Head 14

623 55 7
                                        




Selamat lebaran\(^v^)/

Mohon maaf lahir dan batin, maaf kan author yang jarang update:(

&&&

Ketika Dirga membuka matanya, kamarnya masih cukup redup dan hanya diterangi lampu tidur. Jendela yang masih ditutupi oleh gorden juga tampak belum terlalu terang, menandakan matahari belum terlalu tinggi. Biasanya, ia akan bangun dengan suara Jovan yang memanggilnya atau mengguncang bahunya pelan. Tapi hari ini, ia terbangun sendiri, dan jujur saja, ia lebih suka begini. Ia masih tidak ingin berbicara terlalu banyak dengan abangnya itu. Tidak setelah apa yang terjadi kemarin, ia butuh waktu untuk mencerna semuanya sendiri. Ia juga sedang tidak punya tenaga untuk memasang topeng bahwa ia baik-baik saja.

Dirga menatap langit-langit kamarnya untuk beberapa saat, mencoba mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya memiringkan tubuhnya sedikit dan meraih ponselnya. Ia membuka layar, memeriksa apakah ada pesan atau panggilan yang masuk.

Tidak ada.

Baik Yudha maupun Sekar tidak menghubunginya kembali seperti yang mereka janjikan. Kadang Dirga bingung, kenapa orang-orang mudah sekali membuat janji yang tidak bisa mereka tepati. Apa sulitnya mengetik satu pesan saja? Bahkan hanya sekadar basa-basi? Jika memang tidak ingin, lebih baik tidak usah mengatakan apapun.

Dirga menarik napas panjang, menahan perasaan kecewanya sebelum meletakkan kembali ponselnya ke meja di samping tempat tidur.

"Adek udah bangun?"

Dirga tidak menjawab pertanyaan Jovan yang baru saja memasuki kamar. Ia hanya mengangguk kecil sebelum berusaha bangun dari tempat tidur. Gerakan tubuhnya sudah semakin terbatas, dan ia tahu tanpa bantuan ia tidak akan bisa duduk sendiri. Jadi ia biarkan dirinya dibantu. Ia cukup sadar diri.

Jovan segera menghampiri dan membantunya. "Ayo, abang bantu," katanya sambil menopang tubuh Dirga dengan hati-hati. Biasanya Dirga akan bercanda atau mengomel tentang betapa ia merasa seperti anak kecil yang harus terus dibantu. Tapi hari ini, ia hanya diam.

Setelah memastikan Dirga sudah duduk dengan baik. Jovan membantu Dirga menjalani terapi pagi untuk mengeluarkan lendir dari paru-parunya. Tangannya bergerak terlatih, menepuk punggung Dirga dengan ritme yang sudah ia hafal di luar kepala.

Suara napas Dirga terdengar berat, dan sesekali ia terbatuk lemah, berusaha mengeluarkan sisa lendir yang menghambat pernapasannya. Tubuhnya sedikit bergetar dan matanya berair karena menahan tekanan yang muncul dari dalam tenggorokannya.

"Pelan-pelan Dek. Tarik napas panjang dulu," ujar Jovan lembut sambil menepuk punggung adiknya sekali lagi.

"Uhuk! Hoek-"

Batuknya semakin menjadi, hingga akhirnya ia terpaksa mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Setelah segumpal lendir berhasil keluar, akhirnya setelah beberapa menit napasnya terasa lebih lega.

"Udah mendingan?" Dirga tidak langsung menjawab, ia menarik dan menghembuskan nafasnya dahulu. Lalu ia hanya mengangguk sedikit sebelum menutup matanya sejenak, meredakan pusing yang muncul setelah terapi itu.

"Maaf abang belum bisa beli alatnya. Abang usahkan secepatnya," ucap Jovan lirih sambil membersihkan bibir adiknya dengan tisu. "Padahal abang udah janji minggu ini bisa beli,"

"Gakpapa,"

Setelah selesai, Jovan memindahkan dan memastikan Dirga nyaman saat duduk di kursi rodanya sebelum mendorongnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, Jovan membantunya berganti pakaian untuk sekolah. Tidak lupa ia juga memakaikan kaus kaki dan sepatu di kaki Dirga.

Two Sides of CoinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang