"Aha! ini keren sekali! jii-san," Kaito mengeluarkan kamera miliknya untuk mengambil foto, "kira-kira kenapa agensi tidak menggunakan Osaka lebih banyak untuk tempat pengambilan gambar?" "Tokyo lama-lama jadi tempat membosankan~"
langkah kai Kaito kini melangkah lebih jauh kedepan, "oho... di sini bahkan ada kasino dan club yang terkenal! aku mengetahuinya dari temanku di agensi," "sepertinya ada disekitar sini izakaya yang terkenal itu.."
langkahnya kini berhenti, Jii-san terbatuk pelan mencoba mengingatkan tujuan mereka ke Osaka.
"bercanda~ aku hanya bercanda, aku tidak mungkin mengecewakan kepercayaakan Shin-chan begitu saja~ mendapatkannya saja sulit, masa aku sia-siakan begitu," Kaito kembali menyimpan kamera miliknya.
"Aku pikir tempat itu dekat dengan ibu kota, ternyata kita masih harus naik kereta lagi untuk sampai di tujuan," ia menghela napas pelan, lalu mengeluarkan ponsel untuk mengecek maps yang sebelumnya sudah ditandai.
Kaito menghela napas sebelum kembali memandang ekarah Jii-san yang berada di belakangnya, "jii-san.. bagaimana ini? sebelum ke sana saja aku merasakan firasat buruk. apa kita kembali saja dan menunggu tiket yang satu lagi?"
pria tua yang selalu menemaninya kini tersenyum dengan kedua mata tetrutup, ia menghirup napas dalam sebelum menghembuskannya perlahan, mencoba menikmati udara Osaka yang kembali ia kunjungi.
sebelum akhirnya kedua matanya terbuka, dan memandang sekitar, "Osaka tidak banyak berubah, bagaimana jika kita jalan sambil menuju stasiun?"
kedua bahu Kaito sudah menurun kebawah dengan pandangan tidak percaya, "aku pikir Jii-san akan menyetujui begitu saja setelah mengingatkanku," katanya lemas sambil mengikuti langkah yang ada di depannya kini,
"kenapa tidak istirahat sebentar sebelum kembali mengambil pekerjaan anda? Kaito-sama," "Chikage-san mencemaskan anda, karna hanya mengejar sebuah permata dan menyibukkan diri di dunia hiburan,"
Kaito kini terdiam, tidak lagi berkomentar.
"Ada masih banyak waktu untuk bermain dan mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat anda kunjungi di dalam negri, waktu yang tersisa panjang... sebaiknya anda gunakan sebaik mungkin,"
Kaito tertawa hambar, kini ia bisa mendengar Chikage sedang mengomelinya di samping.
"Mengenai moonlight-"
Kaito menatap bingung kini,
"saya baru mendapatkan informasi baru mengenai orang-orang Jepang yang menyebutnya sebagai pembawa kutukan untuk sepasang kekasih, meski kali ini kabarnya cukup berbeda dari kabar kutukan seharusnya,"
"kerabat yang memiliki permata ini, hanya tinggal ia seorang,"
Kaito mengangkat salah satu alisnya kini, sebelum mengangkat kedua bahunya saat sadar dan mendapatkan jawaban, "Jii-san... setiap manusia kan bertambah usia dan akan menjadi tua, jika hanya tinggal dia sendiri dengan usia lanjut bukan hal asingkan?"
Jii-san mengangguk, sebelum akhirnya menghela napas "sebaiknya begitu, tapi kabarnya menyebut. jika keluarganya meninggal karna tragedi pembunuhan,"
Kaito menatap terkejut meski setelahnya tertawa hambar, "tentang perampokan? aku rasa itu wajar jika menyangkut kondisi perang. setiap orang membutuhkan benda untuk bisa menompang kehidupan mereka alih-alih sosialisasi,"
langkah Kaito kini menuruni anak tangga menuju stasiun bawah tanah, sesekali ia akan melambaikan tangan dan tersenyum ramah saat ada yang mengenalinya dan memanggilnya sambil berbisik samar.
"Tapi yang saya dapatkan, kakak kerabatlah pelaku dari pembunuhan dalam keluarga,"
Kaito menghentikan langkahnya, tubuhnya berbalik dengan kedua manik menatap kearah Jii-san dengan pandangan bingung. bersamaan dengan suara kereta yang bergerak cepat yang melewatinya di belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight
FanficAfter Story The Magician Love Kaito berterimakasih, kalimat Chikage berhasil membuatnya kembali menginjakkan dirinya di negara Jepang. 3 tahun berniat melupakan, menyibukkan diri dalam dunia Entertainment. tapi takdir senang bercanda dengannya.
