Head 13

705 93 15
                                        


Jovan melangkah cepat, jauh lebih cepat dibandingkan Amira yang tetap berjalan santai di belakangnya. Bahkan bisa dibilang ia kini sedang setengah berlari. Ia hanya ingin segera sampai di mobil, ingin memastikan Dirga baik-baik saja setelah ia tinggalkan seorang diri. Tidak lama memang, bahkan tidak sampai 10 menit seperti yang ia ucapkan di awal. Tapi tetap saja ia tidak dapat tenang. Isi pikirannya saat ini hanya Dirga.

Begitu sampai di mobil, Jovan langsung membuka pintu penumpang di kursi depan.

Dan saat itulah ia kembali menyadari kesalahannya. Pemandangan yang menyambutnya mengiris hatinya, meski ini semua adalah perbuatannya sendiri.

Dirga duduk diam di kursinya, tubuhnya yang kelelahan dan tidak punya tenaga terkulai ke samping dengan sedikit membungkuk. Wajahnya pucat, matanya sembab dan memerah dengan bekas air mata yang masih belum mengering di pipinya. Bibirnya tampak sedikit terlukan yang sepertinya karena gigitannya sendiri. Ia juga tidak menoleh ketika Jovan membuka pintu, bahkan tidak bereaksi sama sekali.

Hanya diam.

"Dek, abang udah selesai. Kita pulang, ya?" ucap Jovan sambil mengusap lembut pipi adiknya. Jemarinya ragu-ragu saat menyentuh pipi yang ternyata terasa sangat dingin itu, ia takut Dirga menepisnya. Tapi ternyata tidak ada reaksi. Dirga hanya duduk diam, matanya kosong menatap dashboard di depannya.

"Adek mau pulang? Atau ada yang mau adek beli dulu?" tanyanya sekali lagi dengan lembut. Jovan tidak sanggup berujar maaf, ia cukup sadar diri maafnya kini pasti terasa hampa di telinga adiknya. Jadi ia mengusap air mata, mengelus rambutnya, memberikan sentuhan sentuhan yang menenangkan.

Butuh beberapa detik sebelum Dirga akhirnya menjawab, ia berusaha menenangkan napasnya yang masih memburu, rasanya sesak "Pulang," jawab Dirga dengan suara serak. 

Jovan mengangguk cepat. "Makasih udah nunggu. Ayo kita pulang,"

Sebenarnya, Jovan masih ingin membujuk Dirga dan menanyakan apa yang sedang ia rasakan, mencoba meredakan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Namun, sebelum ia bisa mengucapkan satu kata pun, Amira sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang belakang dengan ekspresi tanpa beban, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Ia merapikan rambutnya sebentar, lalu tersenyum santai saat bertatapan dengan Jovan.

"Yuk pulang," kata Amira ringan sambil membuka ponselnya.

Jovan kembali bimbang, akhirnya ia masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan mulai menyetir.

Mobil melaju di jalan raya, tapi suasana di dalam terasa sunyi dan sepi, hanya ada suara radio yang terdengar samar. Jovan beberapa kali melirik Dirga yang duduk di sampingnya, ia juga melontarkan beberapa pertanyaan dengan harapan mendapatkan sedikit reaksi, tapi nihil. Adiknya tetap diam memandang keluar jendela.

Jovan mengencangkan genggaman di kemudi, merasa ada yang semakin jauh dari dirinya.

Dan Dirga hanya duduk diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.

&&&

Sesampainya di apartemen, Dirga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya diam, membiarkan Jovan membantunya keluar dari mobil, membawanya masuk, dan menggantikan pakaiannya dengan kaos longgar serta celana santai yang ia biasa pakai di rumah.

Jovan beberapa kali mencoba mengajaknya bicara.

"Adek mau makan apa?"

"Pegel? Mau dipijitin?"

"Tadi beneran nggak enak badan atau cuma capek nunggu?"

Tapi Dirga tidak memberikan respon. Ia hanya mengangguk atau menggeleng tanpa benar-benar menunjukkan ekspresi. Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang entah ke mana. Akhirnya, setelah beberapa kali percobaan gagal, Jovan menghela napas panjang, menatap adiknya yang kini sudah duduk di tempat tidur  dengan perasaan yang tidak karuan.

Two Sides of CoinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang