Empat Belas

321 32 1
                                        

awan mendung dengan langit yang gelap, dan ditemani derasnya hujan. berhasil membuat suasana hati seorang Kaito Kuroba merasa buruk, bahkan badai hujan yang terjadi di luar sana menggambarkan suasana hatinya.

"Ara~ Kaito-kun, jika kau memang ingin menemuinya. kenapa kau membiarkannya pulang begitu saja?" Chikage bersenandung pelan, dengan kedua tangannya yang sibuk mengupas apel dan menyimpannya di atas piring.

satu jam sebelum kedatangan Chikage, 

Aoko mengatakan akan menjemput Chikage di bandara, 

sedangkan Shinichi berpamitan dengan mengatakan jika jadwal tiket keretanya tidak bisa di ubah. padahal Kaito sudah menyarankan untuk membeli tiket baru,

Tapi Shinichi menolak, dan mengatakan jika Kaito hanya membuang uang yang tidak perlu.

mereka berdua sempat berdebat sebelumnya, bertengkar. meributkan mengenai jadwal tiket yang disalahkan Kaito berulang kali. sampai Porfessor Agassa datang dan melerai, dan mengingatkan Kaito mengenai kondisi Shinichi saat ini.

semakin banyak yang mengetahui sosok Conan semakin buruk keadaan Shinichi, jangankan untuk mendapatkan rahasia atau kelemahan dari organisasi yang menyerangnya. 

bisa-bisa Shinichi akan dikejar dan mati duluan tanpa mendapatkan apa-apa, Kaito jelas tidak mau jika Shinichi mendapatkan akhir yang buruk.

dengan berat hati, Kaito membiarkan Shinichi pulang. tentu dengan tatapan permusuhan kearah Professor Agassa.

"Aku tau jika kaa-san tidak benar-benar ingin melihatku!" Kaito melipat di depan dada, "tas mana lagi yang ingin kaa-san be- Tak," Kaito menghentikan kalimatnya, 

benjolan yang ada di kepalanya kini kembali terlihat karna pukulan Aoko yang gemas dengan perkataan Kaito.

"Bibi jauh-jauh datang-datang Ke Jepang untuk melihat Kaito! kenapa mulut Kaito jahat sekali sih!" Aoko memprotes kesal, dengan tangan yang siap kembali memukul.

"Huh.." Kaito secara alami melindungi kepalanya, "kau tidak tau saja jika dia hanya ingin datang ke pameran yang akan dia dakan pekan ini," Kaito membela diri, ekspresinya terlihat tidak bersalah.

bahkan kini, ia sedang menggerutu pelan karna selalu dirinya yang mendapatkan pukulan sekalipun saat ini ia sedang menjadi pasien.

"Hohoho.. Aoko-chan memang yang paling pengertian, dibandingkan anak satu itu," Chikage menimpali,

suasana hati Aoko yang kesal, mendadak berubah menjadi senang karna mendapat dukungan.

"Tenang saja bibi! Aoko akan memukul dan mengingatkan Kaito lagi jika berkata jahat!" Aoko berjanji pada dirinya sendiri dan Chikage yang kini tengah bertepuk tangan merasa bangga.

"dasar perempuan!" gumam Kaito pelan tidak suka, 

suaranya tidak terdengar jelas. namun Aoko tau jika Kaito sedang mengejek kearahnya,

dengan pandangan sinis dan mulut yang sudah kembali terbuka siap untuk membalas kesal dan tangan yang terangkat untuk memukul ulang. Aoko mengurung kan niatnya,

suara notif ponsel miliknya berhasil menarik perhatian sekaligus emosinya sesaat,

"Ah!" Aoko berpekik kecil, "Aoko lupa sudah memesan makanan untuk makan siang," wajah gadis itu berubah menjadi berbinar cerah, "bibi, Aoko akan mengambil pesanan makanannya dan akan segera kembali!" katanya cepat dan bersiap kembali keluar,

"Aoko," Kaito memanggil, "bagaimana untu-" kalimatnya terhenti, tepat saat Aoko melemparnya dengan senda pasien milik Kaito dan menutup kamar inap kencang.

MoonlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang