Head 15

730 64 18
                                        

"Jadi pacar gue sebulan ya?"

Kalimat itu terus bergema di kepala Sekar berkali-kali, seperti radio rusak yang berbunyi tanpa henti.

Saat ini ia sedang berbaring di kamarnya, lampu kamar sengaja dibiarkan mati olehnya. Hanya ada sedikit cahaya yang menelusup dari celah jendela. Sunyi dan tenang, tapi kepalanya riuh oleh pikirannya sendiri.

Awalnya, ia pikir Dirga hanya bercanda seperti biasa. Bukan hal aneh jika kalimat yang keluar dari mulut Dirga berisi lelucon yang terkadang di luar nalar.

Tapi Sekar menyadari bahwa kali ini berbeda, Dirga tidak bercanda sama sekali. Ekspresi wajah sahabatnya itu saat mengucapkannya sangat serius. Bukan menggunakan nada sarkas yang biasa Dirga pakai. Bukan juga tawa tipis atau senyum sinis yang menyiratkan ejekan. Kali ini Dirga seperti seseorang yang sedang memohon dengan sepenuh hatinya tanpa keraguan sedikitpun. Bahkan saat Yudha memberikan tatapan penuh tanya dan sedikit seperti akan menerkam. Dirga tetap tersenyum penuh harap.

"Lo gila?" itu yang refleks diucapkan oleh Sekar waktu itu. Siapa yang tidak kaget kalau menjadi dirinya?

Dirga menggeleng tegas,"Serius. Banget. Dengan kesadaran penuh." Ia sedikit menoleh ke arah Yudha yang masih terpaku dan terdiam, "Izin ya Yud, bentar aja."

Semuanya diucapkan dengan senyum yang terlalu lebar untuk terlihat wajar. Dan semakin Sekar memikirkannya, semakin ia bingung bukan main.

Kenapa sekarang?
Kenapa harus dia?
Kenapa cuma sebulan?

Ponselnya tiba-tiba bergetar memecahkan lamunannya. Nama Dirga kembali muncul di layar. Ini yang keempat kalinya sejak mereka pulang sekolah tadi. Sekar belum membalas satu pun pesannya sejak obrolan itu. Ia butuh waktu. Tapi semakin ia menunda, semakin tidak tenang perasaannya.

Akhirnya ia mengetik

"Bentar lagi gue ke tempat lo. Gue mau ngomong."

&&&

Sekar tiba lebih cepat dari rencanany sendiri. Ia membuka pintu apartemen yang tidak dikunci, Dirga sudah bilang sebelumnya untuk langsung masuk saja.
Jovan belum pulang, hanya ada Dirga di apartemennya.

Sekar diam sejenak di ambang pintu. Ia mengedarkan matanya ke seluruh ruangan yang terasa sangat sepi dan kosong itu. Ia menyadari ada beberapa hal yang tampak berbeda sejak terakhir kali ia berkunjung. Yang jika diingat ingat, sepertinya sudah cukup lama.

"Lo beneran dateng," sambut Dirga dengan senyum yang sama dengan tadi di sekolah, terlalu lebar dan kelewat ceria di mata Sekar.

"Gue bilang mau ngomong kan?"

Sekar duduk di sofa sebelah kursi roda Dirga. Ia duduk tepat di tengahnya, sengaja menjaga jarak. Bagaimanapun ada perasaan kesal di hati Sekar atas permintaan Dirga yang rasanya cukup kelewatan. Saat ini gadis itu sedang mempertahankan pendirian dan harga dirinya.

Hening menggantung di antara mereka. Tidak ada yang memulai percakapan. Sekar sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Dirga terus memandangi wajah Sekar, memikirkan kalimat pembuka yang tepat untuk meluluhkan hatinya.

"Ayah lo... tau lo ke sini?" tanya Dirga takut takut setelah teringat perihal ketidaksukaan Ayah sahabatnya ini dengan dirinya. Jangan sampai ia menyusahkan Sekar lebih banyak.

"Tau, ngapai nanya itu?" jawabnya singkat dan ketus. Membuat Dirga sedikit menundukkan kepalanya.

Sekar menarik napas cukup dalam. Sepertinya ia terlalu kasar.  "Gue marah dan bingung sama lo,"

Two Sides of CoinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang