— GELAP TOTAL —
AURELIA GRAND HALL
Jeritan bercampur langkah panik memenuhi ruangan. Para tamu berteriak, kursi terbalik, gelas pecah di lantai marmer.
Namun di tengah kekacauan itu
Ara tidak bergerak.
Sagara berdiri tepat di depannya, satu tangan melingkari pinggang Ara, tubuhnya jadi tameng hidup. Zion sudah menarik senjata, matanya menyala dingin. Arthur dan Alaric bergerak memutar formasi sempurna. Kenzo berdiri di sisi kiri Ara, tangannya tenang terlalu tenang.
Lalu lampu menyala kembali.
Bukan terang gala.
Melainkan lampu darurat merah.
Pintu-pintu aula tertutup otomatis.
KLIK. KLIK. KLIK.
Kunci pengaman aktif.
Tamu-tamu terdiam.
Mereka sadar satu hal mereka tidak lagi di pesta.
Suara tepuk tangan terdengar pelan.
Dari balkon lantai dua, beberapa sosok muncul. Jas gelap, wajah tenang, mata kosong.
Elias berdiri di depan mereka.
“Kalian selalu dramatis,” katanya santai.
Zavier muncul dari sisi panggung, jas hitamnya rapi, senyum tipis menghiasi wajahnya. “Dan kalian selalu terlalu percaya diri.”
Elias menatap Ara. “Ny. Kanara kau lebih kooperatif dari dugaanku.”
Ara memiringkan kepala. “Karena Ara memang mau bertemu kalian.”
Satu gerakan kecil Zion langsung mengokang senjata.
“Jangan,” kata Ara lembut.
Zion menahan diri, napasnya berat.
Elias mengangkat tangan. “Kami tidak datang untuk perang.”
Arthur tertawa kecil. “Datang ke kandang iblis tanpa niat perang?”
“Tidak malam ini,” jawab Elias. “Kami datang untuk menawarkan kesepakatan.”
Kenzo menyipitkan mata. “Mulai bicara. Cepat.”
Elias menuruni tangga perlahan. “Kami tahu satu hal kalian bisa menghancurkan kami.”
Hening.
“Tapi kami juga tahu,” lanjut Elias, “Bahwa dunia akan lebih mudah dikendalikan jika For Demons dan Black Council berdiri di sisi yang sama.”
Ara menatapnya lama. Lalu bertanya pelan
“Dan Ara di mana?”
Elias tersenyum. “Kau simbol. Wajah. Pengikat.”
Sagara bergerak satu langkah maju auranya meledak. “Kau ingin menjadikan istriku alat.”
Elias mengangkat bahu. “Kami ingin menjaganya.”
Itu kesalahan kedua.
Ara tertawa kecil.
“Menjaga?” ulangnya. “Kalian bahkan tidak tahu apa artinya.”
Ara melangkah maju.
Delapan pria itu langsung tegang namun tidak satu pun menghentikannya.
Ara berdiri di tengah aula, tepat di bawah lampu merah.
“Kalian datang,” ucapnya lembut,
“karena mengira Ara lemah.”
Elias diam.
“Kalian pikir,” lanjut Ara,
“kalau Ara disentuh mereka akan tunduk.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Alea Or Kanara
RandomAlea, siswi kelas XII dengan reputasi ceria dan polos, punya sisi lain yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Di balik senyumnya yang lembut, ia adalah gadis yang cerdik, lihai membaca keadaan, dan terbiasa bertahan hidup sendirian sejak kedua...
