"Wicha, itu Ailee susuin dulu nak, udah laper kayaknya itu sayang" ujar ibu menghampiri Bible didalam kamarnya karena mendengar Ailee yang menangis.
"ga"
"lohh kok gitu nak? Kasihan loh ini Ailee nya sayang" ujar ibu menggendong cucunya itu.
"gamau, kasih orang lain aja"
"sayang...nak hei denger ibu coba, Wicha ga boleh begini, kasihan anaknya sayang"
"semua orang mikirin dia, apa-apa dia, ga pernah mikirin aku, kasih aja dia ke Jes, suruh Jes jemput anaknya, aku gamau berurusan sama dia dan anaknya lagi" ujar Bible.
"ga ada yang begitu sayang, semuanya juga mikirin Wicha, semuanya sayang sama kamu nak, apalagi Ailee, kalau udah bisa ngomong pasti Ailee bakalan ngomong kalau dia sayang banget sama kamu"
"bohong! Aku capek tau ga?! Ibu suruh aja dia jemput anaknya, suruh orangtuanya dia ngurus cucunya, aku gamau ketemu lagi sama mereka, dan bayi itu bukan anak aku!" seru Bible keluar dari kamarnya.
"ehh astaga mau kemana itu Wicha?" tanya ibu bergegas mengikuti langkah anak semata wayangnya itu.
"ibu buang aja dia, berisik! Aku ga suka!"
"astaga Wichaaaa, ga seharusnya kamu beginii, coba tenangin diri kamu dulu, kasihan anak kamu ini Wicha, udah nangis begini loh anaknya naakkk"
"Wicha tenang nak, kamu ga boleh begini" ujar ayah memegang kedua pundak Bible.
"kenapa aku ga boleh ini ga boleh itu? Ayah mau ngomong apa? Kasihan bayi itu? Yaudah kasihani aja terus, aku ga peduli apapun lagi, aku ga punya suami ga punya anak, terserah itu bayi mau diapain juga aku ga peduli" ujar Bible menangis.
"sudah sudah, Ailee sama ibu, Wicha masuk kamar dulu istirahat" ujar Ayah menuntun anaknya itu untuk kembali masuk beristirahat.
Bible pun duduk diatas ranjangnya dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya itu, sementara sang ayah kini memilih untuk duduk berhadapan dengan anak satu-satunya itu.
"ayah boleh disini? Wicha mau cerita apa sama ayah?" tanya sang ayah menatap anaknya yang kini menundukkan kepalanya.
"ayah inget banget dulu Wicha paling seneng kalau ayah pulang kerja lebih cepat, Wicha jadi bisa cerita apa aja tentang hari Wicha disekolahan, iya kan?"
"terus juga kalau ayah pulang lebih cepat, kita bisa keliling-keliling sore pake motor, nanti pas udah mau pulang kita bisa jajan jajanan yang bikin ibu ngomel, katanya jajanan pilihan ayah dan Wicha gaada yang sehat"
"terus kadang walaupun udah jajan sorenya dan ibu udah masak makan malem, kita ga jarang curi-curi kesempatan beli sate biar ga ketauan ibu dan ga kena omel, walaupun ujung-ujungnya pas pagi tetep ketauan karena ayah atau Wicha lupa buang barang buktinya"
"ayah inget banget dulu, kehadiran Wicha ditengah ayah dan ibu bikin kami sangat bahagia, walaupun tiap malem suka kebangun karena Wicha yang hobi ngerengek dan tiba-tiba nangis, tapi tangisan kamu, rengekan kamu, tawa kamu itu juga bikin ayah dan ibu sangat bahagia, dulu juga saat Wicha lahir semua perhatian orang-orang semuanya cuma untuk Wicha, ibu dilarang ini dilarang itu biar Wicha ga kenapa-napa, ayah tau itu nyebelin banget, dan mungkin ini yang Wicha rasain sekarang, tapi percaya sama ayah, kalau didalam lubuk hati Wicha yang paling dalam sekarang juga mementingkan Ailee, pasti sekarang apa-apa Ailee, prioritasnya cuma Ailee"
"mungkin lingkungannya yang lagi ga mendukung rasa nyaman itu, ayah paham kok, semua yang Wicha rasain sekarang gaada yang salah nak, semua yang baru Wicha alami ngebuat Wicha ga seneng sama Ailee, dan itu cuma pelampiasan aja, kamu pasti sadar kalau Ailee ga salah apa-apa, ayah tau itu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret
FanfictionSiapa yang tidak mau memiliki suami dan mertua yang sama-sama menyayangimu? Tapi apa jadinya jika dinikahi tapi terus dirahasiakan karena salah satunya tidak menginginkan kehadiranmu?
