Head 9

899 102 21
                                        

Keseharian Dirga jika sedang dirawat di rumah sakit tidak jauh berbeda dengan hari harinya yang biasa. Abangnya hanya dapat izin kerja satu sampai dua hari pertama sejak ia dirawat. Sehingga selebihnya, dari pagi hingga malam ia hanya akan seorang diri.

Ingin sekali ia merengek dan ditemani seharian. Tapi ia cukup sadar diri untuk tidak melakukannya. Kalau abangnya tidak bekerja, mereka tidak akan bisa makan dan hidup.

Meski terkadang ia cemburu melihat pasien lain yang akan ditemani atau dijenguk oleh keluarganya. Seumur umur tidak ada yang menjenguknya. Biasanya Sekar dan Yudha akan datang menjenguknya, tapi saat ini ia sedang menjauh dari mereka. Bahkan sampi sekarang ia belum meberitahukan mereka di mana ia dirawat. Sedangkan orang tuanya hanya pernah satu dua kali datang, itupun karena dipaksa.

Dirga cukup bersyukur kali ini mendapat kamar yang berada di dekat jendela, setidaknya ia dapat melihat pemandangan di luar kamar. Ia sangat bosan dan tidak tau harus melakukan apa. Untuk memainkan ponselnya atau membaca buku, kepalanya masih cukup pusing. Jadi yang bisa ia lakukan hanya tidur dan melamun.

"Sebentar lagi abangnya pulang Le, sabar ya," ucap lelaki paruh baya yang merupakan pasien di tempat tidur di samping Dirga. Bapak tersebut sangat baik dan ramah. Beberapa kali mengajak Dirga mengobrol, sayangnya Dirga masih cukup sesak dan tidak kuat berbicara terlalu banyak. Bahkan istiri bapak tersebut yang beberapa kali membantunya untuk minum atau memanggilkan perawat.

Dirga membalas ucapan itu dengan semyum ramah. Mungkin bapak tersebut memperhatikan dirinya yang bolak balik melirik ke arah jam dan pintu. Memang seharusnya sebentar lagi abang kesayangannya itu pulang. Dan yang membuatnya semakin tidak sabar menunggu adalah martabak keju yang sudah ia titip. Abangnya berjanji akan membelikannya hari ini karena semalam ia tidak sempat membelikannya.

Ditengah perut Dirga yang keroncongan membayangkan martabak keju yang manis dan lembut, sosok Jovan tampak memasuki pintu. Senyum lebar ia berikan untuk abangnya yang terlihat lelah sepulang bekerja. Melihat ada satu tas tenteng yang ia bawa, sepertinya abangnya itu pulang terlebih ke dahulu ke apartemen sebelum datang ke rumah sakit.

Tapi Dirga tidak melihat plastik kresek baik di tangan kanan atau kiri. Ia tidak menemukan martabak keju yang ia idam idamkan itu. Yang terlihat hanyalah tas kerja dan tas tenteng.

"Martabaknya mana..." ucap Dirga begitu Jovan berada di dekatnya. Ia masih berharap, mungkin abangnya menyimpan martabak itu di dalam tas.

Jovan tidak menatap adiknya, ia langsung membereskan bawaanya terlebih dahulu, "Gak sempat belinya, abang pulang dulu tadi. Beresi baju, nyuci. Kalau beli martabak juga harus muter, macet dek. Nanti kemalaman sampai sini, abang udah ngantuk banget,"

"Tapi abang udah janji! Kemarin gak jadi, hari ini gak jadi,"

Jova menarik napas dalam dalam sebelum menjawab. Hati kecilnya merasa bersalah karena ia memang sengaja tidak membelikan pesanan Dirga. Tapi di saat yang sama, ia sedang sangat lelah dan tidak ingin mendapat protes setelah melakukan banyak hal.

Ia sedang mencoba menerapkan suatu batasan. Jovan perlahan tidak akan selalu menuruti permintaan adiknya demi kewarasannya sendiri. Ia harus mulai memilah yang mana prioritas dan yang mana dapat ditunda atau dikesampingkan.

Seperti masalah study tour adiknya. Ia memutuskan untuk pura pura tidak tahu mengenai Dirga yang menghubngi orangtua mereka untuk menjadi pendamping. Kali ini Jovan tidak bisa mengalah, ia sangat membutuhkan uang dari pekerjaannya. Lagipula pada akhirnya, uangnya juga akan terpakai untuk perawatan adiknya.

"Bangg... tolong belii dong, pengen banget ini. Kalau gak aku marah sama abang!" protes Dirga dengan melipat tangan dan memajukan bibirnya. Ia memasang mode merajuk yang biasa ia gunakan jika sedang ingin sesuatu

Two Sides of CoinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang