggu waktu istirahat, Kuroba-san. saya sudah melihat berita mengenai opera sebelumnya. saya turut berduka cita dengan keadaan Kuroba-san saat ini, pasti sangat sulit untuk melewati waktu-waktu selama ini,"
Jii-san menggeleng kecil, wajahnya yang ramah kini tersenyum tipis menanggapi. "tidak masalah, Fujimoto-san. justru kami yang merasa mengganggu waktu sibuk anda, karna menunda perjalanan anda menuju Osaka,"
Fujimoto tersenyum, lalu menghela napas pelan. kedua maniknya kini menatap kearah Akari lekat, "cucu perempuanku yang termuda, memiliki nasib yang menyedihkan di bandingkan saudaranya yang lain,"
"Belum lama ini, ia harus mendapatkan perawatan insentif karna penyakit asmanya. meski saat ini sudah membaik, tapi dokter menyarankan untuk tidak terlalu lama untuk berada di luar ruangan,"
"Akari-chan memiliki banyak alergi tidak seperti anakku yang tubuh dengan sehat, cucu perempuanku yang malang. aku hanya bisa melakukan ini sambil mendoakan kesembuhannya,"
Jii-san tersenyum, "Akari-san sudah melewati masa-masa sulit untuk bisa bertahan, saya yakin jika kedepannya. Akari-san bisa kuat untuk melewati masa-masa pemulihan tubuhnya sampai sehat kembali,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight
FanfictionAfter Story The Magician Love Kaito berterimakasih, kalimat Chikage berhasil membuatnya kembali menginjakkan dirinya di negara Jepang. 3 tahun berniat melupakan, menyibukkan diri dalam dunia Entertainment. tapi takdir senang bercanda dengannya.
