Langit Jingga

693 43 0
                                    

She's the girl who harms herself, but I would promise to never do a thing to hurt her.

Karma melepaskan pelukanku. Aku yang sedikit tidak rela menatapnya yang tertunduk dalam.

"Karma?" Panggilku yang dibalas gelengen pelan olehnya. Karma mengangkat kedua kakinya katas kasur dan memeluk erat kakinya dengan kedua tangannya.

"...Mau mendengarkan sebuah lagu?" tanya Karma dengan suara lirih. Aku menarik kursi didekat sana dan duduk dihadapan gadis itu. Karma berdehem sebentar dan memejamkan matanya.

Mou anata kara aisareru koto mo.
Aku tak akan dicintai olehmu.

Hitsuyou to sareru koto mo nai.
Aku pun tak akan dibutuhkan olehmu.

Soshite watashi wa koushite hitoribocchi de.
Sekarang aku sendirian, seperti ini.

Ano toki anata wa nante itta no?
Apa yang kamu katakan saat itu?

Todokanai kotoba wa chuu wo mau.
Kata-kata melayang diudara dan tak bisa meraihku.

Wakatteru no ni kyou mo shite shimau.
Aku tahu, harapanku tak akan pernah terkabulkan.

Kanawanu negaigoto wo.
Namun aku tak bisa melepaskannya.

Karma membuka matanya dan menatapku datar yang sedang tertegun mendengar suaranya. Aku mengerjapkan mata dan mengendalikan diri dari kekaguman dengan suaranya. Gadis itu membuang muka dan beranjak dari kasur ke jendela kamarnya.

"Kamu tahu arti lagu tadi?" tanya Karma yang kini sudah berdiri didepan jendelanya. Angin memainkan rambutnya. Aku menatap punggung kecil itu. Sebenarnya aku tidak mengerti apa arti lagu jepang tadi. Tapi dari nada dan cara Karma menyanyikannya, kurasa itu bukan lagu berlirik bahagia.

"Aku tidak tahu pasti, kurasa itu bukan lagu yang menyenangkan," ucapku yang hanya dibalas anggukan samar Karma.

"Memang bukan lirik yang menyenangkan," ucap Karma pelan dan kembali menghadapku. Gadis itu menyenderkan tubuhnya didinding dan melipat tangan didepan dadanya. Gadis itu menatapku dengan sedikit menyipitkan matanya, "Kenapa kamu tiba-tiba datang dan memelukku begitu? Kamu tidak malu, hah?" ucapnya dingin.

Tubuhku tiba-tiba membeku namun kurasakan wajahku memanas. Aku membuang wajah dengan panik dan menutupnya dengan kedua tanganku. Aku benar-benar malu hingga berlari memasuki kamar mandi dikamar Karma dan menutup pintunya dengan keras.

Aku melewatkan momen saat Karma yang tertawa pelan dengan wajah yang merona samar.

●●●

Aku keluar dari toilet dan mendapati Karma yang duduk dikasurnya sambil menggelung tinggi rambutnya. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya saat melihatku, "Udahan malu-malunya?" tanyanya dengan santai dan datar seperti biasanya.

Aku hanya menggaruk tengkukku dan duduk kekursi yang sebelumnya kududuki. Karma melirikku, "Kamu belum menjawab pertanyaanku."

Aku terdiam, bingung ingin menjawab apa. Sekilas kulihat gadis itu sedikit tersentak namun mencoba mengendalikan diri. Karma menghela nafas pelan diiringi seringai mengerikan. Gadis itu berjalan mendekat dan berkata,"...kamu sudah tahu tentangku, ya? Mereka sudah mengatakan apa saja?" suara Karma terdengar dingin dan agak serak. Aku mengangguk sekali.

"Aku tahu ini sedikit lancang dan kamu pasti tidak akan menyukainya. Tapi, aku minta kamu tidak menahan semuanya sendiri sekarang. Kamu bisa mengandalkanku," ucapku lembut dan senyum menenangkan. Aku meraih tangan karma dan menggenggamnya erat, memberitahu jika dia tidak perlu ragu kali ini. wajahnya melunak dan seringai itu pun luntur.

Glitter DaysTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang