Pagi hari menyelimuti mansion itu dengan cahaya keemasan. Dari jendela besar ruang makan, sinar matahari menembus perlahan, memantul pada lantai marmer yang mengilap. Para pria sudah duduk di meja panjang, sebagian dengan laptop terbuka, sebagian lagi memegang laporan.
Hanya satu kursi yang masih kosong—kursi milik Ara.
Tak lama kemudian suara langkah kecil terdengar menuruni tangga. Ara muncul dengan rambut acak, masih memakai cardigan tipis, dan ekspresi mengantuk.
“Selamat pagi,” ucapnya sambil mengusap mata.
Sagara berdiri lebih dulu dan mendekat. “Sini,” katanya sambil menggendong Ara tanpa menunggu persetujuan. Ara langsung menyandarkan kepala di bahu Sagara.
“Kenapa semua orang sudah serius pagi-pagi begini? Ada rapat kah?” tanya Ara sambil melihat laptop-laptop itu.
Alaric mengangkat wajah, menutup layar laptopnya. “Kami sedang mempersiapkan apa yang kau minta tadi malam.”
Ara terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum tipis. “Oh, yang itu.”
Zavier meletakkan map hitam di hadapannya. “Kami sudah mengumpulkan data lengkap mengenai perusahaan keluarga Dinda dan Mentari. Juga kegiatan ilegal kecil yang keluarga mereka sembunyikan. Cukup menarik untuk dipublikasikan.”
Ara tertawa pendek. “Jangan publikasikan dulu. Tahan sampai siang.”
Arthur mencondongkan tubuh sedikit. “Ada rencana baru?”
“Bukan rencana besar,” jawab Ara santai. “Ara hanya ingin mereka merasakan ketakutan perlahan. Seharian penuh.”
Zion meletakkan cangkir kopinya. “Kalau begitu, kita mulai dengan tekanan finansial saja.”
Viren mengangguk. “Aku akan kirimkan dokumen pada tim legal.”
Kenzo yang sedari tadi hanya memandangi Ara kini berkata, “Kau sudah lebih baik?”
Ara mengangguk, lalu mencium pipi Kenzo singkat sebelum kembali ke pangkuan Sagara. “Ara baik, Dady. Ara cuma mau lihat mereka panik sebelum semuanya runtuh.”
“Keinginanmu perintah untuk kami,” gumam Alaric.
— SCENE BERPINDAH —
Keluarga Mentari
Rumah megah itu kini dipenuhi suara bentakan. Ayah Mentari menghempaskan beberapa dokumen di meja.
“Apa maksud semua ini?! Kenapa saham kita turun drastis pagi ini?!”
Salah satu staf berusaha menjelaskan dengan suara bergetar. “T-tuan… ada pihak besar yang menarik investasi mereka. Dan sepertinya… ada perusahaan raksasa yang dengan sengaja menekan pasar untuk memojokkan kita.”
“Apa?! Perusahaan mana?!”
“Kami… kami tidak tahu, Tuan. Identitasnya ditutupi.”
Sang ayah menghentak meja. “Hubungi Mentari! Minta dia ke rumah sekarang!”
Tanpa tahu bahwa sang anak sudah tiada.
Keluarga Dinda
Situasinya sama kacaunya. Sang ibu menangis panik sementara para penasihat hukum berdatangan satu per satu.
“Semua rekening perusahaan dibekukan. Kami sedang mencari penyebabnya,” ujar salah satu penasihat.
“Apa ada masalah dengan dokumen pajak kami?” tanya ibunya.
Wanita itu menggeleng. “Bukan. Ini… ini seperti ada pihak kuat yang menargetkan kita.”
Ayah Dinda memijit pelipis keras-keras. “Cari tahu siapa mereka! Sekarang!”
KAMU SEDANG MEMBACA
Alea Or Kanara
RandomAlea, siswi kelas XII dengan reputasi ceria dan polos, punya sisi lain yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Di balik senyumnya yang lembut, ia adalah gadis yang cerdik, lihai membaca keadaan, dan terbiasa bertahan hidup sendirian sejak kedua...
