Di pertengahan jalan menuju Chiang Mai, kabut mulai berdatangan menghalangi penglihatan ku yang tengah fokus menyetir, beberapa kali melewati daerah-daerah lain dan wilayah semua jalanan tampak becek dan berair, mungkin sebelum kami melewatinya hujan lebih dahulu turun, Bahkan kami sudah mencium udara sejuk sangat tepat sekali. Chiang Mai hari ini begitu dingin, dan hening. entah apa yang terjadi suasana selama perjalanan tidak memberikan kami semangat, Bahkan seseorang di belakang sana terdiam tidak bersuara, tidak bergerak, aku takut aku hanya ingin mendengar deru nafasnya, namun sesekali aku melihat di cermin dia hanya melamun menikmati perjalanan, syukurlah...
lebih baik melanjutkan perjalanan dan membiarkan Gemintara hanyut dalam pikirkan, sejak berdamai dengan rayyan sang ayah Gemintara jauh terlihat lebih gelisah aku pikir dia akan bahagia, namun ternyata tidak, jauh dari itu dia kembali pada tekanan, di mana diri nya takut untuk kehilangan lagi, banyak yang selalu ia pikirkan dengan keras beberapa kali ku coba yakinkan untuk tidak berpikiran berlebihan namun Gemintara tetap melakukan hal tersebut yang akan membuat kondisinya memburuk.
Di tengah perjalanan aku melihat sebuah patung Buddha besar, sejujurnya aku sudah ingin mendatangi tempat tersebut sejak lama namun setiap kali perjalanan menuju Chiang Mai dengan Gemintara selalu membuatku takut untuk meminta, karena perbedaan agama di antara kita, tapi kali ini ku usahakan untuk mengunjungi, sebelum Gemintara menyadari hal tersebut mobil sudah berada di pinggir jalan dan siap untuk memarkirkan nya, tapi Gemintara tetap diam, aku pun mencoba berbalik menatapnya.
"Gemint, boleh aku bertemu dengan biksu sebentar? Ada yang harus ku tanyakan." Gemintara tersadar bahwa aku sudah menghentikan perjalanan dan ia berbalik menatapku yang tengah berada di luar mobil. Ia memutarkan mata melihat bahwa kami sedang berada di vihara lalu ia kembali menatap ku dengan menganggukkan kepala sementara itu dia bergerak untuk turun dari mobil.
"Gemint?"
"Apa boleh aku mengantarkanmu?" Pertanyaan Gemintara membuatku terkejut meskipun aku tahu Gemintara sering mengantar Abintara untuk menemui biksu tapi kali ini, dia ingin mengantarkanku.
Lalu kami berjalan memasuki nya, sudah banyak orang yang berlalu lalang, membuat suasana nya menjadi ramai, pantas saja di jalanan tadi terlihat sepi, semua orang tengah berteduh di sini sambil berdoa pada patung Buddha dan berbincang pada biksu, Gemintara terlihat sangat terbuka dan tidak memiliki aura rasis atau penuh pertanyaan, aku senang dia hanya diam dan menyapa beberapa orang yang tersenyum padanya. Tidak heran bila pandangan sudah tertuju pada kami, aku merasa seperti membawa aktor terkenal yang tampan, pakaian serta aura yang Gemintara pancarkan membuat beberapa pasang mata tertuju pada kami, dan hal tersebut memuakkan untukku.
Segera aku menarik lengannya untuk mendatangi salah satu biksu yang berada di jauh sana, biksu yang dapat membantu permasalahanku, dari jauh dia sudah menatapku sampai berada di hadapan nya, kami terduduk dengan biksu yang menarik nafas panjang serta memejamkan mata, saat aku mengangkat tangan Gemintara di samping melakukan hal yang sama, aku tidak mengerti mengapa ia melakukan nya, tapi menurutku itu tidak apa-apa jika hanya sekedar memberikan rasa hormat pada biksu juga padaku yang telah membawanya.
Beberapa menit kemudian.
Luang por menatapku seperti hendak untuk berbicara, alih-alih untuk berbicara tentangku, ia malah membalikkan pandangan pada Gemintara yang hanya terdiam.
"Jika tidak mudah bagimu maka berbahagialah untuk yang lain nya, suatu saat nanti jadikan hidupmu untukmu."
"Namamu siapa?" Ia beralih bertanya padaku.
"Albifansa luang por..."
"benang dapat meregang dan kusut tapi dia tidak akan putus, jiwa yang tidak saling di takdirkan di dunia ini tidak memungkinkan tidak di takdirkan di dunia lain. Albifansa kemarilah aku akan memberikanmu hati yang luas, setelah perjalanan kalian beribadah lah dengan rajin, termasuk temanmu katakan padanya untuk menghampiri masjid sebelum sampai pada tujuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Abintara&Universe
Novela JuvenilAku berkata... semesta harus mengetahui Rupa, dan raga yang begitu indah di hadapanku, Bahkan jika kuadukan indahnya matahari, pelangi, kerlipan ribuan bintang, sinar bulan di malam hari, matahari yang tenggelam, atau semua keindahan alam semesta...
