"Jadi pacar gue sebulan ya?"
Sudah seminggu sejak kesepakatan itu terbentuk. Semua berjalan lancar, sesuai dengan harapan Dirga. Sedangkan Sekar? Gadis itu tampak melakukannya dengan sangat baik. Meski mungking itu hanya asumsi Dirga pribadi saja. Karena kenyataannya, Sekar masih canggung setengah mati dengan semua sandiwara ini.
Bahkan sampai sekarang, sangat kentara bahwa perasaan itu hanya satu arah. Mereka tidak bergandengan tangan, tidak saling mengirim pesan romantis. Semuanya selalu dimulai oleh Dirga. Jika dibandingkan, mereka justru lebih akrab saat masih berteman biasa seperti sebelumnya.
Ntah karena terpaksa atau kasihan alasan Sekar tetap melakukannya meski setengah hati, Dirga berusaha untuk tidak peduli, selama Sekar berada di sisinya. Setidaknya kali ini ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan.
Hubungan mereka berdua tentu menjadi topik perbincangan yang hangat di seantero sekolah. Apalagi semua orang tau, bahwa sebelumnya Sekar sudah menjalin hubungan dengan Yudha meski baru seumur jagung.
"Kasihan Sekar. Masa sih, pacaran beneran sama Dirga?"
"Lo serius ? Lo tuh bisa dapet cowok normal, sehat. Kenapa harus pilih dia?"
"Gila ya Dirga! Pacar teman sendiri diembat,"
"Fisiknya sakit, rupanya otaknya lebih sakit!"
Berkali - kali Sekar dan Yudha diwawancarai apakah ada unsur paksaan atau tidak dari Dirga dengan semua yang terjadi. Mereka berdua hanya diam dan mengatakan bahwa tidak ada paksaan. Tapi tetap saja, keduanya tidak pandai berbohong. Sehingga semuanya menarik kesimpulan dan memberikan Dirga julukan baru.
Dirga si Manipulatif
Tanggapan sang pemilik nama? Tidak ada. Sekali lagi, Dia benar benar tidak peduli. Ia bahkan tidak merasa perlu membela diri. Julukan itu tidak sepenuhnya salah.
Ia menerimanya.
&&&
"Melamun?"
Suara merdu Sekar menyadarkan Dirga dari khayalannya dan kembali fokus pada suasana ruang kelas saat ini. Ia tersenyum tipis dan memberikan gelengan singkat sebagai jawaban.
"Jadi kalau gak melamun tadi namanya apa? Tidur tapi gak tutup mata?"
"Cuma lagi mikir,"
"Mikiri apa?" tanya Sekar kembali dengan sebelah alis yang naik. Ia sekarang sedang duduk berhadapan dengan Dirga. Kedua tangannya ia letakkan di atas meja dengan posisi menopang dagung.
"Ini bidadari kenapa malah ada di sekolah, bukannya di kayangan,"
Sekar terkekeh pelan dan mengusak rambu Dirga, "Gombal," Tanpa hubungan pura-pura ini, Dirga memang sering melemparkan candaan dan godaan seperti ini. Jadi ia sudah tidak terkejut.
"Siapa suruh cantik banget? Sia sia punya pacar secantik ini tapi gak digombalin," ujar Dirga dengan santai.
Perlahan uluran tangan itu turun. Kalau sudah seperti ini godaannya, baru kembali terasa canggung. Sampai kapanpun, Sekar rasanya belum bisa menyematkan predikat pacar itu pada Dirga.
"Jalan yuk?"
"Mau ke mana?"
"Belum tau mau ke mana. Maunya ke mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Two Sides of Coin
General Fiction"Head or Tail?" "Kalau maunya kamu gimana?" Update tanpa jadwal.
