Satu minggu kemudian, keadaan belum kembali normal, Abintara masih berada di rumah sakit dengan berbaring dan melamun seperti biasanya, Ia larut dalam pikiran-pikiran buruk dan cemas pada diri nya sendiri mau pun kehidupan orang-orang di sekitar, bagi nya ia hanyalah beban, ia hanya lah manusia yang tidak pantas di perjuangkan, ia adalah manusia yang tidak bisa sembuh dari penyakitnya dan, berusaha hanya memperpanjang waktu saja.
Kulit pria itu sudah berubah, menjadi pucat, kering, sedikit kemerahan dengan luka-luka kecil yang ia akibatkan karena menggaruk rasa gatal atau terbentur besi penghalang ranjang, penglihatan nya sudah memudar bahkan kali ini lebih parah dari awal, resiko kebutaan akan timbul bila ia terus menolak perawatan, Ingat bahwa saat ini Abintara sedang berada di rumah sakit ayahnya? Tentu saja hal itu membuat dirinya semakin tidak mau untuk perawatan lebih lanjut karena itu ayahnya, ayahnya tidak akan berhenti mengutuk pada dirinya saat sedang melakukan perawatan, hal itu membuat Abintara semakin lemah.
Satu hal lagi yang membuat Abintara semakin lemah yaitu, Sagara dan Gemintara masih tak kunjung mendatanginya, rasa sakit yang di timbulkan oleh penyakit semakin bertambah karena keduanya, mereka adalah penyemangat utama yang mampu menyembuhkan Abintara yang mampu membuat diri nya berani untuk melakukan segala hal untuk sembuh namun saat ini, Jika bukan Lilly yang berada di samping sudah pasti ia akan melompat dari atas gedung itu.
Abintara POV
Aku terbangun dari tidur ku yang terlalu larut dalam kegelapan, Hal pertama ketika aku membuka mata selalu wanita itu, wanita dengan wajah datar yang selalu memaksakan tersenyum penuh kebaikan untukku, senyuman terindah yang selalu aku harapkan untuk saat ini ketika aku terbangun, jika tidak menemukan nya hatiku akan hancur seperti tidak melihat Gemintar atau Sagara, yang entah mengapa sampai saat ini keduanya masih belum menemuiku, aku hanya menyadari bahwa mereka juga lelah, mereka juga punya dunianya sendiri, mereka juga ingin hidup. Tidak seperti aku yang hidup untuk memperpanjang kehidupan.
Sea meraih lenganku dengan sangat lembut, semenjak saat aku meminta dirinya untuk menjadi kekasihku, Aku selalu bersikap biasa seperti teman, Mengapa? Karena penolakan itu, yah, Sea menolak ku, dia ingin melakukan nya secara alami tanpa paksaan, tanpa tuntutan, Ia berkata ingin mencintaiku dengan pelan-pelan dengan penuh ketulusan, dia tidak akan mencoba berusaha, dia akan melakukan nya dengan kesadaran penuh. Aku tidak marah tentang itu, hanya saja sedikit kekecewaanku bertambah, Tapi sea masih menjadi hal yang ku harapkan di dunia ini.
Aku tidak banyak membalas senyuman atau sentuhan nya.
"Kau baik-baik saja? Bagaimana tidur mu? Ayo kita makan ini sudah jadwalnya."
Aku mengangguk sembari berusaha untuk berdiri, Ia yang melihat aku menganggukkan kepala langsung tersenyum lebar dan membawa piring makanan yang sudah suster sediakan, makanan ini sudah biasa untuk ku, Aku selalu memakan nya karena aku selalu berada di rumah sakit dan dokter mana pun selalu menyuruh mereka membuatkan makanan penuh gizi serta vitamin agar kulit ku kembali sempurna.
"Aku akan keluar sebentar, aku juga butuh asupan." Ucapnya dan aku hanya mengangguk, Sea selalu makan di kantin, Ia tidak suka makan dengan orang yang memperhatikan nya, atau berduaan seperti kekasih, dia masih belum bisa atau mengerti apa itu romantis, aku yang mengerti karena film-film ku tampak sedikit bingung karena belum pernah beradegan tidak romantis.
Perlahan aku mampu menghabiskan makanan ku, karena sedang lapar dan butuh vitamin dengan banyak, lalu mataku beralih melihat matahari yang tembus pada jendela kamar, itu membuatku panik, karena matahari tiba-tiba naik dan menembus hampir terkena kasurku, aku segera mengambil selimut dan menutup kakiku agar tidak terkena sinar matahari, panik dan cemas yang kurasakan membuatku sedikit stres, Hal utama nya karena tidak ada yang menolongku, perlahan pun aku terisak dan menangis, teringat bagaimana Gemintara kakak ku yang akan menenangkan, dan mengusap rambutku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Abintara&Universe
Novela JuvenilAku berkata... semesta harus mengetahui Rupa, dan raga yang begitu indah di hadapanku, Bahkan jika kuadukan indahnya matahari, pelangi, kerlipan ribuan bintang, sinar bulan di malam hari, matahari yang tenggelam, atau semua keindahan alam semesta...
