DelapanBelas

318 29 2
                                        

Kaito tersenyum, berulang kali mengambil gambar saat menemukan barang-barang bagus yang memiliki waktu sejarah lama. bahkan ratusan tahun umurnya- sebagian besar sudah ada sebelum perang dunia kedua terjadi.

tidak banyak pengunjung yang datang, Kaito sudah memastikan hari ini akan jeadi lebih baik untuk memulai investigasinya. sebelum memutuskan untuk mengambil permata itu atau tidak untuk memastikan langsung.

"Berbaris dengan baik semuanya!"

seorang wanita muda dengan bendera kecil dan selempang plastik bertuliskan pemandu berhasil menarik perhatiannya kini, sekelompok anak kecil dengan topi kuning dan tas beruang lucu tengah membentuk satu barisan dan berjalan dengan tertib.

Kaito tertawa hambar, padahal seingatnya. tidak ada jadwal kunjungan untuk hari ini.

"Maaf sudah merepotkan, jadwal pertemuan dengan orang tua ternyata di majukan sebelum libur panjang,"

samar-sama Kaito bisa mendengar dari tempatnya,

"Tidak- tidak masalah. senang bisa membantu, saya yang seharusnya meminta maaf. karna penjaga keamanan untuk hari ini tidak cukup untuk menemani,"

"ah--.. sou desu nee... " wanita muda itu tersenyum, terlihat manis dengan gerakan membungkuk berulang kali, "kami hanya membawa satu rombongan, jadi tidak memerlukan pengawalan. terimakasih atas bantuannya,"

keduanya saling tertawa, membungkuk satu sama lain sebagai permintaan maaf. dan rombongan pasukan kecil kembali berbinar cerah dengan semangat kembali menjelajah museum.

"Kaito-sama," Jii-san memanggil menunjukkan denah yang didapatnya,

Kaito menerima dan membaca perlahan,

tidak ada ruang khusus, terlebih petugas keamanan hari ini. tidak sebanyak seperti hari libur. terutama pada bagian penyimpanan, tidak banyak tempat khusus, meski ada beberapa tempat yang menggunakan kartu akses.

meski semua akan berubah, setiap kali ia meletakkan surat pemberitahuan kedatangannya untuk mengambil permata.

inspektur masih bersemangat untuk menangkap dan mengungkap identitasnya di depan publik.

membayangkan, bagaimana kegagalan inspektur dalam menangkapnya berulang kali. berhasil membuatnya merasa senang dan terkikik geli.

"Kaito-sama," Jii-san memanggil, kali ini tidak mengatakan banyak hal dan hanya menatap kearah pintu museum- sosok rombongan Shinichi di sana.

kedua manik biru milik Kaito berbinar terang, garis bibir yang sebelumnya melengkung ke bawah kini tertarik keatas membentuk senyuman lebar.

rasa mual dan lelah ditubuhnya, menghilang dalam waktu singkat menjadi semangat seperti pasukan kecil yang tengah menjelajah tempat.

"kabarnya, pengrajin ini memberikannya pada nenek tua yang tidak memiliki uang untuk membeli makanan,"

"pengrajin memberikan dengan saran, guci ini ditukar dengan gandum dan buah-buahan untuk nenek dan cucunya yang menunggu di rumah."

"tapi alih-alih di jual, nenek itu justru menyimpan dan menjaga dengan baik. sampai di turunkan dari berbagai generasi, sampai di simpan di museum ini."

"nenek itu menyebutnya, kenangan yang tak terganti. nama yang cukup besar, untuk sebuah guci tua,"

Shinichi yang sudah memisahkan diri dari rombongan dengan dalih ingin melihat lebih dekat peninggalan sejarah- kini tertawa hambar saat mendengar penjelasan dari suara yang sangat dikenalnya.

"aku hampir mengira jika kau menguntitku," Shinichi tertawa hambar, tidak menyangkal jika ia curiga Kaito memiliki banyak akses untuk mengetahui aktivitas hariannya.

MoonlightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang