"ayo nak tinggal sedikit lagi ini" ujar ibu yang tengah menyuapi Bible makan malam.
"pinter anak ibu" puji wanita paruh baya itu saat sang anak kembali menerima suapannya.
"ga sakit lagi kan perutnya?" tanya ibu yang dijawab gelengan oleh Bible.
"syukurlah sayang, dedek tahan dulu didalem ya nak, bulan depan aja ya kita ketemu ya" ujar ibu mengusap perut Bible.
"dokter bilang tadi kemungkinan terburuknya harus operasi deket-deket ini" ujar Bible.
"iya nak, dan itu pasti yang terbaik untuk Wicha dan dedek bayi ya" jawab ibu berusaha menenangkan hati anaknya itu.
"kasian baby nya ibu"
"bisa kok, baby kan ga sendirian sayang, Wicha juga ga sendirian, kan ada mas mu ada ibu ada ayah juga, semuanya itu sudah ditakdirkan Wicha dan kita ga bisa melawan itu, apapun nanti akhirnya, pasti itu yang terbaik, bukan salah Wicha bukan salah siapa-siapa, ga ada yang salah nak, memang sudah waktunya"
"bu udah" ujar Bible menolak makanan yang kembali disuapi oleh sang ibu.
"kok udah?"
"mual ibu"
"mau muntah nak?" tanya ibu yang dijawab gelengan oleh Bible.
"yaudah ini minum dulu ya" ujar ibu meletakkan piring itu dan membantu Bible untuk minum.
"apa yang Wicha rasain sekarang?" tanya ibu.
Bible hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang ibu, ia bahkan tidak tau harus menjawab apa, hatinya tak karuan, ia sedih dan sangat khawatir sekarang, membuat ia kebingungan untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan saat ini.
"ibu peluk ya nak" ujar ibu yang diangguki oleh Bible.
Ibu pun memeluk Bible, mengusap lembut punggung anaknya itu berharap sang anak merasa lebih nyaman dan tenang saat ini didalam pelukannya.
"nanti kalau mas udah balik, ibu istirahat dirumah ya"
"gamau ibu tungguin disini aja?"
"engga, nanti ibu tidurnya dimana, aku gamau ibu malah sakit"
"yaudah kalau gitu pas besok pagi ibu balik kesini, mas mu suruh istirahat dirumah ya" ujar ibu yang diangguki oleh Bible.
"halo" sapa Jes yang masuk kedalam ruangan rawat itu.
"loh cepet banget baliknya nak"
"mandi dan ambil kebutuhan Bible doang ibu"
"istirahat dulu aja"
"gapapa bu, biar ibu ga kemaleman ke rumahnya"
"mas udah makan?" tanya Bible.
"sudah sayang"
"ibu istirahat dirumah ya" ujar Bible.
"yasudah ibu tinggal dulu, kalau ada apa-apa kabari ibu segera ya"
"iya bu"
Ibu pun kembali ke rumah anak menantunya itu dengan diantar oleh supir pribadi keluarga itu.
Sementara Jes kini duduk dipinggir ranjang sambil menatap Bible yang duduk bersandar pada kepala ranjang rawatnya itu.
"kenapa hm?" tanya Jes menggenggam tangan Bible.
"sedih ya sayang? Lagi ga enak perasaannya?" tanya Jes lagi yang kali ini diangguki oleh Bible.
"gapapa sayang kalau sedih, mas ngerti kok apa yang kamu rasain, kalau mau nangis gapapa ya sayang, maaf karena mas ga bisa bikin hatinya kamu lebih tenang, kamu harus tau Bi, kamu udah ngasih yang terbaik untuk anak kita sayang, kamu yang terbaik, dan kalaupun baby harus lahir secepat ini, dia ga akan berjuang sendirian, ada kamu dan ada mas juga, kamu jangan takut ya, jangan ngerasa ini salah kamu, semua yang terjadi adalah takdir yang terbaik untuk keluarga kita" ujar Jes sambil terus mengusap punggung tangan Bible.
KAMU SEDANG MEMBACA
Secret
FanfictionSiapa yang tidak mau memiliki suami dan mertua yang sama-sama menyayangimu? Tapi apa jadinya jika dinikahi tapi terus dirahasiakan karena salah satunya tidak menginginkan kehadiranmu?
