Dirga melihat abangnya sudah bersiap dengan pakaian yang rapi meski ini adalah Minggu pagi. Kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang dipasangkan dengan celana bahan hitam yang sangat cocok di tubuh jangkungnya. Rambutnya juga terlihat lebih tertata dari biasanya. Bahkan, aroma parfum maskulin yang khas tercium samar di udara. Jelas sekali bahwa Jovan akan pergi ke suatu tempat yang spesial bersama orang yang spesial. Tidak perlu ditanya, Dirga tahu abangnya pasti akan pergi dengan Kak Amira.
"Abang mau pergi sebentar sama Kak Amira, fitting jas pengantin," ujar Jovan sambil memasukkan dompet dan ponselnya ke dalam saku celana. Senyum lebar tidak kunjung hilang dari wajah tampannya membayangkan akan menghabiskan harinya dengan kesayangannya.
Mendengar itu, Dirga langsung berseru dengan semangat, "Ikut! Ayo jalan-jalan!"
Ia baru saja akan meminta untuk jalan - jalan keluar, bebas ke mana saja. Karena ia tidak tahu harus ke mana dan hanya merasa bosan. Mendengar abangnya akan pergi ke suatu tempat membuatnya ingin ikut.
Jovan terdiam sejenak, keningnya berkerut, ia jelas tidak menyangka permintaan yang tiba-tiba itu. Matanya menatap Dirga dengan ragu seakan mencoba memastikan bahwa ia tidak salah dengar. "Hah? Ikut?" tanyanya memastikan.
"Iya, ikut," Dirga mengangguk mantap. "Memangnya kenapa? Gak boleh? Kan cuma mau fitting, coba- coba aja kan? "
Jovan menghela napas panjang. "Bosen nggak nanti? Di sini aja ya? Nanti abang pulangnya cepat kok, mau titip apa?"
"Maunya ikut!"
Jovan tahu jika adiknya sudah berbicara seperti itu, tidak ada gunanya membantah. Dirga bisa sangat keras kepala jika menginginkan sesuatu, dan menolak hanya akan membuat semuanya semakin runyam. Lagipula, Jovan tahu bahwa sejak kejadian terakhir, adiknya tampak lebih sering ingin menghabiskan waktu bersamanya.
Tapi bagaimanapun juga, ia butuh waktu berdua dengan kekasihnya. Belakangan ini Amira sudah terlalu banyak mengalah untuknya. Mereka sama sekali tidak bertemu sejak Dirga dirawat di rumah sakit terakhir kali. Oleh karena itu Jovan menyisihkan satu hari untuk mereka berdua.
"Iya cuma fitting, setelah itu pulang. Makanya ngapai ikut. Mending istirahat mumpung libur sekolah," Jovan masih mencari seribu alasan tanpa menolak adiknya secara langsung.
"Justru karena libur, aku mau jalan sama abang,"
"Oke," akhirnya Jovan mengalah dengan berat hati, "tapi harus janji kalau capek atau nggak enak badan, langsung bilang."
"Sip!" Dirga mengacungkan jempolnya dengan senyum lebar terukir di wajahnya.
&&&
Setelah berganti pakaian dengan bantuan Jovan, kaos biru, celana bahan longgar, serta jaket tipis, Dirga kini sudah duduk di kursi rodanya, siap untuk berangkat. Jovan memasangkan selimut tipis di atas kakinya sebelum mendorong kursi roda itu keluar dari apartemen mereka.
Di lobi gedung apartemen, Amira sudah menunggu dengan ekspresi yang tidak kalah bahagianya seperti Jovan tadi pagi. Wanita itu mengenakan pakaian yang senada dengan jovan, sesuai dengan perjanjian mereka. Blouse putih dengan celana jeans biru, tampak sederhana tapi tetap anggun. Ia sengaja menghampiri Jovan agar Jovan tidak perlu memutar arah untuk menjemputnya, karena tempat yang akan mereka tuju lebih dekat dengan apartemen Jovan dibanding rumahnya.
Tapi eksperesinya langsung berubah begitu melihat Jovan tidak datang seorang diri, wajahnya sejenak menunjukkan ketidaksenangan sebelum dengan cepat ia sembunyikan. Matanya berpindah dari Jovan ke Dirga, lalu kembali ke Jovan.
"Dirga ikut juga?"
"Boleh kan, Kak?" tanya Dirga dengan senyum kecil.
Amira tidak langsung menjawab. Matanya sedikit menyipit sebelum ia melemparkan tatapan sekilas ke Jovan, seolah ingin memastikan apakah yang dilihatnya ini benar. Sejenak, bibirnya terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian ia menutupnya kembali, memilih untuk menelan kata-katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Two Sides of Coin
Ficción General"Head or Tail?" "Kalau maunya kamu gimana?" Update tanpa jadwal.
