Sore hari itu, Bangkok begitu mendung dan terus di landa gerimis yang tiada henti membasahi Ibu kota, seolah langit tengah menangis dan tidak mau berhenti, beberapa berita sudah mengumumkan fenomena ini bahkan kota Chiang Mai pun mengikuti berita yang tengah populer di Bangkok dengan persamaan cuaca yang tengah terjadi. Ahli cuaca sudah mengabari media bahwa perubahan cuaca sudah memiliki tanda-tanda dari beberapa minggu yang lalu namun sinyal langit hanya menumpahkan nya pada beberapa hari ini sehingga fenomena aneh tersebut hanya mampu mereka nikmati dan syukuri kapan lagi Bangkok akan berada di musim hujan yang tiada henti seperti ini.
Dengan perubahan musim ini beberapa dari mereka ada yang di untungkan dan tidak, seperti para kru perfilman yang sudah memiliki jadwal syuting di luar ruangan namun terhalang oleh hujan untuk beberapa hari, acara yang di selenggarakan dengan kejar tayang pun terpaksa di alihkan dengan mengulang tontonan, atau menayangkan film lama.
Dan orang yang di untungkan lain nya adalah Abintara, seakan-akan dunia bersahabat dengan nya, ia menjadi menyukai hujan, karena dengan hujan kabut membantu menutupi matahari, ia bahagia untuk sesaat.
Pria itu berjalan di bawah hujan dengan memegang payung hitam dan besar itu, langkahnya begitu santai dengan senyuman mengembang menikmati aroma tanah basah yang berada di pinggir jalanan seakan-akan ia hidup sebagai manusia normal yang menikmati keindahan alam semesta, Abintara masih melangkah tanpa memperhatikan rintik hujan yang membesar seakan kembali menangis dan mengadu pada semua orang yang tengah memperhatikan nya.
Langkah nya terhenti ketika ia sudah sampai tujuan, sore itu dia berniat untuk mengunjungi Sagara ke kantor untuk menawarkan bantuan, karena belakangan ini Sagara tidak pulang akibat Gemintara dan Fansa yang berlibur mengakibatkan beberapa pekerjaan harus Sagara tangani, meskipun tidak banyak tapi yang ingin Sagara lakukan adalah memenuhi kepercayaan Gemintara padanya, Gemintara menitipkan gedung besar ini pada Sagara yang hanya berstatus manajer.
Semua orang sudah menatap pada Abintara yang datang dengan air bercucuran di celana dan yang lebih mengherankan nya ia datang tanpa mobil hanya berjalan kaki dengan beralas sepatu. Siapa yang tidak kaget melihat seorang aktor berpenampilan sederhana seperti ini dan mengunjungi tempat kerja lama nya. Seseorang pun mendatangi terlihat orang itu mengenal Abintara dengan baik, tidak lain adalah sang sutradara yang membimbing Abintara menjadi lebih indah di dalam sebuah film.
"Kenapa kau mendatangi tempat ini lagi bukankah kakakmu sudah mengusirmu?" Ia berkata dengan nada bercanda yang membuat Abintara mengikuti arusnya menimbal candaan tersebut.
"Bahkan jika aku di usir sepuluh kali pun aku akan tetap datang, di mana kakakku yang satunya lagi? Pria sibuk itu dia tidak pulang-pulang mau ku pindahkan bajunya ke kantor?"
"Biarkan dia bergelut dengan pekerjaan nya, dari pada mengeluh terus tidak mempunyai pacar, kau tidak bisa membantu apa-apa di sini Abintara lebih baik ikut aku untuk mengobrol di cafe oke?" Abintara menghelai nafas nya, niat dia datang adalah untuk kebaikan menawarkan bantuan namun di tolak dan di bawa untuk bersantai-santai.
"Ouh... phi aku sungguh bosan saat di rumah aku sudah banyak bersantai dan datang ke kantor untuk kembali bersantai? Ayolah phi aku ingin menemui kakak ku."
"Sudahlah ikut saja aku sebentar lagi dia juga akan turun dan datang ke cafe jika lapar."
Mau tidak mau pun Abintara mengikuti sutradara tersebut yang ia panggil dengan kakak, memang di sini semua tidak banyak saling mengenal nama satu sama lain, mereka hanya akan berkenalan dengan usia dan memanggil sesuai umur jika ada yang lebih tuan harus di sertakan dengan tambahan kak, dan jika ada yang lebih muda di perbolehkan memanggil nama nya, sekilas hal yang lumrah bagi setiap orang dan mungkin negara, tapi di Thailand mereka lebih menyukai memanggil phi-nong sama hal nya dengan (adik-Kaka).
KAMU SEDANG MEMBACA
Abintara&Universe
Fiksi RemajaAku berkata... semesta harus mengetahui Rupa, dan raga yang begitu indah di hadapanku, Bahkan jika kuadukan indahnya matahari, pelangi, kerlipan ribuan bintang, sinar bulan di malam hari, matahari yang tenggelam, atau semua keindahan alam semesta...
