MUSUH BARU

60 3 1
                                        

— KEESOKAN PAGI —
TAMAN KOTA AURELIA

Udara pagi terasa segar. Matahari bersinar lembut, burung-burung berkicau seolah dunia benar-benar damai.

Taman kota itu tampak seperti taman biasa bagi orang lain.
Namun tidak bagi mereka.

Ara duduk di bangku taman, kaki kecilnya berayun pelan. Di tangannya ada es krim vanilla, wajahnya terlihat santai bahkan bahagia.

Di sekelilingnya, tanpa disadari orang-orang, zona itu sudah menjadi wilayah terlarang.

Arthur berdiri di dekat gerbang taman, berpura-pura membaca ponsel. Zion duduk di bangku seberang, jaket menutup pistol di pinggangnya. Sagara berjalan perlahan di jalur setapak, tatapannya tak pernah jauh dari Ara. Allaric berdiri di balik pohon besar, mata tajam memindai setiap gerakan.
Kenzo dan Viren berada di mobil hitam tak jauh dari sana.
Zavier dan Lion tidak terlihat.

Ara menjilat es krimnya. “Tenang banget ya,” katanya polos.

Sagara tersenyum tipis. “Karena tidak ada yang berani datang.”

Kalimat itu terlalu cepat terbukti salah.

Dari ujung taman, seorang pria muncul. Tinggi, kurus, mengenakan jas abu-abu. Wajahnya tenang terlalu tenang. Langkahnya pelan tapi pasti, lurus ke arah Ara.

Arthur langsung mengangkat kepala.
Zion menyentuh senjatanya.

“Target mendekat,” gumam Zion pelan.

Ara masih belum menoleh.

Pria itu berhenti tiga meter dari bangku Ara.
Terlalu dekat.

“Ny. Kanara,” sapanya sopan.

Ara mengangkat wajahnya. Matanya jernih. Tidak takut.
“Hm?”

Sagara sudah melangkah maju, tapi Ara mengangkat tangan kecilnya.

“Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Ara mau dengar.”

Pria itu tersenyum tipis. “Nama saya Elias. Utusan dari pihak yang tertarik dengan kemampuan suami-suami anda.”

Arthur langsung menyipitkan mata. “Kalau kau datang untuk bisnis, salah tempat.”

Elias menggeleng. “Saya datang membawa peringatan.”

Ara memiringkan kepala. “Peringatan apa?”

Elias menatap Ara bukan dengan nafsu, bukan dengan meremehkan melainkan perhitungan.

“Apa yang kalian lakukan pada dua keluarga kemarin tidak luput dari perhatian.”

Zion maju selangkah. Aura membunuhnya bocor tanpa sengaja. “Kau mengancam?”

“Tidak,” jawab Elias tenang. “Aku mengingatkan.”

Alaric muncul dari balik pohon. “Pada siapa?”

Elias tersenyum kecil. “Pada Ny. Kanara.”

Sagara sudah berada tepat di depan Ara sekarang. “Bicara satu kata lagi dan kau tidak akan pulang.”

Untuk pertama kalinya, Elias melirik Sagara. “Kau benar-benar melindunginya seperti harta dunia.”

Ara menarik ujung jaket Sagara. “Biarkan Ara bicara.”

Sagara menegang tapi menurut.

Ara berdiri dari bangku taman. Hoodie besarnya membuatnya terlihat kecil namun matanya kini dingin.

“Kau bilang peringatan,” ucap Ara pelan. “Peringatan apa?”

Elias mendekat setengah langkah langsung terhenti karena Zion mengangkat senjata tanpa suara.

Alea Or KanaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang