Tigabelas

346 39 3
                                        

dengan kedua pipi yang memar dan wajah yang kian pucat, Kaito meringis berulang kali setiap kali menjawab pertanyaan perawat yang menanyakan keadaannya.

"Terjatuh di toilet?" sang perawat memang sering kali menemukan kasus dimana pasien yang tidak ingin merepotkan, akan pergi ke toilet sendiri dan berakhir melukai dirinya sendiri.

"Lain kali, tekan bel di samping tempat tidur," sarannya sambil menuliskan keadaan pasien terbaru di catatan pasien yang ia bawa.

Kaito menunduk sedikit, "maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi," katanya, dengan terus menunduk. terlebih saat perawat yang kembali memarahinya karna jarum infus yang terpasang di tangannya kini terlepas.

Kaito meringis berulang kali dalam benaknya dan berjanji, jika ia tidak akan menjahili Shinichi lagi dengan cara apapun.

Shinichi selalu berhasil membalasnya dengan kejam, tapi Kaito akan menerimanya dengan senang hati.

"Mou BaKaito!" pintu rawat inap kini terbuka, setelah terdengar suara benturan keras dari pintu yang menghantam dinding, kini suara hentakkan sepatu kets berwarna putih terdengar jelas bagaikan lagu kematian yang mengarah padanya.

"Apa Kaito tidak bisa sehari tidak membuat baa-san cemas?!! huh!" "Racun?! Kaito sudah gila ya! baa-san bilang akan sampai di Jepang besok pagi!" Aoko mencengkram kerah baju pasien milik Kaito kuat.

dengan kedua mata yang berapi-api, Aoko bersiap melayangkan pukulan jika saja tidak diperingatkan oleh perawat yang bertugas mengawasinya.

"Nona, keadaan pasien sedang buruk. dan harap untuk tidak membuat keributan di rumah sakit,"

Aoko tersentak, sebelum akhirnya menunduk dan meminta maaf berulang kali. meski dengan wajah yang memerah malu, kedua maniknya masih melirik Kaito dengan pandangan membunuh.

"Pasien sedang dalam tahap pemulihan, saya harap tidak ada hal berbahaya yang bisa membuat pasien kembali terluka," perawat memberi saran untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari kamar rawat inap.

Aoko menghela napas pelan, ia tidak menyadari ada orang lain di dalam kamar karna merasa kesal sesaat akan tingkah sahabatnya yang ajaib.

"Huh! selalu saja! kan Kaito bisa memberikan kabar saat pulang ke Jepang, kenapa isi pesannya sampai saat Kaito berada di rumah sakit?! Bakaito!" Aoko menatap kesal.

"Aku tau jika kau akan marah seperti ini.." Kaito masih meringis, cengkraman gadis itu masih sama kuatnya, "makanya aku berniat memberi tahumu setelah keluar dari rumah sakit,"

Kaito berpikir, jika tadi adalah sisa umurnya.

"Dasar! selalu saja membuat orang lain cemas! kan bisa mengatakannya saat berada di pesawat! atau setidaknya di bandara! sikap Kaito sama sekali tidak berubah,"

"Sebelumnya, Kaito juga begini saat akan pergi ke Paris tiba-tiba dan hilang kabar. untung saja baa-san masih mengabari jika Kaito baik-baik saja di sana!"

"Sebenarnya, apa yang Kaito pikirkan sih! Kaito senang ya membuat orang lain cemas seperti ini?!"

Kaito meringis untuk yang kesekian kalinya, Aoko tidak pernah berubah. gadis yang menjadi sahabatnya itu masih sama, dan selalu membicarakan banyak hal.

"Aku sudah bilang kan! aku baik-baik saja," Kaito menjawab kalimat yang sama, "seharusnya Jii-san langsung membawaku ke rumah, aku tidak tau jika berakhir di rumah sakit,"

Kaito mencoba mencari ponselnya, namun sulit ditemukan karna terakhir kali ia ingat. ponsel mmiliknya tersimpan di saku baju miliknya.

"Ah-.. kau melihat ponsel milik-"

MoonlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang