Untuk kesekian kalinya dalam hidup, Dirga harus menelan kecewa atas ekspetasinya sendiri.
Ia sudah membayangkan akan mengikuti study tour beramai ramai dengan teman sekelasnya, terutama Sekar dan Yudha. Menikmati keseruan perjalanan menggunakan bus seperti yang ia sering lihat di sosial media selama ini, meski bukan perjalanan jauh, pasti samgat menyenangkan. Terdengar remeh memang, tapi itu salah satu hal yang sangat ingin dilakukan Dirga.
Sayangnya, ia harus berpuas hati terpisah dengan seluruh teman temannya untuk menuju lokasi. Ia berangkat dengan Jovan menggunakan mobil mereka. Meski kesal, pada akhirnya Dirga hanya diam saja menikmati perjalanannya. Untuk ikut saja rasanya hampir mustahil mengingat apa saja yang sudah terjadi beberapa hari yang lalu.
Kondisinya yang sempat menurun. Sekolah yang tidak memberikan izin. Pertengkaran dengan abangnya.
Semu hal itu membuatnya malu jika harus mengeluh di hadapan abangnya yang sudah ia banyak direpotkan dan disakiti belakangan ini.
"Nanti di sana jumpa yang lain kok, Dek," kata Jovan, mencoba menghibyr sambil mengusap rambut adiknya dengan tangan yang tidak memegang setir.
Jovan yakin adiknya sangat kesal saat ini. Sejujurnya, ia sendiri juga kesal bukan main dengan pihak sekolah. Bukan karena mereka tidak mengizinkan Dirga naik bus, tapi lebih kepada alasan yang mereka berikan. Mereka bilang tidak ada tempat untuk kursi roda Dirga, juga bahwa akan sulit jika harus menggendongnya setiap kali keluar-masuk bus. Tapi Jovan tahu, alasan sebenarnya lebih sederhana dari itu, mereka tidak ingin repot.
Jovan sudah menawarkan solusi. Ia bahkan bersedia ikut di bus dan bertanggung jawab penuh atas Dirga sesuai permintaan sekolah. Tapi setelah melihat sikap pihak sekolah yang enggan mencari jalan keluar, Jovan akhirnya memilih mengalah.
"Atau ajak Sekar sama Yudha ke sini aja gak, biar rame?" tawar Jovan tiba-tiba.
Dirga menoleh tajam. "Gak usah!"
"Kenapa? Abang aja yang bicara ke mereka kalau kamu gak enak," Jovan mulai meraih ponselnya. Rasanya kerua sahabat baik adiknya itu tidak mungkin keberetan dengan permintaan sederhana ini.
"Gak. Jangan coba-coba," kata Dirga cepat. Ia kembali menatap ke luar jendela, memperhatikan bus sekolah yang berada di hadapan mereka. "Jangan buat mereka ikutan repot."
"Jangan bahas lagi," sambung Dirga dengan suara yang lebih lirih."Aku harusnya senang hari ini, bukan malah kesel kayak gini."
Jovan terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. Ia mengusap kepala Dirga sekali lagi sebagai permintaan maaf tanpa kata-kata. Dirga akhir-akhir ini semakin sulit ditebak dan semakin sensitif. Belajar dari pengalaman, Jovan akan lebih banyak mendengar mulai sekarang.
"Jam berapa sekarang?" tanya Dirga tiba-tiba.
"Delapan," jawab Jovan sambil melirik layar ponselnya. "Kenapa?"
Dirga menggeleng pelan. "Gakpapa, tumben aja gak ma—Eh? Abang lupa pakai jam ya?"
Ia baru menyadari tangan abangnya tampak kosong. Biasanya selalu ada jam tangan kebangannya yang selalu berada di sana.
Jovan melirik tangannya sendiri, lalu mengangkat bahu. "Nggak. Lagi nggak pengen aja."
"Biasanya Abang nggak pernah lupa pakai jam. Pas tidur aja sering masih nempel." Dirga masih menatapnya dengan tatapan curiga.
"Ya, kali ini beda."
"Kenapa?"
"Gak ada alasan khusus." kekehan kecil lolos dari bibir Jovan. Ia gemas sendiri dan terharu dengan adiknya. Ternyata ia memperhatikan hal hal kecil tentang dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Two Sides of Coin
Fiction Générale"Head or Tail?" "Kalau maunya kamu gimana?" Update tanpa jadwal.
