Bab 3 SINAR BULAN: kisah di balik bulan dingin

28 8 1
                                        


Mungkin aku wanita yang tidak punya hati nurani, bukan berarti tidak punya cinta

Aku terbangun di pagi hari dengan tubuh yang terasa ringan setelah sekian lama tidur ku tidak pernah benar-benar tertidur, cuaca hari ini tampak indah namun orang di kamar sebelahku tidak menyukainya, aku berjalan menuju balkon untuk berada di teras atap ku menatap matahari yang bersinar terang, sangat tidak baik untuk Abintara, dan saat aku melihat seluruh pintu dan jendela nya sudah tertutup rapat, pasti Sagara yang menutupnya.  Sagara telah kembali merawat
Abintara, hari di mana Abintara kembali pulang ke rumah dan di rawat dengan baik oleh Sagara aku di perintahkan olehnya untuk bekerja dengan benar, Fransisca pun sudah menarik-narik diriku untuk kembali ke kantor, dan aku pun menurut, aku tidak bisa selamanya meninggalkan pekerjaan, namun meskipun aku sibuk, sesekali aku sempatkan untuk mampir ke rumah sampingku untuk melihat perkembangan Abintara.

"Sagara." Aku berteriak berharap pria itu keluar.

"Sagara."

Trak

pintu terbuka sedikit, namun tidak menampakkan Sagara yang keluar melainkan Abintara yang sedang mengintip kecil di pintu tersebut, ia berbisik kecil menggunakan mulutnya yang hampir tak bisa ku dengar.

"Apa?" Ucap ku kembali berteriak.

"Jangan berisik." Bisik nya, kali ini mampu ku dengar.

"Sagara sedang tidur, dia kelelahan."

Ah... aku menganggukkan kepala dan menangkupkan kedua tanganku meminta maaf, lalu Abintara kembali menutup pintunya, aku hanya mampu mengangkat bahuku, memahami mereka yang saling menjaga dan membantu, pasti sangat melelahkan menjadi Sagara, hari-hari nya penuh pekerjaan, namun di sela-sela itu ia harus merawat Abintara dan ketika pulang ke rumah, ia harus juga memperhatikan Gemintara, dan merawat perkembangan mentalnya yang membaik, semoga pria itu mendapatkan hal yang setimpal suatu saat nanti.

Kembali pada pekerjaan, aku terduduk dan membuka laptop di mana hari ini harus menemukan ide baru dan suasana baru yang harus ku temui, aku selalu melakukan penelitian ketika membuat parfum, mencari suasana yang pas dan aroma yang nikmat ketika di gunakan di suasana itu, namun setelah ku pikir-pikir suasana di Thailand hari ini tidak selalu cerah, dan selalu hujan di malam hari, seperti pelangi datang setelah badai yang menerjang, di malam hari akan hujan dan di pagi hari sangat terang.

Malam tadi hujan sangat deras, sampai aku harus menutup jendela yang tak pernah ku tutup karena air memasuki kamarku, aku kembali teringat kapan hujan terakhir kali datang di Thailand? Apakah ini awalan hujan akan terus datang? Dan aku pun memiliki ide yang begitu bagus dan harus mencoba nya malam ini juga.

Abintara POV

Pagi ini sinar matahari terang begitu tajam, aku terbangun oleh sinarnya dan langsung menutup seluruh badanku menggunakan selimut yang tengah ku gunakan ku tarik sampai atas namun sulit menariknya setelah aku berusaha dan tetap tidak bisa aku melihat ke samping di mana seseorang tengah tertidur pulas seperti bayi, Sagara... ternyata pria itu yang meniduri selimutku, ia tampak begitu kelelahan dengan jas yang ia masih kenakan dan serta makeup yang belum terhapus, kali ini aku takkan mengganggu nya, ia sudah berusaha keras untukku.

Dari pada aku harus kembalian mengambil selimut lebih baik aku berjalan menutupi gorden kedua ku menebalkan penghalang nya, kami sengaja memasang berlapis lapisan gorden agar aku bisa aman berada di rumah dan tidak terlalu terkurung, jadi jika ku bosan dengan kegelapan aku akan membuka lapisan nya menjadi lebih transparan sedikit, namun kulit ku akan tetap terjaga.

Abintara&UniverseCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang